BANDUNG – Persib Bandung kini bukan sekadar klub lokal, tapi sudah menjadi magnet global. Performa gemilang Persib di ajang FC Champions League 2 musim ini membuat nama Maung Bandung meledak hingga Belanda dan Timur Tengah. Bahkan, pemain bintang mereka, Tom H, baru-baru ini membangun rumah di Bandung, menegaskan komitmennya terhadap Indonesia.
Sorotan Internasional Bikin Nama Persib Meledak
Sebelumnya, kabar “uang Persib unlimited” sempat terdengar sebagai guyonan fans. Namun kini, omongan itu ternyata menjadi sorotan internasional. ESPN Belanda menayangkan pertandingan Persib secara utuh, bukan sekadar cuplikan, memperlihatkan stadion penuh sorak Bobotoh dari ruang tamu publik Eropa.
Selain itu, media Arab, Aljazirah, juga menyoroti aksi solidaritas suporter Persib yang mengibarkan bendera Palestina saat melawan Selangor FC.
Prestasi Persib di AFC Champions League 2
Musim ini, Persib resmi menjadi raja baru Asia Tenggara di ajang FC Champions League 2 setelah menumbangkan Selangor FC 2-0 di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Kemenangan ini membuat Persib nangkring di puncak klasemen grup G dengan 7 poin dari tiga pertandingan.
Akun resmi @theccl bahkan mengapresiasi performa tim lewat X (sebelumnya Twitter), menegaskan bahwa Persib bukan sekadar peserta, tetapi penantang serius di level Asia.
Pelatih Buayan Hodak disebut berhasil membangun tim yang stabil, solid, dan taktis. Kombinasi pemain lokal, naturalisasi, dan pemain asing membuat Persib tampil seimbang: disiplin di lini belakang, kreatif di tengah, dan mematikan di depan. Keberhasilan ini kemudian menarik perhatian internasional, menjadikan Persib simbol sepak bola Indonesia yang mendunia.
ESPN Belanda dan Media Arab Soroti Persib
Sorotan media Eropa dan Arab semakin memperkuat citra Persib. Di Belanda, ESPN menayangkan laga secara langsung, menarik perhatian publik dari Amsterdam hingga Rotterdam.
Analis sepak bola Tommy Deski menyebut, keputusan ESPN bukan kebetulan. Popularitas pemain seperti Tom H dan Eleno Reinders, serta meningkatnya minat terhadap sepak bola Indonesia, menjadi alasan utama.
Selain sorotan internasional, pemain Persib berdarah Indonesia-Belanda, Tom H, menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia dengan membangun rumah permanen di Bandung. “Saya merasa nyaman tinggal di Bandung, kota yang ramah dengan fans penuh semangat,” ujar Tom. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa sepak bola dapat menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap negeri ini.
Finansial Persib yang Membuat Lawan Gerah
Di sisi lain, perhatian lawan mulai tertuju pada kekuatan finansial Persib. Pelatih Persis Solo, Peter Deru, mengungkapkan bahwa anggaran Persib jauh lebih besar dibanding klub lain, terlihat dari performa mereka dua musim terakhir.
Persib bahkan sudah mengantongi bonus Rp6,4 miliar dari AFC, belum termasuk hak siar, sponsor global, dan market pool AFC. Inilah yang membuat julukan “uang Persib unlimited” terdengar nyata.
Bukan Sekadar Uang, Tapi Sistem Profesional
Namun, keunggulan Persib bukan hanya soal uang. Klub ini kaya strategi, sistem, dan budaya kerja. Infrastruktur modern, manajemen profesional, hingga atmosfer stadion yang selalu penuh menunjukkan profesionalisme yang jarang dimiliki klub Indonesia lain.
Pelatih asing pun menilai Persib memiliki fondasi mental dan finansial yang kuat, mampu mengubah uang menjadi prestasi, dan prestasi itu kembali menghasilkan uang, membentuk siklus kemenangan berkelanjutan.
Persib Jadi Identitas Sepak Bola Indonesia
Dari stadion GBLA yang selalu penuh, tayangan di televisi Belanda, hingga sorotan media Arab, Persib kini menjadi identitas baru sepak bola Indonesia di mata dunia. Nama Persib bukan lagi sekadar kemenangan di lapangan, tetapi juga simbol gaya hidup, semangat, dan nilai budaya.
Pelatih lawan boleh menyindir soal “uang unlimited”, tetapi citra, prestasi, dan kecintaan fans membuat Persib tak tergantikan.
Persib Bandung sudah melampaui status klub lokal. Dari Bandung, dunia kini mengenal wajah baru sepak bola Indonesia: profesional, berdampak global, dan kaya nilai kemanusiaan. Inilah saatnya Persib menjadi kebanggaan bukan hanya bagi Bobotoh, tetapi juga seluruh publik sepak bola Indonesia.
Editor : Novica Satya Nadianti