Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Hobi Sejak Usia 9 Tahun, Kini Renatadi Jadi Fashion Designer Blitar yang Tembus Pasar Kanada

Findika Pratama • Kamis, 24 Juli 2025 | 18:00 WIB

Dari Hobi Sejak Usia 9 Tahun, Kini Renatadi Jadi Fashion Designer Blitar yang Tembus Pasar Kanada
Dari Hobi Sejak Usia 9 Tahun, Kini Renatadi Jadi Fashion Designer Blitar yang Tembus Pasar Kanada

BLITAR – Dunia fashion Blitar tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Seorang perempuan muda, Renata Dwi atau akrab disapa Renatadi, sukses mengibarkan namanya sebagai fashion designer Blitar yang karya-karyanya telah menembus pasar nasional hingga internasional. Tak tanggung-tanggung, Kebaya Blitar hasil rancangannya bahkan pernah dipesan oleh pelanggan dari Kanada.

Kiprah Renatadi bermula dari kecintaannya pada dunia fashion sejak usia 9 tahun. Ketertarikan itulah yang kemudian membawanya menempuh pendidikan di SMK 3 Blitar jurusan Tata Busana dan melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan jurusan Fashion Design. Kini, ia dikenal sebagai pemilik Rumah Kebaya Renatadi sekaligus pendiri Renatadi Fashion Design School (RFDS) di Kota Blitar.

“Waktu kecil saya suka sekali menggambar desain baju, terutama kebaya. Saya sudah membayangkan bisa punya butik sendiri. Alhamdulillah sekarang impian itu perlahan terwujud,” ujar Renatadi kepada Radar Blitar TV saat ditemui di workshop-nya di Jalan Pamenang No. 18, Kota Blitar. Dengan sentuhan modern yang tetap mengedepankan nilai-nilai budaya, Kebaya Blitar versi Renatadi tampil beda, anggun, dan berkelas.

Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg, 15 Ribu Pelaku Usaha Sound System di Jatim Terancam Mati Suri

Tumbuh dari Nol: Usaha Dibangun Sejak Kuliah

Rumah Kebaya Renatadi mulai dirintis sejak Renata masih duduk di bangku kuliah tahun 2019. Ia memulai dengan modal nekat dan kemampuan desain yang ia asah sejak sekolah. Usaha ini resmi berdiri pada awal 2020, tepat saat ia memutuskan kembali ke Blitar. Tak disangka, di tengah persaingan ketat dan keterbatasan bahan di daerah, Renatadi mampu menarik hati para pelanggan, bahkan hingga mancanegara.

“Pelanggan pertama dari luar negeri itu dari Kanada. Kami berkomunikasi lewat online, pengambilan ukuran dilakukan via video call, dan alhamdulillah bajunya dikirim ke sana sesuai ekspektasi,” cerita Renatadi dengan bangga.

Meski begitu, tantangan tidak sedikit. Ia mengakui salah satu kendala terbesarnya adalah sulitnya mencari bahan di Blitar. Banyak manik-manik dan material khusus yang harus dipesan dari luar kota, membuat waktu pengerjaan lebih lama. Namun ia tak menyerah. “Justru karena keterbatasan itu, kami belajar mengatur ritme kerja dan menjaga kualitas,” tambahnya.

Baca Juga: Bukan Cuma Pelaku, Keluarga pun Jadi Korban Judi Online

UMKM Muda, Kecil Tapi Berdampak Besar

Awalnya hanya dibantu dua orang karyawan, kini Rumah Kebaya Renatadi berkembang dan memiliki 10 tenaga kerja tetap. Dalam sebulan, timnya mampu menyelesaikan sekitar 25–38 potong busana khusus seperti kebaya pernikahan, kebaya wisuda, dan busana pesta lainnya yang semuanya dikerjakan secara detail dan personal.

