BLITAR – Setelah gempa berkekuatan 5,7 Skala Richter (SR) mengguncang Poso, Sulawesi Tengah, Senin malam (28/7), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan penting soal mitigasi. Warga disarankan membangun rumah dari material kayu atau bambu, bukan tembok rapuh tanpa struktur penguat.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan, gempa utama dengan kedalaman 10 kilometer itu diikuti 12 kali gempa susulan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa wilayah Poso berada di zona sesar aktif. “Kita sudah lama menyosialisasikan bahwa rumah dari tembok tanpa tulangan itu berbahaya saat gempa,” kata Daryono kepada KompasTV Lampung.
Ia menegaskan, rekomendasi penggunaan kayu dan bambu bukan sekadar tradisi, tetapi solusi praktis. “Material kayu dan bambu lebih fleksibel. Saat ada guncangan gempa, bangunan tidak mudah runtuh sehingga risiko korban jiwa lebih kecil,” jelasnya.
Baca Juga: Akulturasi Kepercayaan Jawa dengan Spiritualitas Hindu-Buddha di Indonesia
BMKG menemukan banyak rumah di Poso menggunakan tembok polos tanpa rangka besi, yang membuatnya rentan roboh. “Jika masyarakat belum mampu membangun rumah beton dengan struktur kuat, alternatifnya adalah membangun rumah kayu atau bambu dengan desain modern dan menarik,” ujarnya.
Pasca-gempa yang memadamkan listrik dan mengganggu komunikasi di Poso, kerusakan ringan mulai terlihat. Beberapa dinding rumah retak, genteng bergeser, hingga barang-barang di dalam rumah berjatuhan. Beruntung, hingga kini tidak ada laporan korban jiwa. Namun, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan, terutama soal infrastruktur tempat tinggal.
“Di zona sesar aktif, rumah bukan hanya tempat berteduh, tapi benteng pertama keselamatan. Kalau bangunan rapuh, guncangan kecil saja bisa berakibat fatal,” kata Daryono. Ia menambahkan bahwa konsep rumah kayu dan bambu bukan berarti primitif. “Banyak desain arsitektur yang membuat rumah bambu terlihat estetik dan kokoh.”
Baca Juga: Kapan Mobil City Tour Kota Blitar Beroperasi?, Ini Jawaban Disbudpar
Warga Poso pun menanggapi imbauan BMKG ini dengan beragam pendapat. Sebagian setuju, mengingat rumah kayu tradisional di daerah mereka memang sering kali lebih tahan guncangan. Namun, ada juga yang ragu dengan kekuatan kayu dan bambu. “Kalau kayu cepat lapuk dan bambu dimakan rayap, bagaimana?” kata Iwan, warga Poso yang rumah temboknya retak akibat gempa.
BMKG menjawab kekhawatiran itu dengan menekankan pentingnya pemilihan material dan perawatan. “Kayu harus dikeringkan dengan benar, bambu diawetkan agar tahan lama. Teknologi konstruksi sekarang memungkinkan rumah kayu dan bambu lebih kuat,” ujar Daryono.
Imbauan ini memicu diskusi di media sosial. Sebagian netizen mendukung gagasan rumah ramah gempa dengan bahan alami, sementara yang lain berdebat soal biaya dan daya tahan. “Yang jelas, jangan sampai bangunan menjadi ancaman saat gempa,” tegas Daryono.
Baca Juga: Kepedulian PNM Tanam Ribuan Toga dan Tebar Benih Lele di Blitar
Selain tips konstruksi, BMKG juga mengingatkan warga untuk menyiapkan rencana evakuasi, menyimpan tas darurat, dan mengenali titik aman di sekitar rumah. “Mitigasi bukan hanya soal bangunan, tapi juga soal kesiapan mental dan fisik warga menghadapi guncangan,” katanya.
Dengan imbauan membangun rumah kayu dan bambu ini, BMKG berharap kesadaran mitigasi bencana di Poso meningkat. Di tengah potensi guncangan susulan, masyarakat diimbau tetap tenang, waspada, dan memastikan rumah mereka aman menghadapi gempa yang bisa terjadi kapan saja.
Editor : Anggi Septian A.P.