BLITAR – Siapa sangka, Kebaya Blitar yang dirancang tangan kreatif anak muda lokal sudah menembus pasar Jakarta, Yogyakarta, hingga Kanada. Namun di balik kesuksesan itu, tersimpan ironi: sebagian besar bahan utama dan aksesoris kebaya tersebut justru harus dibeli dari luar kota.
Fenomena ini dialami langsung oleh Renata Dwi, pemilik Rumah Kebaya Renatadi di Jalan Pamenang, Kota Blitar. Dalam wawancaranya bersama Radar Blitar TV, Renata mengungkapkan bahwa keterbatasan stok bahan di Blitar menjadi permasalahan utama yang memperlambat proses produksi, terutama saat pesanan membludak atau klien meminta detail manik-manik tertentu.
“Untuk kain dasar kadang masih bisa dicari di Blitar, tapi untuk manik-manik, bordir khusus, dan bahan hias lain, kami hampir selalu harus beli bahan di luar kota. Padahal permintaan pelanggan makin detail dan kadang harus cepat jadi,” ujarnya.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg, 15 Ribu Pelaku Usaha Sound System di Jatim Terancam Mati Suri
Produk Lokal Kelas Dunia, Tapi Dukungan Bahan Masih Minim
Renatadi memulai usaha Rumah Kebaya sejak 2020, tak lama setelah menyelesaikan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar jurusan Fashion Design. Sejak awal, ia fokus mengembangkan Kebaya Blitar dengan sentuhan desain yang simpel, elegan, namun tetap kental nuansa budaya Indonesia.
Pelanggan pun berdatangan tak hanya dari Blitar dan sekitarnya, tetapi juga dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Jogja. Bahkan, ia pernah menyelesaikan pesanan dari pelanggan asal Kanada yang memesan via online.
Namun, tantangan muncul ketika pesanan tinggi, sementara pasokan bahan sulit diperoleh di daerah. “Kalau manik-manik atau jenis kain tertentu harus dipesan dulu dari Jogja, Bandung, atau Jakarta. Ini membuat waktu produksi jadi molor,” kata Renata.
Baca Juga: Anak Nangis, Kakek Trauma, Pasien Kumat: Dentuman Sound Horeg Dianggap Teror Warga!
Menunda Produksi, Mengancam UMKM Lokal
Proses pembuatan kebaya di rumah produksi Renatadi melibatkan 10 karyawan. Dalam satu bulan, mereka menyelesaikan sekitar 25–38 kebaya, mulai dari kebaya pernikahan, kebaya wisuda, hingga busana pesta. Tapi ketika bahan datang terlambat, otomatis timeline produksi terganggu.
“Kalau satu bahan aja telat datang, semua proses ikut tersendat. Padahal setiap potong kebaya butuh perhatian khusus, mulai dari pengukuran, desain, pemotongan, jahit hingga finishing,” jelasnya.
Permasalahan bahan ini juga berdampak pada biaya operasional dan produktivitas. Ongkos kirim, waktu tunggu, hingga risiko barang tidak sesuai pesanan jadi beban tambahan bagi pelaku UMKM seperti dirinya.
Baca Juga: Kinerja Optimal Dalam Pengelolaan APBN, Bukti Nyata Akuntabilitas Keuangan Negara
Blitar Perlu Dukungan Ekosistem Industri Kreatif
Kasus yang dialami Renatadi menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap penguatan ekosistem industri kreatif di daerah. Ketika produk lokal sudah mampu bersaing hingga internasional, seharusnya dukungan berupa pasokan bahan juga bisa tersedia lebih mudah di kota asal.
“Harusnya ada distributor bahan-bahan fashion atau toko khusus yang lengkap di Blitar. Biar UMKM kayak kami enggak perlu lari ke kota lain,” harap Renata.
Ia menambahkan bahwa keberadaan penyedia bahan lokal tidak hanya mempersingkat waktu produksi, tapi juga mendukung perputaran ekonomi dalam kota. “Banyak UMKM fashion di Blitar. Kalau semua beli bahan keluar kota, berarti duitnya ikut keluar juga,” imbuhnya.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg Bisa Dibatasi, Bukan Dilarang: Ini Saran dari Komunitas Sound Sendiri
Tetap Bertahan dengan Strategi Adaptif
Meski menghadapi hambatan pasokan, Renatadi memilih untuk tidak menyerah. Ia menyiasati masalah ini dengan melakukan stok bahan yang umum dipakai dan menjalin kerja sama dengan supplier tetap dari luar kota. Untuk pesanan spesial, ia menyampaikan estimasi waktu lebih panjang ke pelanggan.
“Salah satu kuncinya komunikasi. Kalau pelanggan tahu prosesnya transparan, mereka biasanya lebih paham,” ucap Renata.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas dan ketepatan waktu meski harus menghadapi keterbatasan. “Biar orang luar tahu, bahwa dari Blitar pun kita bisa hasilkan karya berkualitas dan enggak kalah dengan desainer ibukota,” tambahnya.
Baca Juga: Mbah Tejo Sentil Keadilan Sosial: Kalau Sound Horek Diharamkan, Ceramah Pakai TOA Gimana?
Optimisme Meski Minim Fasilitas
Renatadi tak ingin terlalu larut dalam keterbatasan. Ia terus menyebarkan semangat pada para desainer muda di Blitar melalui sekolah mode miliknya, Renatadi Fashion Design School (RFDS). Sekolah ini memiliki tiga kelas: kelas anak dan remaja, kelas profesional desain dan pembuatan pola, serta kelas menjahit.
Melalui sekolah ini, Renata ingin menciptakan lebih banyak fashion designer lokal yang tak hanya kreatif, tapi juga adaptif dan tangguh menghadapi realitas industri daerah. Ia berharap ke depan Blitar bisa menjadi pusat fashion yang mandiri, dengan infrastruktur dan dukungan industri yang memadai.
Baca Juga: Dari Desa ke Dunia Maya: Sound Horek Jadi Simbol Hiburan Murah dan Gegap Gempita
Harapan: Dari Beli Bahan Luar Kota Jadi Produksi Bahan Sendiri
“Saya bermimpi suatu saat nanti Blitar punya pabrik kecil atau setidaknya sentra bahan fashion sendiri. Jadi kami enggak cuma beli bahan, tapi bisa produksi juga. Itu baru namanya kemandirian,” ungkapnya.
Dengan pencapaian Kebaya Blitar yang sudah melangkah hingga luar negeri, harapan itu bukanlah mimpi kosong. Sebab, apa yang dibutuhkan UMKM seperti Renatadi bukan sekadar pujian, tapi kebijakan nyata yang mempermudah kerja mereka.
“Kalau bahan tersedia di sini, kami bisa lebih cepat kerja, lebih hemat, dan bisa buka lapangan kerja lebih luas lagi. Itu yang kami harapkan,” pungkasnya.
Baca Juga: Kinerja Optimal Dalam Pengelolaan APBN, Bukti Nyata Akuntabilitas Keuangan Negara
Editor : Anggi Septian A.P.