BLITAR - Dari kebiasaan berbagi angpao sebagai simbol keberuntungan hingga pantangan memakan bubur yang diyakini membawa kesialan, setiap ritual Imlek memiliki filosofi mendalam yang terus dijaga hingga kini.
Tahun baru Imlek tahun 2025 akan jautuh pada tanggal 29 Januari mendatang. Momen ini akan menjadi momen bagi keluarga Tionghoa untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan melestarikan tradisi turun-temurun.
Seperti halnya perayaan hari besar lainnya, Imlek juga memiliki serangkaian tradisi unik yang telah turun-temurun dilestarikan. Tradisi-tradisi ini menjadi bagian penting dalam merayakan Tahun Baru Cina dan tetap dijaga hingga kini.
Penasaran apa saja tradisi Imlek yang masih dilestarikan? Yuk, simak tradisi-tradisi Imlek yang wajib kamu ketahui!
1. Membersihkan dan Mendekorasi Rumah
Bersih-bersih rumah menjelang Imlek memiliki makna penting untuk menghilangkan keburukan dan kesialan, biasanya dilakukan sehari sebelum perayaan.
Namun, membersihkan rumah saat Imlek dipercaya bisa membuang rezeki. Selain itu, rumah didekorasi dengan ornamen khas Tionghoa untuk merayakan Imlek.
2. Warna Merah
Warna merah menjadi salah satu simbol khas yang selalu hadir dalam perayaan Imlek. Selain melambangkan kekuatan, kesejahteraan, dan keberuntungan, warna merah juga memiliki makna mendalam dalam tradisi Tionghoa.
Dikenal sebagai warna yang dapat mengusir Nian, makhluk buas yang dipercaya hidup di dasar laut atau gunung, warna merah dianggap mampu menghalau ancaman tersebut.
3. Bagi-Bagi Angpao
Berbagi angpao saat Imlek memiliki makna simbolis yang sangat penting dalam tradisi Tionghoa. Angpao, yang biasanya berisi uang, diberikan sebagai wujud harapan dan doa untuk kesejahteraan serta keberuntungan penerimanya di tahun yang baru.
Memberikan angpao juga dianggap sebagai tindakan berbagi keberuntungan, mempererat hubungan keluarga dan sahabat, serta menunjukkan rasa syukur atas berkat yang telah diterima.
4. Makan Malam Keluarga
Makan bersama keluarga saat Imlek memiliki makna yang dalam dalam tradisi Tionghoa. Kegiatan ini bukan hanya sekadar menyantap hidangan, tetapi juga sebagai bentuk kebersamaan dan mempererat ikatan antar anggota keluarga.
Makan bersama dianggap sebagai simbol rasa syukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun, serta harapan untuk keberuntungan dan kelimpahan di tahun yang baru.
5. Menyiapkan Kue Keranjang
Perayaan Imlek terasa kurang lengkap tanpa kehadiran sajian khas yang selalu menyertai perayaan tersebut. Di antara makanan yang wajib ada, kue keranjang dan jeruk menjadi simbol yang tak terpisahkan.
Kue keranjang, yang dalam bahasa Tionghoa disebut "Nian gao," secara fonetis mirip dengan kata yang berarti "naik ke tingkat yang lebih tinggi."
Hal ini menjadikan kue keranjang sebagai simbol kemakmuran, kemajuan, dan harapan untuk kesuksesan yang lebih besar di tahun yang baru. Selain itu, kue keranjang juga melambangkan panjang umur dalam budaya Tionghoa.
6. Dilarang makan Bubur
Dalam tradisi Imlek, ada pantangan untuk makan bubur pada hari perayaan. Bubur dianggap sebagai makanan yang kurang menguntungkan atau kemisikinan.
Oleh karena itu, pada perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa menghindari makan bubur, karena dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk atau melambangkan kehidupan yang kurang beruntung di tahun yang baru.
7. Petasan dan Kembang Api
Selain warna merah, petasan juga dipercaya memiliki peran penting dalam mengusir Nian saat Imlek. Suara petasan yang keras diyakini dapat menakut-nakuti makhluk buas tersebut, yang konon keluar pada musim semi atau saat perayaan Imlek.
Oleh karena itu, petasan sering kali dipakai untuk menciptakan suasana meriah sekaligus melindungi rumah dan keluarga dari gangguan Nian, serta membawa keberuntungan sepanjang tahun.
8. Pertunjukan Barongsai
Pertunjukan Barongsai adalah salah satu tradisi yang sangat khas dan meriah dalam perayaan Imlek. Barongsai, yang berupa tarian singa, biasanya dimainkan oleh dua penari yang mengenakan kostum singa berwarna cerah.
Tarian ini tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Barongsai dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan serta kesejahteraan bagi pemilik rumah atau tempat yang dipertunjukkan.
Musik yang mengiringi pertunjukan, dengan suara gendang yang keras, semakin menambah semangat dan keceriaan suasana Imlek. (*/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah