BLITAR – Judi online bukan sekadar permainan keberuntungan. Di balik tampilan permainan digital yang menggoda dan menjanjikan, tersimpan skema yang sudah dirancang agar pemain pasti kalah. Itulah pengakuan mengejutkan dari seorang eks bandar judi online yang diwawancarai secara eksklusif oleh Podcast Sembilan. Dalam kesaksiannya, pria yang disamarkan dengan nama Jo Budi menyebut bahwa judi online telah disetting secara sistematis untuk membuat pemain hanya menang di awal, lalu terus kalah setelahnya.
Pada awalnya, ujar Jo Budi, sistem dalam platform judi online memang dirancang agar pemain merasa menang. Biasanya, dua hingga tiga kali pertama, pemain akan mendapatkan kemenangan cukup besar. Tapi setelah itu, algoritma sistem langsung berubah: peluang menang ditutup rapat, dan pemain mulai terus mengalami kekalahan. “Kalau saya ditanya, apakah pemain bisa menang di judi online? Jawaban saya: tidak mungkin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jo mengungkapkan bahwa pada tahun pertama dirinya menjalankan bisnis judi online sebagai tier 3, skema pengaturan kemenangan belum terlalu ketat. Namun pada tahun kedua, update sistem mulai diterapkan. “Sudah bisa diatur siapa yang boleh menang, berapa lama mereka dikasih menang, dan kapan harus dikalahkan. Semuanya pakai data dari IP address, nomor rekening, sampai email dan nomor HP. Jadi kalau sudah masuk sistem, ya udah, pasti kalah,” katanya.
Kemenangan Hanya Pemancing
Menurut Jo Budi, strategi ini dikenal sebagai "pemancing psikologis". Pemain yang baru bergabung akan menang beberapa kali dengan jumlah nominal yang menarik. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan rasa percaya diri dan ketagihan. “Awalnya menang Rp300 ribu, lalu naik ke Rp1 juta. Nah, saat mulai berani setor lebih besar, sistem langsung ubah arah: mereka kalah terus,” paparnya.
Para pemain yang penasaran dan merasa “hampir menang” justru makin terjebak. Mereka mengira hanya butuh strategi atau keberuntungan sedikit lagi untuk menang besar, padahal sistem sudah dikunci untuk memastikan mereka rugi. Bahkan pemain kelas paus (big spender) yang setor hingga ratusan juta pun tetap akan mengalami kekalahan.
“Pernah ada klien saya yang punya hotel di Bali. Sekali deposit Rp1 miliar. Awalnya dia menang Rp300 juta. Tapi beberapa minggu kemudian, semua habis. Bahkan hotelnya dijual karena bangkrut. Itu contoh betapa kuatnya ilusi yang ditawarkan oleh sistem judi online,” ujar Jo.
Ada 3 Tier, Semua Terkoneksi
Dalam wawancara tersebut, Jo juga membongkar struktur organisasi dalam bisnis judi online. Ia menyebut ada tiga tier utama. Tier 1 adalah konsorsium pusat yang membawahi semua operasional, bahkan memiliki hubungan kuat dengan oknum aparat dan instansi. Tier 2 berperan sebagai pengelola franchise website. Sedangkan tier 3 seperti dirinya adalah operator harian yang menjalankan situs dan merekrut pemain.
“Sebagai tier 3, saya membeli website dari tier 2, lalu mengelolanya. Kami punya tim marketing dan customer service. Yang menarik, tim marketing ini pegang 10 HP dan menyebarkan ribuan pesan WhatsApp per hari untuk menarik pemain baru. Targetnya minimal 30 pemain per orang per hari,” terang Jo.
Setiap kali ada pemain setor uang dan kalah, sebagian uang disetorkan ke tier 2, lalu diteruskan ke konsorsium. “Bayangin aja, saya dapat omset Rp2 miliar per bulan, 40 persennya langsung setor ke atas,” ungkapnya.
Proteksi Sistemik, Sulit Terungkap
Jo juga membeberkan bahwa bisnis judi online mendapat perlindungan sistemik dari berbagai pihak. Mulai dari oknum aparat penegak hukum, lembaga negara, hingga instansi pengawas internet. Situs-situs yang ditutup, kata dia, hanyalah formalitas. Setelah itu, para pelaku disuruh membeli domain baru dan melanjutkan operasional.
“Dulu, waktu 2022, masih Kominfo. Ada oknum di Kominfo yang kasih tahu: ‘Besok ada razia, tutup dulu websitenya, nanti buka lagi pakai domain baru’. Hosting luar negeri cuma Rp200 ribu, gampang banget bikin baru,” ujarnya.
Bahkan, lanjut Jo, nama-nama pelaku besar judi online sudah masuk dalam daftar Cyber Polri. Tapi karena ada kerja sama diam-diam dengan konsorsium, mereka tak tersentuh hukum. “Nama saya juga terdaftar di sana. Tapi karena saya setor dan ikut aturan, aman-aman aja. Yang bandel baru ditangkap,” ungkapnya.
Harapan Tipu-Tipu
Di akhir wawancara, Jo mengingatkan masyarakat bahwa harapan menang dari judi online adalah ilusi. “Sistem sudah diatur. Pemain hanya dikasih rasa menang supaya ketagihan. Setelah itu? Mereka dimiskinkan pelan-pelan,” katanya.
Konten eksklusif dari Podcast Sembilan ini menambah daftar panjang pengungkapan sisi gelap industri judi online di Indonesia. Bukan sekadar permainan, tapi jaringan yang rapi, sistematis, dan merusak.
Editor : Anggi Septian A.P.