Pilar Kelima Demokrasi: Kritik Tanpa Solusi, Sound Horeg dan Logo HUT dalam Satire Abdel Achrian
Findika Pratama• Jumat, 1 Agustus 2025 | 02:30 WIB
Pilar Kelima Demokrasi: Kritik Tanpa Solusi, Sound Horeg dan Logo HUT dalam Satire Abdel Achrian
BLITAR – Di tengah ramainya perbincangan soal logo HUT ke-80 Republik Indonesia dan fenomena sound horeg yang menggema dari pelosok kampung hingga jalan kota, muncul satu istilah nyeleneh yang mendadak viral di media sosial: “Pilar Kelima Demokrasi: Kritik Tanpa Solusi.” Frasa ini pertama kali dilontarkan oleh komedian dan presenter Abdel Achrian dalam sesi podcast santai yang penuh celoteh, namun justru menggambarkan kondisi kritik sosial di Indonesia dengan sangat satir.
“Udah ini? Udah. Oke, kita ketemu lagi di Hoi... Pilar kelima demokrasi. Kritik tanpa solusi. Tahu tapi tidak mengerti,” begitu kutipan yang meledak dari mulut Abdel, disambut tawa para rekan bicaranya. Bukan tanpa sebab, masyarakat kini merasa bahwa apa yang mereka sampaikan—entah di Twitter, status WhatsApp, atau komentar TikTok—tak lebih dari kritik yang tak diikuti tindakan. Sebuah refleksi menyindir, namun dikemas dengan gaya sound horeg khas konten audio viral masa kini.
Istilah “pilar kelima demokrasi” sontak jadi bahan perbincangan. Netizen menyandingkannya dengan pilar-pilar klasik demokrasi: legislatif, eksekutif, yudikatif, dan pers. Tapi alih-alih menambah satu pilar institusional, sindiran Abdel justru mengajak publik menertawakan dirinya sendiri: masyarakat yang rajin protes, tapi enggan bertindak. “Kritik tanpa solusi, tahu tapi tidak mengerti,” menjadi semboyan generasi digital yang lantang di ruang maya, tapi pasif di dunia nyata.
Dalam wawancara ringan via kanal YouTube-nya, Abdel mengaku bahwa istilah itu tercetus spontan dari obrolan lepas. “Awalnya cuma bercanda. Tapi ternyata kena banget di orang-orang,” ujar Abdel sambil tertawa. Ia menambahkan, sebenarnya banyak masyarakat yang ingin terlibat dalam perubahan, tapi tidak tahu bagaimana cara paling nyata untuk berpartisipasi.
Komentar demi komentar pun bermunculan, mulai dari yang menganggapnya hanya guyonan biasa, hingga yang menyebut bahwa satire ini justru lebih relevan dari pidato pejabat. Beberapa menyandingkan “pilar kelima demokrasi” dengan tren logo HUT RI 80 yang baru saja dirilis pemerintah. Banyak yang berkomentar keras, namun tak sedikit pula yang tidak tahu makna di balik desain logo tersebut.
“Logo HUT kita tuh bagus kok, tapi masyarakat keburu sinis duluan. Ini contoh kritik tanpa solusi juga,” tulis salah satu akun X (dulu Twitter), menyertakan gambar desain logo 80 yang penuh filosofi garis dan siluet keberlanjutan.
Di era digital, sound horeg—istilah untuk audio berlebihan, ramai, dan berulang—jadi simbol lain dari "kebisingan tanpa makna". Beberapa pengamat budaya pop bahkan menyandingkannya dengan fenomena “pilar kelima demokrasi” versi media sosial. “Orang suka yang heboh-heboh, tapi jarang yang benar-benar mau paham,” ujar Damar, pengajar komunikasi digital di kampus swasta Blitar.
Sound horeg menggema dari TikTok ke Instagram Reels, membalut konten serius dengan efek suara yang lucu, atau malah mengganggu. Persis seperti kritik sosial hari ini yang lebih sering viral karena gaya penyampaian, bukan substansi pesan.
Dalam percakapan panjang Abdel dan kawan-kawan, kata "tolol", "ngaco", hingga “miskomunikasi” muncul berkali-kali. Namun semua itu tak terkesan ofensif, justru menjadi cermin kegagapan kita dalam menghadapi isu-isu publik. Satu sesi bahkan membahas soal logo HUT RI, koper umroh, sampai rokok yang “harus dibawa dari rumah karena di sana mahal”.
Gaya santai ala Abdel Achrian justru menguatkan fakta bahwa humor bisa menjadi kendaraan kritik yang lebih tajam ketimbang retorika serius. “Kita tuh suka ngejek, tapi giliran diminta bikin solusi, pada mingkem,” kata Abdel dalam podcast-nya. Ia bahkan menyebut bahwa gaya “nyablak tapi jujur” jauh lebih mudah diterima publik ketimbang bahasa formal birokrasi.
Dalam salah satu segmen yang membahas logo HUT RI ke-80, para host membongkar makna filosofi desain tersebut—mulai dari bentuk 8 dan 0 yang simetris, hingga makna garis putih sebagai simbol kesinambungan. Tapi pembahasan itu pun ditutup dengan candaan: “Filosofinya dibikin belakangan, yang penting duluan cakep di kaos sablon.”
Seketika, komentar pun membanjiri kolom live chat. “Ini kritik paling nyentil soal logo nasional sejak logo G20,” tulis seorang penonton. Ada juga yang menyebut gaya Abdel adalah “stand-up comedy rasa riset sosial-politik”.
Istilah pilar kelima demokrasi mungkin hanya lelucon. Tapi dalam kecepatan internet dan banjir konten absurd, istilah ini menyebar cepat, menempel di banyak kepala. Ia jadi jargon baru generasi yang "tahu tapi tidak mengerti", berani bersuara tapi sering lupa bertindak.
Logo HUT, sound horeg, dan jargon komedi ini akhirnya bertemu di satu titik: potret masyarakat digital yang cerewet tapi lelah. Kritik sosial hari ini tak selalu berbentuk orasi atau tulisan panjang. Kadang hanya perlu satu kalimat absurd—dan tawa yang mengikutinya.