Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Desain Logo HUT RI 80: Netizen Jadi Kurator, Desainer Jadi Tersangka di Sidang Sound Horeg?

Findika Pratama • Kamis, 31 Juli 2025 | 23:30 WIB

Desain Logo HUT RI 80: Netizen Jadi Kurator, Desainer Jadi Tersangka di Sidang Sound Horeg?
Desain Logo HUT RI 80: Netizen Jadi Kurator, Desainer Jadi Tersangka di Sidang Sound Horeg?

BLITAR – Belum genap seminggu sejak peluncuran logo HUT ke-80 Republik Indonesia, linimasa media sosial sudah riuh. Di balik desain geometris dengan angka 8 dan 0 yang melambangkan kesinambungan, muncul gelombang kritik desain dari netizen. Mulai dari yang membandingkannya dengan logo kopi kekinian, hingga yang menyebut desain ini “hasil lomba desain fiksi ala KKN”.

Tak ketinggalan, komedian sekaligus podcaster Abdel Achrian pun menyoroti fenomena ini. Dalam podcast terbarunya, Abdel menyebut bahwa masyarakat kita kini lebih cepat jadi “kurator dadakan” ketimbang penikmat karya. “Begitu lihat logo HUT, belum sempat baca filosofinya, netizen udah kayak jaksa: ini jelek, ini nggak jelas, ini kayak stiker bensin,” ujar Abdel, disambut gelak tawa para pendengar.

Bahkan dalam segmen pembuka, sound khas ala jingle TikTok dengan efek sound horeg sengaja dimainkan sebagai pengantar. “Logo belum sempat didesain ulang, netizen udah bikin parodi. Hebat ya branding nasional kita, bisa viral karena kritik, bukan karena kampanye,” tambah Abdel dengan gaya setengah serius, setengah menyindir.

Baca Juga: Akhirnya Polisi Selesaikan Kasus Perundungan Siswa SMP di Blitar dengan Diversi

Dari Filosofi Jadi Meme

Logo HUT RI ke-80 yang dirilis resmi oleh pemerintah memuat konsep visual angka 8 dan 0 dengan garis dinamis, mencerminkan kesinambungan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Namun yang ditangkap publik justru berbeda. Di X (dulu Twitter), pengguna membandingkan desain tersebut dengan sablon jersey voli atau logo aplikasi fintech.

“Orang kita suka yang instan. Jadi pas dikasih desain penuh makna, mereka langsung bilang: mana estetikanya? Mana siluet Pak Karno? Mana merah putihnya?” kata Abdel. Ia juga mengaku bahwa kritik terhadap logo HUT sebenarnya sah-sah saja, tapi seringkali dilakukan tanpa pemahaman konteks.

Sebagian netizen bahkan membuat versi “desain tandingan”, lengkap dengan filosofi karangan sendiri. Ada yang membuat logo dengan bentuk nasi tumpeng, bambu runcing, bahkan angka 80 yang menyerupai dua sendok sayur. Meski lucu, semua ini mencerminkan partisipasi publik yang tinggi—meskipun lewat jalur satir.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Kritik Desain yang Terlalu Jujur?

Menurut Abdel, salah satu hal yang membuat kritik desain logo HUT ini menjadi menarik adalah kejujuran brutal netizen. “Di Indonesia, kalau jelek bilang jelek. Nggak ada istilah ‘less is more’. Kalau bisa ramai, kenapa harus minimalis?” ujarnya. Ia pun membandingkan gaya kritik ini dengan review makanan di TikTok: jujur, to the point, tapi kadang terlalu pedas.

Dalam salah satu cuplikan, Abdel juga menyebut bahwa netizen sekarang seperti punya panggung sendiri. “Dulu desainer itu dihormati. Sekarang, harus siap-siap disidang publik. Apalagi kalau urusannya sama branding nasional. Ini udah kayak panggung debat capres, tapi pakai filter IG dan sound horeg,” celetuknya.

Sound horeg, istilah populer untuk audio bising yang sering digunakan dalam konten TikTok dan Reels, menjadi simbol kritik yang disampaikan dengan gaya nyeleneh. Meme, remix, hingga konten reaksi bermunculan, sebagian besar menyindir visual logo dan narasi yang mengiringinya.

Baca Juga: Alam Semesta Sebagai Acuan Spiritual Kapitayan di Nusantara, Mengupas Warisan Kepercayaan Nenek Moyang

Antara Branding Nasional dan Kreativitas Rakyat

Meski banyak yang mencibir, sebagian desainer profesional menyebut bahwa branding nasional seperti logo HUT RI justru harus terbuka terhadap kritik. “Justru di sanalah ujian sejati branding: kalau semua orang bisa ngomongin, itu berarti logo-nya berhasil bikin keterlibatan,” ujar salah satu desainer muda Blitar yang ikut menanggapi podcast Abdel.

Abdel pun menutup sesi podcastnya dengan nada ringan namun reflektif. “Mungkin kita butuh logo yang nggak sekadar bagus, tapi juga bikin masyarakat nyambung. Kalau sekarang belum klik, ya mungkin karena masyarakat kita lebih cocok desain yang bisa diprint di banner tumpeng kemerdekaan.”

Menariknya, sejumlah akun media komunitas mulai mengangkat ulang potongan opini Abdel dan menyandingkannya dengan komentar-komentar netizen. Salah satu akun bahkan mengedit ulang logo HUT RI ke-80 menjadi gambar tahu bulat dan menambahkan tagline: “Goreng dadakan sejak 1945.”

Baca Juga: Warisan Kepercayaan Kapitayan Tradisi kenduri yang Masih Lestari di Kalangan Masyarakat Jawa

Netizen dan Identitas Visual Bangsa

Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Setiap tahun, peluncuran logo HUT RI memang kerap jadi bahan perdebatan. Namun tahun ini, kritik terasa lebih sengit dan kreatif, mungkin karena semakin banyak warga digital yang melek desain—walau hanya dari template Canva.

Abdel menyimpulkan dengan guyonan khasnya, “Di negara lain, desainer ditanya soal resolusi, warna, dan elemen grafis. Di sini? Ditanya bisa viral apa enggak. Kalo nggak bisa jadi bahan parodi, ya katanya nggak masuk algoritma.”

Apapun bentuk desainnya, satu hal jelas: branding nasional kini bukan hanya milik lembaga, tapi milik warganet juga. Mereka bisa memuji, bisa mencaci, dan bisa menjadikan desain sebagai bahan candaan yang menyatukan banyak kepala di ruang maya.

Baca Juga: Bagaimana Konsep Kapitayan dengan Anismisme, dan Dinamisme di Nusantara?

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound horeg #logo HUT RI