BLITAR - Denok Tri Wahyuni bersinar di dunia olahraga bela diri. Perempuan warga Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, ini berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 cabang olahraga (cabor) wushu dengan meraih medali emas.
Kemenangan itu dicapai saat sedang berjuang melawan sakit yang mendera tubuhnya.
“Saya awalnya di pencak silat, bahkan pernah ikut porprov juga di situ. Tapi mulai tertarik wushu karena coba-coba ikut pertandingan dan alhamdulillah selalu menang,” ujar Denok, mengawali percakapan, Minggu (20/7/2025).
Peralihan cabor bukan tanpa alasan. Setelah menjuarai Kejurprov Wushu 2024 di Kota Batu, Denok otomatis mendapatkan tiket ke Porprov 2025 tanpa perlu ikut seleksi.
Dia mengaku perjalanan ini tak lepas dari dukungan penuh orang tua, pelatih Agik Yulianto, serta para pengurus wushu Kota Blitar.
Namun, perjalanan emas itu bukan tanpa hambatan. Denok harus melawan rasa malas, cedera mental, dan bahkan fisik.
“Tantangan terberat itu rasa malas dan pikiran untuk menyerah. Tapi saya ingat perjuangan pelatih dan pengurus yang luar biasa. Saya yakin saya bisa,” ucapnya.
Porsi latihan Denok tergolong ketat. Sehari bisa latihan dua hingga tiga kali, terutama menjelang kompetisi besar.
Apalagi, saat persiapan porprov, Denok menjalani karantina mandiri agar bisa lebih fokus menjalani program latihan intensif.
Semua itu dia jalani meski kuliah di kelas karyawan yang membuatnya harus pandai membagi waktu.
“Saya kuliah malam, jadi pagi sampai sore bisa fokus latihan. Untungnya bisa terjadwal dengan baik,” katanya.
Momen paling berkesan tentu saat dirinya berlaga di Porprov 2025. Saat itu, kondisi fisiknya sedang tidak prima. Dia sempat tiga kali ke dokter dan dua kali ke rumah sakit.
“Saya sempat hanya menargetkan pulang bawa medali, tidak muluk-muluk emas. Tapi ternyata Allah kasih emas. Itu luar biasa,” ungkapnya, terharu.
Dalam pertandingan, Denok melalui babak penyisihan ketat di Kota Batu, lalu lanjut ke Probolinggo, semifinal melawan Kota Kediri, dan final menghadapi tuan rumah, Kota Malang. “Senang dan bangga bisa capai target pribadi,” ujarnya.
Meski kini sukses di wushu, Denok tak melupakan masa-masa di cabor silat. Dia mengaku banyak nilai dasar bela diri yang membentuk karakternya sejak awal.
Kini, dengan modal mental kuat, teknik mumpuni, dan dukungan luar biasa dari tim, dia bertekad melangkah ke level lebih tinggi.
“Saya ingin menjuarai Pomnas, PON, ASEAN Games, bahkan kejuaraan dunia. Itu target saya ke depan,” tekadnya.
Baginya, doa orang tua dan bimbingan pelatih adalah kekuatan utama yang tak tergantikan. “Tanpa restu orang tua dan pelatih, mustahil kita bisa berdiri di podium juara,” tuturnya. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah