JAKARTA - Harga cabai rawit September 2026 melonjak hingga mendekati Rp78.000 per kilogram. Kenaikan ini menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama rumah tangga dan pelaku usaha makanan yang bergantung pada cabai sebagai bahan utama masakan. Di tengah harga yang terus meningkat, pedagang kuliner harus memilih antara mempertahankan cita rasa atau menekan biaya produksi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata nasional harga cabai rawit pada pekan ketiga September 2026 mencapai Rp77.596,96 per kilogram. Angka tersebut naik 22,85 persen dibandingkan harga rata-rata pada Agustus 2026.
Kondisi serupa terlihat di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Pedagang menyebutkan bahwa ketersediaan cabai mulai berkurang sehingga harga jual ikut meningkat. Pasokan dari sejumlah daerah penghasil tidak lagi sebanyak sebelumnya, termasuk hasil panen dari Jawa Barat yang biasanya membantu menjaga ketersediaan cabai di pasaran.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit September 2026 Naik 22,85 Persen, Pedagang Warung Terpaksa Pangkas Untung
Harga Sejumlah Jenis Cabai Ikut Mengalami Kenaikan
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Beberapa jenis cabai lainnya juga dijual dengan harga yang cukup tinggi di pasar.
Cabai TM, misalnya, mengalami kenaikan dari Rp20.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Artinya, harga komoditas tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Sementara itu, harga cabai merah tercatat mencapai Rp50.278 per kilogram. Cabai keriting juga berada pada kisaran Rp58.429 per kilogram.
Perubahan harga tersebut membuat pembeli harus lebih cermat menentukan jenis dan jumlah cabai yang akan dibeli. Bagi pedagang, kenaikan harga berarti modal untuk menyediakan barang dagangan juga bertambah.
Berkurangnya pasokan menjadi persoalan yang dirasakan di tingkat pasar. Ketika barang yang tersedia semakin sedikit, pedagang menghadapi kesulitan mempertahankan harga jual seperti sebelumnya.
Musim Kemarau Menekan Ketersediaan Pasokan
Menurunnya pasokan cabai berkaitan dengan kondisi produksi di sejumlah daerah. Musim kemarau disebut ikut memengaruhi hasil produksi sehingga jumlah cabai yang tersedia untuk dipasarkan mengalami penurunan.
Pasokan dari Jawa Barat yang sebelumnya membantu memenuhi kebutuhan pasar juga mulai berkurang. Situasi ini membuat pedagang tidak bisa mengandalkan ketersediaan barang seperti pada periode sebelumnya.
Bagi komoditas pangan yang dibutuhkan setiap hari, perubahan produksi dan pasokan dapat berpengaruh langsung terhadap harga. Pedagang harus menyesuaikan pembelian dari pemasok, sedangkan konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi ketika berbelanja.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha makanan. Cabai bukan sekadar pelengkap bagi sejumlah jenis masakan, tetapi juga berperan penting dalam membentuk rasa yang diharapkan pelanggan.
Pedagang Kuliner Bertahan dengan Keuntungan Lebih Tipis
Kenaikan harga cabai membuat Rumsiah, seorang pedagang makanan, harus mengatur strategi agar usahanya tetap berjalan. Ia memilih mempertahankan penggunaan cabai dalam masakan demi menjaga cita rasa yang sudah dikenal pelanggan.
Alih-alih mengurangi jumlah cabai secara signifikan, Rumsiah menerima risiko keuntungan yang lebih kecil. Menurut pertimbangannya, mempertahankan rasa makanan menjadi hal penting agar pelanggan tidak kecewa dan tetap kembali membeli.
Pilihan tersebut memperlihatkan tekanan yang dihadapi pedagang makanan ketika harga bahan baku meningkat. Jika harga menu dinaikkan, pelanggan mungkin harus mengeluarkan uang lebih banyak. Namun, apabila penggunaan bahan baku dikurangi, kualitas rasa makanan berpotensi berubah.
Karena itu, mempertahankan harga jual sekaligus menjaga kualitas menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kuliner. Mereka perlu menyesuaikan pengeluaran tanpa mengorbankan hal-hal yang membuat pelanggan memilih produk mereka.
Baca Juga: Harga Emas Antam Rabu Ini Tetap Rp2,574 Juta, Galeri 24 Lebih Menarik dari Sisi Spread
Konsumen Mengatur Ulang Anggaran Belanja
Dampak kenaikan harga cabai juga dirasakan konsumen rumah tangga. Santi, salah seorang pembeli, memilih menyesuaikan jumlah cabai yang dibeli berdasarkan kemampuan anggaran.
Dengan uang Rp5.000, jumlah cabai yang diperoleh kini lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Situasi ini membuatnya harus mempertimbangkan kebutuhan dapur secara lebih cermat agar pengeluaran tetap terkendali.
Bagi konsumen, kenaikan harga bahan pangan mengharuskan adanya penyesuaian dalam kegiatan belanja sehari-hari. Mereka tetap membutuhkan cabai untuk memasak, tetapi jumlah pembelian perlu disesuaikan dengan uang yang tersedia.
Kenaikan harga cabai rawit pada September 2026 akhirnya memberikan dampak berantai. Pedagang menghadapi keterbatasan pasokan, pelaku usaha kuliner harus menjaga keseimbangan antara biaya dan kualitas, sedangkan konsumen menyesuaikan jumlah pembelian.
Dengan rata-rata nasional yang telah mencapai Rp77.596,96 per kilogram, perkembangan harga cabai menjadi perhatian bagi berbagai kelompok masyarakat. Berkurangnya pasokan dan kondisi musim kemarau menjadi faktor yang disoroti dalam situasi kenaikan harga tersebut.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : CNN Indonesia