Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kasus Oplos BBM Pertamax, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ungkap Kondisi Distribusi di Blitar Raya

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 28 Februari 2025 | 17:00 WIB
TERDAMPAK: Penjualan BBM milik Pertamina turun karena kasus dugaan korupsi yang menjerat petingginya.
TERDAMPAK: Penjualan BBM milik Pertamina turun karena kasus dugaan korupsi yang menjerat petingginya.

 

BLITAR – Kasus dugaan korupsi yang dilakukan petinggi Pertamina membuat penjualan Pertamax turun. Sebab, sebagian masyarakat beralih bahan bakar minyak (BBM) produk lain. Penyaluran Pertamax di Blitar Raya ikut terdampak.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan, bahwa Pertamina mengalami penurunan realisasi di daerah Blitar Raya, yakni kurang lebih 10 persen untuk Kabupaten Blitar dan 15 persen untuk Kota Blitar.

“Perbandingan realisasi per 26 Februari dibandingkan rata-rata realisasi kondisi normal. Untuk saat ini, realisasi penyaluran Pertamax di Kabupaten Blitar mencapai 4.184 kiloliter (KL) dan Kota Blitar sebesar 914 KL,” ujarnya, Jumat (28/2/2025).

Dengan jumlah itu, penyaluran Pertamax dalam kondisi normal bisa mencapai 5 ribu KL di Kabupaten Blitar. Sedangkan, untuk Kota Blitar bisa mencapai 1.200 KL.

Sayangnya, kasus minor yang menimpa Pertamina berdampak pada penurunan penyaluran dan tentunya pelanggan Pertamax.

Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) menegaskan, tidak ada pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) Pertamax. Kualitas Pertamax dipastikan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah, yakni RON 92.

“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing, Pertalite memiliki RON 90 dan Pertamax memiliki RON 92. Bahkan spesifikasi yang disalurkan ke masyarakat dari awal penerimaan produk di terminal Pertamina telah sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari.

Dia melanjutkan, treatment yang dilakukan di terminal utama BBM adalah proses penambahan warna (dyes) sebagai pembeda produk agar mudah dikenali masyarakat. Selain itu, juga ada penambahan additive yang berfungsi untuk meningkatkan performance produk Pertamax.

"Jadi bukan pengoplosan atau mengubah RON. Maka dari itu, masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas Pertamax," jelas Heppy.

Menurut Heppy, Pertamina Patra Niaga melakukan prosedur dan pengawasan yang ketat dalam melaksanakan kegiatan quality control (QC). Distribusi BBM Pertamina juga diawasi oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Sementara itu, Nisa Nur Taufiqoh, warga Desa Pasirharjo, Kecamatan Talun mengaku, kecewa dan merasa dibohongi terkait kabar pengoplosan Pertamax. Sebab, dia sudah mengeluarkan uang lebih buat beli Pertamax.

“Apalagi Pertamax kabarnya bisa membuat awet mesin motor, ternyata isi bahan bakarnya oplosan, sebagai konsumen pasti kecewa. Hari ini (kemarin, Red) pertama kali isi BBM setelah kabar pengoplosan itu beredar, dan saya tidak beli Pertamax. Kalau sama aja ya mending beli Pertalite aja yang harganya lebih terjangkau,” pungkasnya. (jar/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Oplos BBM #blitar raya #pertamax #pertalite #Patra Niaga Jatimbalinus #Pertamina