Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Judol = Bunuh Diri? 10 DM Per Hari Masuk: Curhat Terakhir Para Korban Sebelum Gantung Diri

Findika Pratama • Rabu, 16 Juli 2025 | 23:20 WIB

Judol = Bunuh Diri? 10 DM Per Hari Masuk: Curhat Terakhir Para Korban Sebelum Gantung Diri
Judol = Bunuh Diri? 10 DM Per Hari Masuk: Curhat Terakhir Para Korban Sebelum Gantung Diri

BLITAR – “Kalau HP saya mati, Mas, berarti saya sudah enggak ada…”
Begitulah pesan terakhir dari salah satu korban judi online yang sempat curhat lewat DM kepada Imam Budi, seorang edukator anti-judol yang aktif membagikan kisah dan penyuluhan melalui kanal sosial media @gtbodyshot. Kalimat itu bukan sekadar ancaman, tapi kenyataan tragis. Tiga minggu kemudian, korban ditemukan gantung diri di kosannya.

Dampak psikologis judi online bukan hanya soal kehilangan uang. Tapi juga kehilangan harapan hidup. Imam Budi mengaku menerima 10 pesan langsung (DM) setiap hari dari orang-orang yang berada di titik terendah, mempertimbangkan atau bahkan mencoba bunuh diri karena jeratan hutang dan rasa malu akibat judol.

“Banyak dari mereka yang sudah tidak punya siapa-siapa. Ditinggal keluarga, dijauhi teman, rumah dijual, mobil hilang. Bahkan ada yang tidur di masjid dan makan dari belas kasihan. Mental mereka benar-benar rontok,” ujar Imam dalam wawancara bersama kanal edukatif miliknya.

Baca Juga: Mengupas Jejak Sejarah Organisasi Silat Tertua di Indonesia

“Kalau Mas Imam Nggak Angkat, Saya Bunuh Diri”

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah saat Imam ditelepon puluhan kali sebelum salat Jumat. Seorang korban judi online terus-terusan menghubungi dengan pesan ancaman, “Kalau Mas Imam nggak angkat, saya lanjut bunuh diri.” Imam pun menjadwalkan Zoom setelah salat Jumat, namun saat sesi berlangsung, ternyata korban sudah mencoba menenggak cairan beracun di kamar kos.

“Alat-alatnya sudah siap, dia sempat pingsan jam 2 malam, siuman jam 10 pagi. Saat kami ngobrol, dia menangis terus. Tiga jam penuh,” kisah Imam. Sayangnya, tiga minggu kemudian, Imam melihat wajah yang sama di sebuah unggahan berita – korban ditemukan meninggal dunia karena gantung diri.

Dari kejadian itu, Imam menyadari bahwa edukasi bukan soal menyelamatkan semua orang, tapi setidaknya ada satu jiwa yang bisa diselamatkan dari ribuan yang mendengar.

Baca Juga: Tak Kantongi Izin Resmi, Satpol PP Kabupaten Blitar Segel Menara Telekomunikasi di Kademangan

Dari Gaya Hidup Instan ke Jurang Kehancuran

Mayoritas korban judi online berasal dari kalangan usia produktif 18–44 tahun. Mereka punya satu kesamaan: ingin kaya secara instan. Mulanya hanya coba-coba dengan modal kecil, tapi sifat candu yang ditimbulkan dari sistem permainan membuat mereka terjebak. Ketika kalah, mereka terus memasukkan uang dengan harapan bisa balik modal – yang tak pernah datang.

“Yang bikin parah itu dopamine dan adrenalin-nya. Mereka kayak ditipu harapan, PHP. Sekali menang, mereka nagih. Sekali kalah, mereka kejar terus. Akhirnya rugi puluhan juta, ratusan juta, bahkan miliaran,” terang Imam.

Yang tragis, saat semua habis, bukan hanya uang yang hilang. Tapi juga keluarga, kepercayaan, dan harga diri. Banyak yang akhirnya berpikir, mati adalah jalan keluar paling mudah.

Baca Juga: Puluhan Guru SD PPPK di Kabupaten Blitar Ajukan Cerai, Ada Fenomena Apa? Ini Jawaban Dispendik

Bukan Sekadar Ekonomi, Ini Krisis Kemanusiaan

Fenomena bunuh diri akibat judi online bukan cerita fiksi. Ini kenyataan kelam yang kini menghantui berbagai lapisan masyarakat, termasuk di Blitar. Imam menyebutkan bahwa pengusaha, ibu rumah tangga, bahkan lulusan S2 pun bisa terjerat candu judol.

“Saya punya data dan testimoni. Ada yang kehilangan delapan dump truk, nilainya 42 miliar. Ada juga yang jual rumah, mobil, bisnis. Dalam hitungan hari, semuanya habis,” jelasnya.

Ketika masyarakat hanya melihat judol sebagai "hiburan", banyak yang tidak sadar bahwa permainan ini didesain untuk merusak. Bahkan, para pemainnya disebut “sapi perah digital” oleh sindikat luar negeri yang menjalankan bisnis ini dengan target pasar Indonesia.

Baca Juga: Kisah Viral Tukang Rumput Menolak Uang Adipati, Ternyata Dia Sosok Ulama Besar! Ini Asal-usul Nama Salatiga

Blitar: Potensi Kampanye Anti-Judol dari Akar Rumput

Blitar sebagai kota budaya dan pendidikan punya peluang besar menjadi pelopor kampanye kemanusiaan anti-judol. Imam menyarankan agar isu ini tidak hanya ditangani pemerintah, tapi juga tokoh agama, sekolah, komunitas pemuda, hingga organisasi perempuan.

“Kita harus mulai dari empati. Jangan langsung nyalahin korban. Banyak dari mereka sebenarnya ingin keluar, tapi enggak tahu caranya. Mereka butuh ditolong, bukan dihakimi,” tegasnya.

Sekolah bisa menggelar penyuluhan literasi digital dan finansial. Masjid dan gereja bisa mengangkat tema ini dalam ceramah. Bahkan posyandu dan karang taruna pun bisa dilibatkan untuk menyampaikan bahaya candu digital.

Baca Juga: Pelajaran Berharga dari Kisah Istri Adipati Pandan Arang: Harta Bisa Hilang Sekejap! Ini Asal Usul Kota Salatiga

Negara Harus Turun Tangan: Bukan Sekadar Blokir

Meskipun pemerintah mengklaim sudah memblokir ribuan situs judi online, kenyataannya masih sangat mudah untuk mengakses situs baru. Imam menyebut, “Situs-situs itu sudah siap diblokir, jadi begitu satu ditutup, tiga lagi muncul dengan nama berbeda. Yang harus dibasmi bukan cuma domainnya, tapi server dan jaringan pemiliknya.”

Ia menambahkan, “Pemerintah harus serius. Ini bukan sekadar pelanggaran siber, tapi krisis jiwa. Kalau ada 10 korban bundir per hari yang sempat DM saya, berapa yang nggak sempat ngomong dan langsung melompat?”

Kita tidak bisa lagi menunggu perubahan dari atas. Gerakan masyarakat sipil, media lokal seperti Blitarkawentar, dan sosok-sosok seperti Imam Budi adalah garda depan untuk menyelamatkan generasi muda dari jebakan kematian yang bernama judi online.

Baca Juga: Puluhan Guru SD PPPK di Kabupaten Blitar Ajukan Cerai, Ada Fenomena Apa? Ini Jawaban Dispendik

Editor : Anggi Septian A.P.
#Judi onine #gantung diri #korban #Seorang