Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cuan Menggelegar! Sekali Manggung Sound Horek Bisa Kantongi 70 Juta

Findika Pratama • Kamis, 24 Juli 2025 | 01:30 WIB

Cuan Menggelegar! Sekali Manggung Sound Horek Bisa Kantongi 70 Juta
Cuan Menggelegar! Sekali Manggung Sound Horek Bisa Kantongi 70 Juta

 

BLITAR – Fenomena Sound Horek atau yang populer disebut Sound Horeg terus menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Selain karena dentuman bass yang memekakkan telinga, hal ini juga karena nilai ekonomis yang tersimpan di baliknya. Tak banyak yang tahu, sekali manggung, satu paket Sound Horek bisa mengantongi cuan hingga Rp70 juta dalam satu malam!

Sound Horek, yang awalnya dikenal sebagai hiburan rakyat di acara desa seperti hajatan, tasyakuran, atau bersih desa, kini menjelma menjadi industri hiburan alternatif yang menjanjikan. Daya tarik utamanya bukan hanya dari sisi hiburan akustik dan lampu warna-warni, tapi dari skala bisnisnya yang diam-diam mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.

“Sekali tampil, itu biayanya bisa puluhan juta. Yang main bisa sampai belasan tim, bawa sound sendiri-sendiri, belum lagi operator, talent DJ, MC, hingga kru setting lighting,” ungkap Adi, seorang operator sound system di Tulungagung, seperti dikutip dari tvOneNews. Tak heran jika banyak anak muda desa kini berbondong-bondong membangun usaha sound system untuk ikut mencicipi gurihnya cuan dari event desa.

Baca Juga: ⁠Aktivis Sapuan Blitar Ikut Soroti Kasus Perundungan Melibatkan Siswa di SMPN Doko Blitar

Dari Hiburan Kampung ke Industri Mandiri

Istilah "Sound Horek" atau "Horeg" merujuk pada instalasi audio besar-besaran, dengan kualitas suara bass ekstrem dan tampilan panggung yang meriah. Di beberapa daerah seperti Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Banyuwangi, hiburan ini menjadi andalan saat pesta rakyat. Musik remix dangdut atau EDM lokal menggelegar dari sore hingga malam hari, bahkan hingga dini hari.

Yang menarik, tak jarang sistem pembiayaan hiburan ini dilakukan secara patungan antarwarga. Misalnya, warga satu RT atau RW sepakat menyewa 8–12 tim sound sekaligus. Masing-masing warga bisa iuran mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per rumah. “Kalau dikumpulin bisa dapat puluhan juta. Uangnya buat bayar semua vendor sound dan konsumsi,” kata Sastro, warga Pagerwojo yang aktif sebagai panitia bersih desa tiap tahun.

Harga sewa satu tim sound bisa berkisar antara Rp3 juta hingga Rp10 juta, tergantung kekuatan speaker, lighting, panjang durasi, dan paket talent yang disediakan. Beberapa vendor bahkan menawarkan paket ‘full team’ dengan harga Rp50–70 juta termasuk DJ, MC, efek asap, hingga visual LED layar besar.

Baca Juga: Dari Luka Jadi Gerakan: Andrea Nesia Ajak 58 Pelajar dari Seluruh Indonesia Perangi Bullying

Rebutan Jadwal Manggung dan Lahan Bisnis

Tak hanya menyuguhkan hiburan, Sound Horek juga menjadi ajang unjuk gigi antartim sound system. Mereka berlomba-lomba memamerkan kekuatan watt terbesar, clarity suara terbaik, serta desain lighting paling memukau. Bahkan, beberapa vendor memiliki jadwal manggung yang penuh hingga tiga bulan ke depan.

Hal ini membuka lahan bisnis baru, mulai dari rental sound, jasa dekorasi panggung, penyewaan genset, hingga katering untuk para kru dan tamu. Usaha-usaha kecil di sekitar lokasi juga ikut kecipratan berkah: penjual makanan, parkir, hingga penyedia tenda dan kursi.

“Sekarang anak muda kalau punya uang nggak mikir beli mobil, tapi investasi di sound system. Itu lebih cepat balik modal, apalagi kalau timnya sudah terkenal,” ungkap Rendi, pengusaha sound asal Blitar. Ia mengaku bisa mengantongi untung bersih hingga Rp20 juta per event, tergantung besarnya kontrak.

Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar

Kritik dan Fatwa Haram Tak Menyurutkan Niat

Meski semakin populer, Sound Horek juga tak luput dari kritik. Selain dianggap menimbulkan polusi suara, hiburan ini juga sempat mendapat sorotan dari MUI Jawa Timur yang menyatakan bahwa praktik ini bisa masuk dalam kategori maksiat bila mengganggu lingkungan atau disertai aktivitas yang bertentangan dengan syariat.

Namun demikian, respons masyarakat desa tetap beragam. Banyak yang menganggap bahwa Sound Horek masih dalam koridor wajar, apalagi jika sudah melalui ijin RT/RW dan tidak lewat dari tengah malam.

“Asal tidak ugal-ugalan dan ada batas waktu, ya nggak masalah. Kan ini tradisi baru yang sudah jadi bagian dari hiburan rakyat,” ujar Kepala Dusun di Kecamatan Gandusari.

Baca Juga: Kurikulum Bermasalah, Bagaimana Kondisi Pendidikan Indonesia Saat Ini?

Penutup: Sound Horek, Simbol Gegap Gempita Ekonomi Desa

Fenomena Sound Horek bukan hanya tentang dentuman bass dan pesta lampu, tetapi juga tentang bagaimana kreativitas desa berkembang dalam bentuk usaha kolektif. Dari sewa alat hingga distribusi hasil ekonomi, semua berjalan dalam semangat gotong royong.

Meski pro-kontra tetap ada, satu hal yang pasti: Sound Horek telah membuka jalan baru bagi ekonomi kreatif akar rumput, memberi ruang bagi anak-anak muda desa untuk berekspresi dan berwirausaha.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound horeg