Blitar – Di tengah gempuran gaya hidup serba instan dan glamor, sosok Alex Zakaria justru memilih jalan yang berbeda. Pria asal Blitar ini dikenal karena kecintaannya pada motor tua, hidup sederhana, dan pandangan hidup yang membumi. Bagi Alex, kebahagiaan sejati tak diukur dari mobil mewah atau rumah megah, tapi dari tawa anak dan hati yang tenang.
Sehari-hari, Alex mengelola bisnis kecil bernama Galuh Classic, showroom motor klasik yang sudah dikenal pecinta otomotif di Blitar dan sekitarnya.
Meski omzet usahanya sudah ratusan juta rupiah, gaya hidup Alex tetap sederhana. Ia tetap mengendarai motor tua, makan di warung biasa, dan memilih menghabiskan waktu bersama anaknya di alun-alun ketimbang nongkrong di kafe mahal.
Baca Juga: Peluncuran Paspor Merah Putih Ditunda, Ini Alasan dan Fokus Baru Imigrasi
“Motor tua itu bukan soal gaya, tapi soal rasa,” ujar Alex. “Bawaannya tenang, nggak buru-buru, kaya hidup saya.”
Menolak Hidup Glamor: “Saya Enggak Ngoyo Punya Fortuner”
Dalam dunia bisnis, Alex bisa saja memilih hidup lebih mewah. Namun ia menolak untuk “ngoyo” sekadar mengejar status sosial. Ia justru bangga bisa hidup cukup dan menikmati hal-hal sederhana bersama anaknya.
“Banyak yang tanya, kok nggak ganti mobil aja? Nggak pingin punya Fortuner atau Pajero? Saya jawab jujur, enggak,” katanya sambil tersenyum. “Buat apa? Toh saya tetap bisa nganter anak sekolah, bisa kerja, bisa makan enak. Ngapain maksa diri?”
Pilihan ini bukan karena keterpaksaan, tapi kesadaran penuh. Alex percaya bahwa tekanan sosial membuat banyak orang lupa arti cukup. “Kalau hidup kita ukur pakai standar orang lain, ya enggak bakal ada habisnya,” ujarnya.
Bahagia dengan Hal Kecil: Ikan Bakar dan Alun-Alun
Bagi Alex, momen paling membahagiakan bukanlah saat transfer masuk atau jualan laku besar, melainkan waktu bersama sang anak. Setiap akhir pekan, ia rutin mengajak anaknya jalan-jalan pakai motor tua keliling kota. Tujuannya sederhana: alun-alun, beli es, atau makan ikan bakar di pinggir jalan.
“Makan ikan bakar di emperan itu rasanya beda. Anak saya senang, saya pun tenang. Itu cukup,” katanya.
Alex percaya, kebahagiaan bukan hal mewah yang harus dibeli mahal. Ia justru merasa bersyukur bisa menikmati hidup apa adanya, tanpa beban harus pamer ke siapa pun.
“Saya pernah hidup susah, jadi sekarang walau ada rejeki lebih, saya tetap eling. Yang penting bukan punya banyak, tapi punya cukup dan hati yang lapang,” imbuhnya.
Touring Pakai Motor Tua, Bukan Moge
Kecintaannya pada motor tua juga terlihat dari gaya touring-nya. Bila banyak orang menganggap touring harus dengan moge atau motor sport ber-cc besar, Alex justru memilih sebaliknya. Ia lebih suka riding dengan Honda CB tua atau motor-motor klasik lainnya.
“Kalau moge, ya cepat sampai. Tapi motor tua itu ngajak kita menikmati perjalanan. Jalan pelan, nyapa warga, mampir ngopi. Itu lebih asyik,” jelasnya.
Touring ala Alex bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin. Ia menikmati setiap tikungan, bau tanah, sapaan orang-orang desa. Dan tentu saja, seringkali anaknya ikut serta duduk di belakang.
Filosofi Hidup: Sukses Itu Bisa Membahagiakan Orang Lain
Lebih dari sekadar gaya hidup minimalis, pilihan hidup Alex mengandung filosofi yang dalam. Ia percaya bahwa makna sukses bukan diukur dari saldo rekening, tapi seberapa banyak ia bisa membahagiakan orang lain.
“Saya nggak mau hidup cuma buat diri sendiri. Kalau usaha saya bisa bantu orang kerja, bisa bahagiakan anak, itu sudah cukup buat saya,” katanya.
Alex kini mempekerjakan beberapa pemuda di bengkelnya. Ia tidak hanya mengajari mereka soal mesin, tapi juga soal hidup. Soal sabar, tanggung jawab, dan pentingnya jadi manusia yang bermanfaat.
“Saya bilang ke mereka, jangan ukur hidup dari motor yang kamu kendarai, tapi dari siapa yang duduk di belakangmu. Kalau kamu bisa bawa adik, istri, atau orang tua dengan bahagia, kamu sudah sukses,” tuturnya bijak.
Hidup Seadanya, Tapi Bermakna
Di era serba cepat dan kompetitif ini, kisah Alex adalah angin segar. Ia membuktikan bahwa motor tua, rumah biasa, dan gaya hidup sederhana tak menghalangi seseorang untuk hidup bahagia. Bahkan sebaliknya—justru dalam kesederhanaan itu, banyak nilai kehidupan yang bisa tumbuh.
“Saya enggak ingin anak saya kaya, saya ingin dia tahu arti cukup. Itu yang penting,” tutupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.