BLITAR – Kepanikan melanda warga Poso, Sulawesi Tengah, setelah gempa berkekuatan 5,7 Skala Richter (SR) mengguncang kawasan tersebut, Senin malam (28/7). Getaran yang terjadi sekitar pukul 21.36 WIB ini terasa kuat, membuat barang-barang di rak supermarket berjatuhan dan memicu kepanikan warga yang langsung berhamburan keluar rumah.
Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer, tepat di zona patahan aktif Sesar Poso. “Ini adalah gempa utama berkekuatan 5,7 SR, disusul dengan 12 kali gempa susulan. Guncangan terbesar mencapai 4,9 SR,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, kepada KompasTV Lampung.
BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami, tetapi dampaknya langsung terlihat di lapangan. Sejumlah video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan rak-rak supermarket tumbang, barang dagangan berserakan di lantai, dan warga berlari keluar toko dengan wajah panik.
Baca Juga: Akulturasi Kepercayaan Jawa dengan Spiritualitas Hindu-Buddha di Indonesia
Daryono menjelaskan, guncangan terasa kuat karena pusat gempa berada sangat dekat dengan pemukiman. “Percepatan getaran cukup tinggi, sehingga barang-barang di rak toko bisa jatuh berserakan,” ujarnya. Ia menambahkan, fenomena ini wajar terjadi dalam guncangan gempa darat, terutama jika disertai gelombang geser (shear wave) yang membuat benda-benda bergoyang keras.
Saksi mata menceritakan situasi mencekam di menit-menit pertama setelah gempa. “Kami sedang belanja, tiba-tiba rak bergetar keras lalu roboh. Semua orang menjerit dan berlari ke luar,” kata Aminah, seorang warga yang ditemui di luar sebuah minimarket di Poso.
Tidak hanya di supermarket, sejumlah rumah dan toko juga mengalami kerusakan ringan. Dinding tembok retak, genteng rumah bergeser, dan barang-barang di dapur berjatuhan. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa maupun luka-luka, namun kepanikan warga masih terasa.
Baca Juga: Kapan Mobil City Tour Kota Blitar Beroperasi?, Ini Jawaban Disbudpar
BMKG mencatat total 12 gempa susulan setelah guncangan utama. Hal ini membuat warga memilih mengungsi sementara ke lapangan terbuka, halaman masjid, dan beberapa titik aman di desa mereka. “Kami takut tidur di rumah, jadi semua orang membawa tikar ke lapangan,” kata Rahman, warga Desa Tentena.
Kepanikan semakin diperparah oleh padamnya listrik di beberapa wilayah Poso. Kondisi gelap gulita membuat warga sulit mengevakuasi barang-barang penting dari rumah. Komunikasi telepon dan internet juga terganggu, menyulitkan warga untuk mendapatkan informasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD setempat sudah berkoordinasi dengan PLN dan pihak terkait untuk memulihkan pasokan listrik serta melakukan pendataan kerusakan. “Kami terus mengumpulkan laporan dari lapangan, tapi situasinya memang menantang karena mati listrik dan gangguan komunikasi,” kata Daryono.
Baca Juga: Kepedulian PNM Tanam Ribuan Toga dan Tebar Benih Lele di Blitar
Meski kepanikan meluas, BMKG meminta masyarakat tetap tenang namun waspada. “Kalau ada gempa susulan, segera keluar rumah dan menjauh dari bangunan yang berpotensi roboh,” imbau Daryono. Ia juga mengingatkan warga untuk selalu memeriksa informasi resmi dari BMKG atau pemerintah daerah agar tidak terjebak kabar bohong.
Hingga Selasa pagi, aktivitas di beberapa supermarket terhenti karena proses pembersihan barang-barang yang berserakan. Warga berharap pemulihan bisa berlangsung cepat agar aktivitas ekonomi kembali normal. “Semoga tidak ada gempa lagi malam ini. Kami semua masih trauma,” ujar Aminah dengan nada cemas.
Dengan barang-barang supermarket yang berjatuhan dan warga yang panik, gempa Poso menjadi pengingat nyata tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana di wilayah rawan patahan aktif seperti Sulawesi Tengah.