NASIONAL - 1 Oktober 2024 merupakan peringatan dua tahun Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa. Tragedi ini terjadi usai laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Kegiatan rutinan doa bersama di Stadion Kanjuruhan digelar untuk memperingati dua tahun Tragedi Kanjuruhan. Ratusan orang termasuk keluarga korban, supporter bola, hingga masyarakat umum memanjatkan doa untuk para korban.
Pemain asing asal Brazil, Julian Guevara turut mengikuti kegiatan doa bersama pada Selasa (1/10/2024) sore itu. Adapun perwakilan manajemen Arema FC dan representasi operator Liga Indonesia Baru (LIB) juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan doa bersama untuk para korban Tragedi Kanjuruhan itu berlangsung dengan khusyuk. Lantunan ayat suci Al-Quran dan pembacaan tahlil terdengar di kawasan Stadion Kanjuruhan.
Gerimis hujan mewarnai kegiatan doa bersama yang digelar di markas Singo Edan itu. Cuaca alam tersebut membuat suasana berduka semakin menyayat hati atas peristiwa kelam yang terjadi dua tahun silam itu.
Tragedi Kanjuruhan menjadi peristiwa kelam yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Indonesia. Tragedi tersebut membuat Indonesia berada di urutan kedua dalam daftar laga sepak bola yang menelan korban jiwa terbanyak di dunia.
Tragedi Kanjuruhan meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh komponen sepak bola Indonesia.
Dua tahun telah berlalu, keluarga korban masih merasakan sedih dan trauma atas kehilangan sosok yang mereka sayangi itu.
Meski begitu, keluarga korban terus memperjuangkan keadilan untuk para korban. Sebab terdapat kejanggalan dalam kasus Tragedi Kanjuruhan yang tidak sepenuhnya diungkap oleh pihak berwajib.
Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 2 Oktober 2022 itu bukan sekedar isu lokal saja, namun telah menjadi isu nasional dimana Presiden RI Joko Widodo merespon untuk menuntaskan kasus kelam di Stadion Kanjuruhan itu.
Tak sampai distu saja, tragedi yang menelan ratusan korban jiwa itu juga menjadi isu internasional. Federasi sepak bola internasional, FIFA ikut memberikan respon terhadap Tragedi Kanjuruhan.
Hingga saat ini, banyak masyarakat Indonesia yang masih menyuarakan aksi untuk mengusut tuntas insiden yang menewaskan ratusan korban jiwa itu sampai mendapatkan keadilan yang sebagaimana mestinya. (anindya)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila