JAKARTA - Nasi kucing menjadi salah satu makanan yang lekat dengan angkringan, terutama di Yogyakarta dan Surakarta. Sajian ini dikenal karena porsinya yang kecil, tetapi dapat dilengkapi berbagai lauk tradisional seperti teri, tempe, atau sambal. Di balik bentuknya yang sederhana, nasi kucing disebut memiliki kaitan dengan budaya kuliner Jawa dan sejarah angkringan yang membuatnya tetap bertahan hingga sekarang.
Nasi kucing biasanya disajikan dalam bentuk nasi bungkus dengan lauk sederhana di dalamnya. Ukurannya yang kecil membuat seseorang dapat menyantap lebih dari satu bungkus sesuai kebutuhan. Sajian tersebut juga menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pengalaman makan di angkringan.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Hilang, Apakah Hak Kepemilikan Ikut Hilang? Ini Penjelasannya
Nasi Kucing Jadi Menu Wajib di Angkringan
Di Yogyakarta, nasi kucing dapat ditemukan dalam beberapa variasi. Dalam tayangan tersebut disebutkan adanya nasi kucing teri, nasi kucing tempe, dan nasi kucing sambal.
Keberadaan nasi kucing dianggap penting bagi angkringan. Sarino, salah seorang penjual nasi kucing yang telah berjualan selama lebih dari tiga dekade, menyebut makanan tersebut sebagai sajian yang harus tersedia di angkringan.
Tidak hanya dijual oleh pedagang kaki lima, nasi kucing kini juga hadir di kedai dengan konsep yang lebih modern. Meski demikian, sejumlah lauk yang biasa ditemukan pada angkringan tradisional tetap dipertahankan.
Kehadiran lauk-lauk tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya kuliner masyarakat Jawa. Sajian yang sederhana tetap dipertahankan meski tempat menjualnya mengalami perubahan.
Berawal dari Budaya Kuliner Mataram
Nasi kucing juga memiliki cerita mengenai asal-usulnya. Dalam tayangan tersebut, makanan ini disebut mulai dikenal sejak era 1970-an dan dikaitkan dengan budaya Kerajaan Mataram.
Sebelum dikenal dengan nama nasi kucing, terdapat hidangan berupa nasi bungkus yang disebut sebagai pemberian raja kepada abdi dalem. Isinya berupa nasi dalam jumlah sedikit dengan lauk sederhana, termasuk olahan tempe.
Bentuk penyajian tersebut kemudian disebut memiliki kemiripan dengan nasi kucing yang dikenal sekarang. Nasi dalam jumlah sedikit dibungkus bersama lauk seperti oseng tempe atau sambal goreng tempe.
Namun, istilah nasi kucing disebut muncul kemudian di tengah masyarakat. Menurut Sumartoyo dalam tayangan tersebut, penyebutan nasi kucing lahir dari masyarakat sekitar satu dekade setelah angkringan mulai berkembang, khususnya di Yogyakarta.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Hilang, Apakah Hak Kepemilikan Ikut Hilang? Ini Penjelasannya
Ukuran Kecil Bukan Berarti Hanya untuk Sekali Makan
Salah satu ciri utama nasi kucing adalah porsinya yang kecil. Karena ukurannya tidak terlalu banyak, pembeli dapat menentukan sendiri jumlah nasi yang ingin dikonsumsi.
Konsep tersebut juga membuat pengunjung angkringan dapat mencicipi beberapa lauk berbeda dalam satu kali makan. Misalnya, pembeli dapat memilih nasi kucing teri, kemudian menambah nasi kucing tempe atau sambal.
Minuman tradisional juga kerap menjadi pendamping ketika menikmati nasi kucing di angkringan. Dalam tayangan tersebut, teh jahe menjadi salah satu minuman yang dipilih untuk menemani makanan.
Keberadaan nasi kucing akhirnya tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga pengalaman menikmati suasana angkringan. Sajian sederhana tersebut menjadi bagian dari budaya kuliner yang terus dibawa dari pedagang tradisional hingga kedai masa kini.
Dengan porsi kecil, lauk yang beragam, serta sejarah yang panjang, nasi kucing menunjukkan bagaimana makanan sederhana dapat bertahan dan berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan kaitannya dengan budaya kuliner Jawa.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : CNN Indonesia