BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Pada tanggal 11 November, dunia memperingati apa yang disebut sebagai Singles Day atau Hari Jomblo Sedunia.
Momen ini awalnya muncul di Tiongkok sebagai cara untuk merayakan para lajang, tetapi kemudian berkembang menjadi fenomena global yang tak hanya identik dengan kesendirian, melainkan juga kesempatan untuk memperlakukan diri dengan istimewa.
Awalnya, Singles Day hanya sebuah perayaan kecil-kecilan di kalangan mahasiswa di Tiongkok untuk menunjukkan kebanggaan sebagai seseorang yang belum menikah atau berpasangan.
Lambat laun, perayaan ini menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menjadi tradisi yang lebih luas.
Di Indonesia, Hari Jomblo Sedunia juga semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Perayaan ini menyebarkan semangat untuk mencintai diri sendiri dan berani menghadapi stigma tentang kesendirian.
Dengan menekankan pentingnya self-love, Singles Day mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada status hubungan, melainkan pada bagaimana kita menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan percaya diri.
Walaupun pada dasarnya dikenal sebagai Hari Jomblo, momen ini bukan hanya tentang kesendirian, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat merayakan dirinya tanpa merasa kurang lengkap karena tidak berpasangan.
Di tengah masyarakat yang kerap mengidealkan pasangan, Hari Jomblo hadir untuk menyuarakan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam mencintai dan merayakan diri sendiri.
Lebih dari itu, perayaan ini menjadi simbol pemberdayaan individu. Orang-orang, terutama yang lajang, diajak untuk menghargai diri, mengembangkan potensi, dan tetap menjalani hidup dengan penuh makna meski belum atau tidak memiliki pasangan. (*)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila