BLITAR KAWENTAR - Fenomena pick me kini semakin akrab di kalangan anak muda, terutama di media sosial. Istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berusaha mencari perhatian atau pengakuan dengan menunjukkan dirinya berbeda agar disukai orang lain.
Fenomena pick me tidak hanya berkaitan dengan cara seseorang menampilkan diri. Menurut kreator konten, Dhafa, media sosial juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Konten yang dibuat influencer maupun figur publik dapat memengaruhi pola pikir, penampilan, hingga standar ideal anak muda.
“Menurutku, pick me tuh perilaku seseorang yang berusaha mencari perhatian atau pengakuan dengan menunjukkan dirinya berbeda agar disukai orang lain,” ujar Dhafa.
Baca Juga: 200 Kios Pasar Legi Dibongkar, Lantai II Disulap Jadi Hall untuk Gaet Gen Z
Ketika Validasi Media Sosial Menjadi Tujuan
Menurut Dhafa, jumlah likes, komentar, dan pengikut terkadang dapat membuat seseorang melakukan sesuatu hanya demi mendapatkan validasi. Kondisi tersebut membuat batas antara menjadi diri sendiri dan membangun citra di media sosial menjadi semakin tipis.
Seseorang dapat menunjukkan sisi tertentu dari dirinya di media sosial dengan harapan mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain. Dalam situasi tersebut, respons yang diterima dari pengguna media sosial bisa menjadi bagian dari pertimbangan seseorang ketika menampilkan dirinya.
Baca Juga: Fenomena Paylater di Kalangan Gen Z, Dianggap Praktis tetapi Bisa Membuat Belanja Lebih Sulit jaga
Fenomena pick me pun berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun citra di hadapan orang lain. Keinginan untuk mendapatkan respons positif dapat membuat seseorang menampilkan dirinya dengan cara yang dianggap berbeda atau menarik perhatian.
Tidak Semua Orang yang Berbeda Disebut Pick Me
Meski istilah pick me semakin sering digunakan, Dhafa mengingatkan agar istilah tersebut tidak digunakan secara berlebihan. Menurutnya, tidak semua orang yang berbeda atau percaya diri dapat disebut sebagai seseorang yang memiliki perilaku pick me.
Hal tersebut menjadi penting karena seseorang memiliki cara masing-masing dalam menampilkan dirinya. Perbedaan gaya, sikap, maupun kepercayaan diri tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang sedang mencari validasi dari orang lain.
Sebagai kreator konten, Dhafa juga berusaha membuat konten tanpa memberikan kesan bahwa pengikutnya harus mengikuti standar tertentu. Baginya, media sosial sebaiknya tidak menjadi tempat yang membuat seseorang merasa harus mengubah dirinya demi mendapatkan pengakuan.
Tetap Menjadi Diri Sendiri
Dhafa mengingatkan anak muda agar tidak mengubah diri sendiri hanya demi mendapatkan validasi media sosial. Menurutnya, seseorang sebaiknya berkembang karena memang ingin menjadi lebih baik, tetapi tetap menjadi dirinya sendiri.
Baca Juga: 6 Fakta Suzuki Ertiga Generasi Pertama, Nyaman dan Mewah tapi Bagasinya Sempit
“Jangan mengubah diri sendiri hanya demi validasi media sosial. Lebih baik berkembang karena memang ingin menjadi lebih baik dan tentu saja tetap jadi diri sendiri,” tuturnya.
Fenomena pick me pada akhirnya menjadi pengingat bagi anak muda untuk lebih bijak dalam melihat respons di media sosial. Likes, komentar, dan jumlah pengikut tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam menilai diri sendiri.
Di tengah perkembangan media sosial, menjadi diri sendiri tetap menjadi hal yang penting. Keinginan untuk berkembang dapat dilakukan tanpa harus mengubah diri hanya demi mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.
Editor : Regina Gavin Agata