BLITAR – Nama Bung Karno tak bisa dipisahkan dari kota Blitar. Di sinilah jasad sang proklamator Republik Indonesia dimakamkan, dan dari sinilah pula banyak jejak sejarahnya ditelusuri kembali.
Namun, di balik citra nasionalis yang tegas dan berani, terdapat satu sisi menarik dari Bung Karno yang jarang dibahas secara terbuka: hubungannya—baik langsung maupun tidak langsung—dengan organisasi spiritual dan kontroversial seperti Theosofi dan Freemason.
Persinggungan ini tidak serta-merta menunjukkan kedekatan ideologis. Sebaliknya, Bung Karno kemudian justru menjadi salah satu presiden yang secara tegas melarang Freemasonry di Indonesia.
Baca Juga: Main Layangan Jam 12 Malam: Kehidupan Tak Masuk Akal di Desa Gaib
Namun, benang merah antara spiritualitas, nasionalisme, dan ketegangan ideologis ini menarik untuk dikupas lebih dalam.
Ayah Bung Karno dan Jejak Theosofi
Dalam berbagai literatur sejarah, tercatat bahwa ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, merupakan seorang intelektual yang menganut ajaran Theosofi. Organisasi ini dikenal sebagai gerakan spiritual modern yang lahir di abad ke-19 dan menekankan pada pencarian kebenaran universal di balik semua agama dan tradisi kepercayaan.
Theosofi berkembang pesat di kalangan kaum elite dan terpelajar Hindia Belanda. Di dalamnya berkumpul orang-orang dari berbagai latar belakang agama—Islam, Kristen, Hindu, bahkan yang ateis—namun menyatu dalam semangat kebatinan dan spiritualitas yang mendalam.
Raden Soekemi dikenal sebagai pengajar dan pemikir bebas yang memadukan nilai-nilai Jawa dan spiritualisme Timur dengan pandangan rasional Eropa.
Baca Juga: Rekomendasi Cafe Bernuansa Tropis di Tengah Kota Blitar, Penasaran! Lokasinya Ada Disini
Ajaran-ajaran tersebut pun diserap Bung Karno sejak kecil, yang kemudian membentuk wawasan kebangsaan dan konsep ideologisnya di masa dewasa.
“Dalam Theosofi, yang utama bukan agama, tapi nilai spiritual. Ini yang mungkin secara tak langsung mempengaruhi pemikiran Bung Karno tentang Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa yang inklusif,” ujar seorang peneliti sejarah dari Blitar Heritage Society.
Freemason dan Ucapan Selamat atas Proklamasi
Menariknya, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, organisasi Freemason diketahui mengirimkan surat ucapan selamat kepada Bung Karno dan Bung Hatta.
Dalam arsip yang sempat dipublikasikan secara terbatas, Freemason menyampaikan apresiasi atas lahirnya sebuah negara merdeka yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Dalam surat itu, Freemason bahkan menyebut bahwa sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, sangat selaras dengan nilai-nilai spiritual yang dianut oleh organisasi tersebut.
Baca Juga: Terowongan Tebu: Pintu Gaib yang Membawa ke Dunia Misterius?
Ucapan itu tentu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana mungkin organisasi yang sering dituding sebagai simbol kolonialisme dan dominasi barat, justru memberikan selamat kepada negara yang baru saja lepas dari cengkeraman kekuasaan kolonial?
Namun, Bung Karno tidak serta-merta menerima atau menolak. Ia memilih diam dalam pernyataan resmi. Bisa jadi, sebagai seorang negarawan, ia menghargai semua bentuk pengakuan, tetapi tetap menyimpan sikap waspada terhadap potensi dominasi asing dalam bentuk baru.
Larangan Resmi Bung Karno terhadap Freemason
Waktu berjalan, dan di awal tahun 1960-an, Bung Karno mengambil langkah tegas. melarang organisasi Freemason dan Melalui Maklumat Presiden, ia secara resmi kelompok-kelompok sejenis beroperasi di Indonesia.
Alasannya jelas: Freemason dianggap sebagai bagian dari neo-kolonialisme dan imperialisme gaya baru.
Bung Karno yang pada masa itu tengah gencar menggalang kekuatan politik di antara negara-negara Non-Blok, merasa bahwa organisasi seperti Freemason bisa menjadi saluran masuk kepentingan asing yang membahayakan kedaulatan nasional.
Baca Juga: Tersesat di Alam Gaib, Diselamatkan Doa Ibu di Sepertiga Malam
Larangan itu diperkuat oleh situasi politik yang panas. Indonesia saat itu tengah dihadapkan pada tekanan dari berbagai pihak: blok barat, ancaman komunisme, ketegangan agama, hingga dinamika internal antara TNI dan PKI.
Dalam pidatonya, Bung Karno juga menyebut pentingnya menjaga nilai-nilai ke-Indonesiaan agar tidak direduksi oleh ideologi global yang bisa melemahkan semangat kebangsaan.
“Freemason saya larang karena saya ingin bangsa ini berdiri di atas kaki sendiri,” demikian kutipan yang kerap dinukil dari pernyataan politik Bung Karno Blitar dan Jejak Simbolisme Freemason
Baca Juga: Desa Gaib di Hutan Blitar: Warga Blitar Sudah Lama Mendengarnya
Kembali ke Blitar, hingga kini jejak organisasi Freemason masih menjadi bahan kajian menarik. Salah satunya adalah keberadaan simbol pentagram di kolam tua Perkebunan Karanganyar, nama-nama Belanda seperti W.
Smith dan J.J. Smith, serta penggunaan istilah Loji untuk bangunan utama peninggalan kolonial.
Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa Kebun Raya Blitar, yang selama ini dikenal sebagai Kebon Rojo, memiliki kaitan sejarah dengan J.J. Smith—tokoh penting Belanda yang terhubung dengan Ordo Singa Belanda, dan dalam beberapa sumber dikaitkan pula dengan Freemasonry.
Baca Juga: Apel Hilang, Ingatan Terputus: Efek Gaib yang Tak Terjelaskan
Apakah semua ini kebetulan semata, atau memang ada keterkaitan yang belum sepenuhnya terungkap?
Ideologi, Spiritualitas, dan Ketegasan
Bung Karno dikenal sebagai sosok yang terbuka terhadap berbagai pemikiran, namun sangat tegas dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Meski secara pribadi tumbuh dalam lingkungan spiritualis seperti Theosofi, namun ia mampu membedakan mana yang bersifat pribadi dan mana yang berdampak terhadap negara.
Freemason mungkin pernah mengirim ucapan selamat, namun ketika Bung Karno merasa organisasi tersebut mengancam kedaulatan, ia tak ragu mengambil keputusan tegas.
Baca Juga: Wali Kota Blitar Bilang Warga Sejahtera Lewat Bantuan Langsung Program Unggulan Ini
Hari ini, di tengah geliat wisata sejarah dan edukasi di Blitar, kisah Bung Karno dan jejak organisasi spiritual seperti Theosofi dan Freemason menjadi bagian dari mosaik sejarah Indonesia yang kompleks dan kaya warna.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa nasionalisme bukan hanya tentang cinta tanah air, tapi juga tentang keberanian untuk memilih jalan sendiri—di tengah tekanan, pengaruh, dan godaan global.
Editor : Anggi Septian A.P.