BLITAR - Tengah malam itu, suara tangis menyambut kedatangan peti jenazah di lingkungan Babadan, Kelurahan Babadan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.
Di dalamnya terbaring kaku Muhammad Aris Setiawan, 23, korban kapal tenggelam KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Sementara jasad Mujiono, ayahnya, masih belum ditemukan.
Kedatangan Aris dan ayahnya, Mujiono, tentu ditunggu oleh keluarganya di rumah.
Namun dengan membawa kondisi sehat dan senyuman hangat. Sayangnya, takdir berkata lain. Ayah dan anak itu harus terombang-ambing oleh ombak di Selat Bali usai kapal yang ditumpanginya mengalami kecelakaan hebat pada 2 Juli lalu.
Aris kembali ke kampung halaman namun tanpa sang ayah, Mujiono, yang hingga kini belum ditemukan.
“Jam 12 malam petinya sampai. Itu pun setelah kami menunggu sejak sore. Dari Banyuwangi, jenazah dibawa oleh paman kami untuk diantarkan pulang ke Blitar,” tutur Uswatun Hasanah, kakak kandung Aris, saat ditemui di rumah duka, Rabu (9/7/2025).
Dia melanjutkan bahwa menerima kabar duka ini dari pamannya pada Kamis (3/7/2025) subuh. Saat itu dia langsung tertunduk lesu, apalagi keduanya masih belum ditemukan.
Namun tidak berselang lama, Selasa lalu, Aris dapat ditemukan oleh petugas SAR meski dalam kondisi tidak bernyawa.
Aris dikenal sebagai pemuda yang santun, sederhana, dan bertanggung jawab. Selama ini, sia membantu sang ayah bekerja sebagai kenek truk ekspedisi.
Mereka rutin melintasi Jawa-Bali, mengantar barang-barang kebutuhan bangunan, mulai dari semen hingga keramik.
“Aris berangkat bareng bapaknya, seperti biasa. Ini pekerjaan mereka bertahun-tahun. Ayah sudah kerja ekspedisi sejak 2011 dan Aris baru ikut sekitar 2022, usai lulus SMA,” kenang Uswatun, matanya sembab menahan tangis.
Baca Juga: Pro Kontra Sound Horeg, Akhirnya MUI Duduk Bersama: Undang Pakar THT Hingga Mas Bre
Uswatun menyebut bahwa Aris adalah anak kedua dari dua bersaudara. Menurut sang kakak, rutinitas ekspedisi ke Bali sudah jadi bagian hidup keluarga mereka. Setiap tiga hari sekali, Aris dan Mujiono membawa barang ke Pulau Dewata.
Bahkan hanya pulang sebentar, sehari hingga dua hari saja. Namun kali ini, hanya satu yang kembali, dalam peti jenazah.
Pelayaran terakhir mereka menjadi tragedi pada Selasa (2/7/2025). Truk yang mereka tumpangi berada di atas KMP Tunu Pratama Jaya saat kapal itu mengalami kecelakaan di Selat Bali.
Aris berhasil ditemukan setelah beberapa hari pencarian. Sementara Mujiono, ayahnya, masih belum kembali.
“Terakhir ketemu Sabtu kemarin, sebelum kejadian itu. Dan sempat bercanda di rumah, Mas. Itu pun cuma sebentar, karena mereka biasanya hanya di rumah satu atau dua hari, lalu jalan lagi,” katanya lirih.
Tragedi ini tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga Aris, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik roda truk ekspedisi, ada pengorbanan dan risiko besar yang kerap tak terdengar.
Di rumah duka yang sederhana itu, duka menyatu dengan harapan agar perjalanan terakhir sang ayah segera berakhir dengan kepastian.
Suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga Aris, yang hingga Rabu siang silih berganti dikunjung oleh orang-orang takziah. Mulai dari kerabat korban hingga tetangga sekita rumah duka. Kini mereka masih menunggu keberadaan sang ayah.
“Saya cuma ingin Bapak juga segera ditemukan. Semoga segera bisa pulang, meski hanya jasadnya,” harap Uswatun. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah