BLITARKAWENTAR – Nama Kotagede tak bisa dipisahkan dari kebangkitan Mataram Islam sebagai kerajaan besar di Tanah Jawa.
Tapi di balik megahnya tata kota, masjid, alun-alun, dan pasar yang tertata apik di masa itu, terdapat sosok perempuan tangguh bernama Ratu Mas Waskita Jawi.
Sosok tersebut dikisahkan dan diangkat dalam buku sejarah: Kanjeng Ratu Mas Waskita Jawi.
Permaisuri dari Panembahan Senopati ini bukan sekadar pendamping raja. Ia adalah pemikir strategis, arsitek budaya, dan penggerak masyarakat yang turut merancang wajah ibu kota kerajaan.
Bersama Panembahan Senapati, ia membangun Kotagede dari wilayah belantara menjadi pusat kekuasaan yang terstruktur, modern untuk zamannya, dan sarat nilai spiritual.
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum, menuturkan bahwa Ratu Waskita Jawi memiliki andil besar dalam perencanaan ruang dan infrastruktur Kotagede.
Bahkan, ia berperan langsung dalam menentukan jarak antarwilayah, tata letak pasar, masjid, hingga pemukiman masyarakat.
“Jarak antar kota saat itu diatur sekitar 30 kilometer. Itu terinspirasi dari konsep Persia, karena 30 kilometer adalah jarak maksimal yang bisa ditempuh seekor kuda dalam sehari,” ungkap Dr. Purwadi.
“Sementara jarak antara pasar dan pemukiman diatur sekitar 5 kilometer, sesuai dengan rata-rata kemampuan berjalan kaki masyarakat saat itu.”
Pemikiran itu menunjukkan bahwa pembangunan di era Mataram tidak sembarangan. Ada riset, observasi, dan logika sosial yang diterapkan.
Ratu Waskita Jawi memadukan nilai-nilai lokal dengan pengetahuan dari luar untuk menciptakan kota yang tidak hanya layak huni, tapi juga sarat filosofi.
Salah satu warisan penting yang tak bisa dilepaskan dari peran Waskita Jawi adalah pembangunan Masjid Agung Kotagede.
Masjid itu tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat peradaban.
Di sana ia menempatkan bedug dan kentongan, yang berfungsi sebagai alat komunikasi massal – simbol keteraturan dan koordinasi di masa kerajaan.
Selain itu, ia juga membangun alun-alun dari marmer yang didatangkan dari Tulungagung.
Di masa itu, penggunaan marmer adalah simbol kemegahan sekaligus menunjukkan kemampuan logistik dan kerja sama antardaerah.
Alun-alun menjadi pusat kegiatan sosial dan politik, tempat rakyat dan raja bisa terhubung tanpa sekat.
“Material pembangunan diambil dari berbagai wilayah Nusantara,” tambah Dr. Purwadi. “Kayu jati dari Cepu, ukiran dari Jepara, dan marmer dari Tulungagung.
Itu menunjukkan adanya koneksi antarwilayah yang dikoordinasi dengan sangat baik.”
Tak hanya itu, konsep pembangunan yang diinisiasi oleh Ratu Waskita Jawi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan keharmonisan lingkungan.
Pemukiman dibangun dengan memperhatikan aliran air, arah angin, dan kondisi geografis.
Ia memadukan arsitektur tradisional Jawa dengan sentuhan Timur Tengah, menghasilkan gaya khas Kotagede yang sampai hari ini masih bisa dirasakan auranya.
Ratu Waskita Jawi menjadi contoh nyata bahwa perempuan di masa lalu bukan hanya pelengkap narasi sejarah.
Ia adalah pengambil keputusan, penggerak perubahan, sekaligus simbol kekuatan intelektual perempuan Jawa.
Ia membawa warna dalam pembangunan kerajaan, bukan dari balik layar, tetapi berdampingan dengan raja sebagai mitra sejajar.
Jejaknya kini mungkin tak banyak dibahas dalam buku sejarah sekolah, tapi warisannya masih bisa disaksikan di kawasan Kotagede.
Dari bentuk masjidnya, struktur jalan dan pasar, hingga nilai-nilai kebersamaan yang terus hidup dalam budaya masyarakatnya.
Kisah Ratu Waskita Jawi mengajarkan bahwa membangun negeri bukan hanya soal kekuatan senjata atau kekuasaan, melainkan visi, empati, dan keberanian untuk berpikir melampaui zamannya.
Bagi generasi muda, terutama kaum perempuan, sosoknya adalah pengingat bahwa kontribusi terhadap bangsa bisa datang dari mana saja – dari ruang diskusi, dari dapur pemikiran, hingga dari keberanian melangkah lebih jauh demi masa depan bersama.(ang).
Editor : Anggi Septian A.P.