BLITAR — Fenomena Sound Horek kini tak hanya mengguncang jalanan desa, tapi juga meledak di dunia maya. Dari hiburan rakyat sederhana di pelosok, sound horek menjelma menjadi sensasi nasional—viral di berbagai platform media sosial. Tak tanggung-tanggung, suaranya bahkan disebut-sebut setara dengan deru mesin pesawat jet.
Muncul sejak sekitar tahun 2014, sound horek awalnya hanya dikenal dalam lingkup lokal di Jawa Timur, terutama untuk memeriahkan acara-acara kampung seperti hajatan, karnaval, dan perayaan hari besar. Namun berkat era digital, dentuman khasnya menyebar ke seluruh penjuru negeri, menimbulkan rasa penasaran sekaligus perdebatan di ruang publik.
Melalui TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts, video-video warga yang berjoget di depan truk sound system raksasa lengkap dengan lampu strobo dan dentuman subwoofer kini jadi hiburan massal. Tak sedikit yang menyebut sound horek sebagai simbol "hiburan murah yang mewah", sekaligus bentuk ekspresi masyarakat akar rumput yang tak tersentuh panggung glamor.
Baca Juga: Dari Luka Jadi Gerakan: Andrea Nesia Ajak 58 Pelajar dari Seluruh Indonesia Perangi Bullying
Viral karena Berbeda, Dicintai karena Dekat
Salah satu pengusaha penyedia sound horek, David Steven Laksamana, mengungkap bahwa istilah "horek" sendiri berasal dari suara dentuman yang menggetarkan udara—dalam bahasa Jawa disebut "ngorek" atau bergetar. “Yang memberi nama justru masyarakat sendiri, bukan kami,” jelasnya dalam acara Catatan Demokrasi tvOne.
David menjelaskan bahwa sejak tahun 2014, tren sound system dengan ukuran besar ini mulai berkembang. Awalnya volume masih standar, namun semakin lama permintaan masyarakat meningkat, hingga sistem audio yang digunakan pun semakin bertenaga. “Dulu panggungnya kecil, sekarang bisa bawa truk Fuso, lighting profesional, bahkan operatornya pakai headset seperti konser,” tambahnya.
Bagi masyarakat desa, sound horek adalah alternatif hiburan yang mampu menghadirkan sensasi luar biasa tanpa perlu ke konser atau kafe mahal. Mereka rela patungan mulai dari RT hingga desa demi mendatangkan truk sound ini. “Hiburan rakyat itu ya ini. Enggak semua bisa ke bioskop. Kalau sound horek datang, semua keluar rumah,” ujar salah satu warga Kediri.
Baca Juga: Realisasi DBHCHT Kota Blitar Semester I Sudah Mencapai Rp 11 Miliar, Berikut Peruntukkannya
Hiburan Murah dengan Teknologi Maksimal
Meski berasal dari desa, sound horek justru menampilkan kombinasi teknologi audio yang tidak main-main. Beberapa sistem disebut mampu menghasilkan suara hingga 135 desibel dari jarak 10 meter—angka yang disebut setara dengan suara mesin jet di bandara. Tidak heran jika kaca rumah bisa bergetar, bahkan genteng berjatuhan di beberapa kasus.
Namun justru efek itulah yang menjadi daya tarik. Di media sosial, video-video “kaca pecah karena sound horek” menjadi konten yang lucu sekaligus menegangkan. “Orang kota bingung, tapi orang desa bahagia. Itu hiburan kami,” celetuk seorang penonton dalam komentar viral.
Tak hanya suara, operator sound horek kini juga menambahkan lighting show, visual LED, bahkan MC dan DJ lokal untuk melengkapi pengalaman acara. Total biaya sewa per event bisa mencapai Rp35 juta—dalam dua hari penuh dengan durasi belasan jam nonstop.
Baca Juga: BEN Carnival Tahun Ini Tetap Digelar meski Efisiensi Anggaran, Pemkot Blitar Lakukan Format Baru
Ironi Sosial: Dihujat, Tapi Dinikmati
Namun viralitas sound horek tidak datang tanpa kritik. Banyak pihak menyebutnya sebagai polusi suara, mengganggu warga lanjut usia dan bayi, bahkan berpotensi merusak bangunan sekitar. MUI Jawa Timur bahkan telah mengeluarkan fatwa haram terhadap aktivitas ini karena dianggap lebih banyak mudharatnya.
Namun yang menarik, suara penolakan justru lebih banyak datang dari luar komunitas pengguna. “Yang komplain itu justru orang kota yang nggak ngerti suasana desa. Mereka melihat dari sosial media, bukan realita,” ujar David.
Bagi warga yang terbiasa, dentuman sound horek justru jadi bagian dari budaya dan kenangan. Bahkan ada warga yang mengubah nama jualan dari “Tahu Mercon” menjadi “Tahu Horek” karena dagangannya laris usai tampil dalam acara tersebut.
Baca Juga: Polisi Akhirnya Ungkap Motif Aksi Perundungan Terhadap Siswa SMPN 3 Doko Blitar
Dari Tradisi ke Tren Nasional
Fenomena sound horek membuktikan bahwa hiburan rakyat tak selamanya tertinggal. Dengan sentuhan teknologi dan viralitas media sosial, budaya lokal bisa menembus batas-batas ruang, bahkan menyaingi hiburan mainstream.
Bahkan beberapa netizen menyuarakan agar kata “horek” masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai istilah baru yang menggambarkan getaran suara keras. “Kalau ‘riweuh’ dan ‘resék’ bisa masuk, kenapa ‘horek’ enggak?” tulis salah satu komentar yang disambut ribuan likes.
Penutup: Antara Dentuman dan Identitas
Baca Juga: Kurikulum Bermasalah, Bagaimana Kondisi Pendidikan Indonesia Saat Ini?
Perdebatan soal sound horek kemungkinan akan terus berlanjut, antara yang mendukung sebagai budaya dan hiburan, dengan yang menolak karena dampak negatifnya. Namun satu hal yang pasti: sound horek sudah menjadi bagian dari identitas hiburan desa, dan kini menjadi wajah baru budaya populer yang lahir dari pinggiran.
Bagi sebagian orang, sound horek mungkin hanya kebisingan. Tapi bagi mereka yang tumbuh bersama dentumannya, itu adalah suara kegembiraan, suara kampung halaman, suara rakyat kecil yang tak ingin dilupakan.
Editor : Anggi Septian A.P.