BLITAR - Jauh sebelum menjadi atlet profesional, Mohammad Reza Pahlevi Isfahani hanyalah anak desa yang akrab dengan penolakan. Dulu, sekadar juara di Blitar pun susah. Namun, Reza kini menjadi harapan cabang olahraga (cabor) bulu tangkis Indonesia.
Tidak banyak warga Bumi Penataran yang tahu bahwa ada pemuda lokal yang menjadi atlet tim nasional hingga mengharumkan nama di kancah dunia olahraga internasional. Yakni, Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, yang kini sedang persiapan dalam turnamen Badminton World Federation (BWF) series mewakili Indonesia.
Dia mengawali langkah di klub Dasa Digdaya, salah satu klub lokal di Blitar. Saat masih kelas 1 SMP, dia memutuskan hijrah ke Jakarta. Berlatih lebih keras. Bertahan di tengah tekanan. Semuanya ia jalani dengan tekad membara.
“Banyak yang bilang saya nggak bakal bisa jadi pemain atau atlet bulu tangkis. Apalagi kalo berkarier hanya di Blitar. Kalau bisa dibilang, saya dulu susah banget, untuk sekadar juara di Blitar aja susah dan gak pernah,” kenangnya.
Perjumpaannya dengan pelatih Hendra Setiawan itu menjadi titik balik bagi Reza. Hendra, eks pemain bulu tangkis nasional yang pensiun tahun lalu, awalnya hanya membantu latihan. Lama-lama, Hendra jadi sosok penting dalam perjalanan Reza.
“Beliau masih belum bisa jauh dari lapangan, dan akhirnya saya tawarkan jadi pelatih. Beliau setuju,” kenang Reza.
Kini, dia bernaung di klub besar PB Jayaraya dan berlaga sebagai atlet profesional. Semua biaya turnamen ditanggung sponsor-sponsor swasta. Tantangannya banyak: mencari dana, mengatur waktu latihan, dan tetap fokus saat di lapangan.
“Kalau ada sponsor yang mau bantu, tentu saya sangat terbuka,” ujarnya dengan ramah.
Sejak kelas 1 SD, Reza sudah diarahkan orang tua untuk menjadi atlet. Bukan pilihan biasa. Keluarga punya ambisi besar agar salah satu anaknya harus bisa jadi atlet nasional. Dari hal itu, Reza memilih bulu tangkis sebagai jalan hidupnya.
Tantangan demi tantangan dia lewati. Mulai dari minimnya sparing hingga dana turnamen yang harus dicari sendiri. Tapi, semua itu dia nikmati. Tak ada keluhan. Yang ada hanya satu, mimpi besar dengan mengangkat derajat orang tua lewat bulu tangkis.
Baca Juga: Gawat, Penyaluran Rastrada Tahap 1 di Kota Blitar Kembali Jadi Sorotan setelah Dilaporkan LSM ke APH
“Ini tentang harapan dan kebanggaan. Saya ingin sukses di dunia bulu tangkis,” tegasnya.
Kini, Reza Pahlevi bukan lagi bocah yang diragukan. Dia adalah pejuang dari Kabupaten Blitar yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Dengan raket di tangan, dia membawa mimpi ribuan anak desa bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari kemenangan.
Bahkan, awal Juni lalu, Reza berhasil berdiri di atas panggung final Indonesia Open 2025. Tangannya tak menggenggam trofi, tapi senyumnya tetap mengembang. Meski belum berhasil menjadi juara, langkah Reza tak surut. Justru semakin mantap menatap masa depan di dunia tepok bulu.
Indonesia Open 2025 adalah bagian dari rangkaian tiga turnamen besar yang ia ikuti berturut-turut. Mulai dari Thailand Open, Singapore Open, hingga puncaknya di tanah air. Nyaris tanpa jeda. Bahkan sempat cedera pinggang di dua laga awal. Tapi di lapangan, Reza tetap tampil maksimal. Tak ada ruang untuk keluhan.
“Persiapan sebenarnya seperti biasa. Tapi memang sebelum Indonesia Open kemarin, ada tiga turnamen beruntun. Di Thailand dan Singapura, saya sempat cedera pinggang. Itu cukup mengganggu pergerakan,” tuturnya.
Kini, dia bersiap melakoni tur berikutnya: Japan Open (Super 750), China Open (Super 1000), dan Macau Open (Super 300). Targetnya jelas. Selain ingin menambah jam terbang, Reza mengincar satu panggung besar pada kejuaraan dunia Agustus nanti.
Baca Juga: Parkir Event Blitar Djadoel Dipatok Tarif Reguler, Segini Besarannya untuk Tiap Jenis Kendaraan
“Paling dekat, saya ingin tampil di kejuaraan dunia. Semoga bisa dapat medali di sana,” harap atlet asal Desa/Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, ini. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah