Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tak Bisa Jahit, Tapi Jadi Bos Butik: Renatadi Rekrut Ahli dan Buka Sekolah Fashion di Blitar

Findika Pratama • Kamis, 24 Juli 2025 | 19:30 WIB

Tak Bisa Jahit, Tapi Jadi Bos Butik: Renatadi Rekrut Ahli dan Buka Sekolah Fashion di Blitar
Tak Bisa Jahit, Tapi Jadi Bos Butik: Renatadi Rekrut Ahli dan Buka Sekolah Fashion di Blitar

BLITAR – Tidak bisa menjahit bukan halangan untuk memimpin industri mode. Renatadi, perempuan muda asal Kota Blitar, membuktikan bahwa semangat dan kemampuan manajerial bisa membawa seseorang menjadi Bos Butik Blitar yang sukses. Ia bahkan berhasil mendirikan Sekolah Fashion RFDS (Renatadi Fashion Design School) sebagai bentuk komitmennya membangun ekosistem kreatif di kampung halamannya.

Uniknya, Renatadi mengakui sejak awal dirinya sama sekali tidak bisa menjahit. Namun dengan kepekaan bisnis dan minat pada dunia fesyen, ia merekrut para penjahit profesional dan desainer lokal untuk membantunya mewujudkan visi. Konsep kolaboratif ini bukan hanya mendorong pertumbuhan usahanya, tapi juga membuka banyak lapangan pekerjaan di daerah.

Kini, butik milik Renatadi menjadi salah satu destinasi langganan para pencinta mode lokal, termasuk kalangan pengantin dan pecinta kebaya kontemporer. Sekolah Fashion RFDS miliknya pun mulai menarik perhatian generasi muda yang ingin mendalami dunia desain tanpa harus merantau ke kota besar. Inilah bentuk nyata dari bisnis tanpa bisa jahit, tetapi tetap mampu menjadi penggerak industri.

Baca Juga: Wagub Jatim Emil Usulkan Blitar Jadi Percontohan Event Sound Horeg

Menjahit Kolaborasi, Bukan Jarum

Kisah inspiratif ini bermula dari keresahan Renatadi terhadap stigma bahwa pelaku bisnis mode harus bisa menjahit atau menggambar. “Saya justru percaya, dalam dunia usaha kita bisa menjadi manager yang mempertemukan orang-orang hebat,” jelas Renatadi kepada Radar Blitar TV.

Berbekal keberanian dan jejaring, ia merekrut tenaga ahli yang memang sudah lama berkecimpung di dunia garmen dan fashion. Timnya kini terdiri dari desainer, penjahit senior, hingga pelatih fashion yang telah malang melintang di berbagai kota. Butiknya pun berkembang pesat dengan konsep custom-made yang unik, karena mengutamakan cerita dan karakter tiap pelanggan.

“Klien tidak hanya beli pakaian, tapi juga mendapatkan pengalaman bercerita lewat desain. Itu yang bikin butik ini beda,” tambahnya.

Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg, 15 Ribu Pelaku Usaha Sound System di Jatim Terancam Mati Suri

Sekolah Mode sebagai Warisan Gagasan

Melihat tingginya antusiasme masyarakat terhadap fashion lokal, Renatadi pun meluncurkan Sekolah Fashion RFDS. Ia menyadari, potensi generasi muda di Blitar sangat besar, namun masih minim fasilitas dan edukasi formal terkait fashion design.

Sekolah ini tak hanya mengajarkan teknis menjahit atau menggambar, tapi juga membekali peserta dengan keterampilan branding, digital marketing, hingga komunikasi dengan klien.

“Saya ingin sekolah ini jadi tempat lahirnya fashionpreneur lokal. Mereka yang nggak cuma bisa jahit, tapi juga punya visi,” ujar Renatadi penuh semangat.

Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg Picu Polemik: MUI Jatim Dituding Gegabah, Gus-Gus Melawan

Perempuan, Bisnis, dan Keberanian Memulai

Langkah Renatadi menjadi angin segar bagi perempuan muda di Blitar. Ia membuktikan bahwa keterbatasan teknis bukan penghalang untuk memulai bisnis besar. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk memulai, mengelola orang-orang ahli, dan terus belajar hal baru.

Di tengah pesatnya dunia digital, butik dan sekolah miliknya terus aktif di media sosial dan marketplace.

Ia pun mulai merambah penjualan daring dan kolaborasi dengan influencer lokal. “Di era sekarang, yang penting bukan cuma bisa menjahit, tapi bisa berpikir besar,” katanya.

Baca Juga: Anak Nangis, Kakek Trauma, Pasien Kumat: Dentuman Sound Horeg Dianggap Teror Warga!

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Usaha

Lebih dari sekadar membuka butik, Renatadi memiliki mimpi besar membangun ekosistem fashion Blitar yang mandiri dan berdaya saing. Ia berharap ke depan Blitar bisa menjadi kota mode yang mampu menelurkan karya kreatif berkualitas, tanpa harus bergantung dari luar daerah.

Dengan semangat kolaborasi, dia mengajak pemuda-pemudi lokal untuk tidak takut memulai, meski tidak menguasai semua aspek teknis.

“Kalau kamu punya ide, cari teman untuk mewujudkannya. Kita nggak harus jago semua hal. Tapi kita bisa jadi jago dalam melihat potensi orang lain,” pungkasnya.

Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg Bisa Dibatasi, Bukan Dilarang: Ini Saran dari Komunitas Sound Sendiri

Editor : Anggi Septian A.P.
#hari kebaya nasional