“Setiap busana itu spesial. Kami konsultasi langsung dengan pelanggan untuk desain dan warna, lalu proses pengukuran, pemotongan, menjahit hingga finishing. Harganya mulai dari Rp350 ribu, tergantung bahan dan permintaan detail,” ungkapnya.

Tak hanya sekadar bisnis, Renata juga peduli pada pendidikan dan regenerasi perancang busana muda. Ia pun membuka sekolah fashion bernama Renatadi Fashion Design School (RFDS) yang terdiri dari tiga kelas: Fashion Design Pocket & Teen untuk anak-anak dan remaja, Fashion Design & Pattern Making untuk tingkat profesional, serta Sewing Class bagi yang ingin fokus belajar menjahit.

Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg Picu Polemik: MUI Jatim Dituding Gegabah, Gus-Gus Melawan

Menghadirkan Fashion Show untuk Anak Didik

Sebagai bentuk apresiasi dan pameran karya siswa-siswinya, Renata belum lama ini mengadakan fashion show di Auditorium Bung Karno, Blitar. Acara ini menjadi panggung bagi para pelajar muda untuk menunjukkan desain mereka, mulai dari konsep sketsa hingga busana siap pakai yang diperagakan oleh model lokal.

“Tujuannya biar anak-anak punya pengalaman langsung. Mereka tahu bagaimana rasanya di balik panggung, bertemu model, dan bekerja dengan penjahit. Ini pengalaman berharga yang tidak semua orang dapat,” ucapnya penuh semangat.

Acara ini juga menarik perhatian masyarakat, sekaligus mempertegas komitmen RFDS dalam mencetak generasi baru fashion designer Blitar yang kreatif dan siap bersaing di luar daerah, bahkan luar negeri.

Baca Juga: Hanya di Indonesia! Sound Horeg Disebut Bisa Cegah Perang Suku, “Timur Tengah Kurang Dentuman!”

Bertahan di Tengah Tantangan, Fokus pada Nilai dan Kualitas

Renatadi mengaku pernah mengalami titik jenuh dan hampir menyerah, apalagi saat menghadapi pelanggan yang kurang menghargai keterampilan desainer lokal. Ia pun kerap mendapat tawaran harga yang tidak masuk akal.

“Kadang ada yang nawar harga murah banget, padahal kerjaan kita detail, dan saya juga sekolah untuk ini. Akhirnya kami edukasi mereka, bahwa karya kreatif itu juga harus dihargai,” jelasnya.

Namun, ia bersyukur karena sebagian besar pelanggannya justru loyal dan mengapresiasi karyanya. Bahkan, banyak yang tanpa diminta ikut membantu mempromosikan melalui media sosial mereka. “Itu jadi penyemangat. Kalau saya berhenti, bagaimana nasib tim saya? Banyak yang menggantungkan hidup di sini,” ucapnya dengan mata berkaca.

Baca Juga: Anak Nangis, Kakek Trauma, Pasien Kumat: Dentuman Sound Horeg Dianggap Teror Warga!

Harapan: Kebaya Blitar Bisa Jadi Identitas Elegan yang Timeless

Menurut Renatadi, kunci suksesnya adalah konsistensi menjaga kualitas dan ketepatan waktu. Ia ingin menciptakan desain yang simpel, elegan, dan timeless—tidak sekadar mengikuti tren sesaat.

“Kami ingin kebaya yang kami buat bisa dipakai di berbagai acara, tidak lekang oleh waktu, dan tetap menunjukkan keanggunan budaya,” tuturnya.

Kini, nama Kebaya Blitar tidak hanya dikenal di kota sendiri, tetapi mulai dilirik dari luar daerah hingga luar negeri. Harapan Renatadi sederhana: semoga usaha ini bisa terus berkembang, menjadi inspirasi UMKM muda lainnya, dan membawa nama Blitar harum lewat dunia fashion.

Baca Juga: Anak Nangis, Kakek Trauma, Pasien Kumat: Dentuman Sound Horeg Dianggap Teror Warga!

Editor : Anggi Septian A.P.
#hari kebaya nasional