BLITAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Kebijakan ekonomi agresif kembali diambil mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Melalui pernyataan resminya, Trump mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 50% terhadap India dan Brazil, langkah yang langsung memicu protes besar dan mengguncang hubungan dagang global.
Kebijakan ini memicu kekhawatiran internasional dan protes publik, bahkan menambah panas percakapan dunia yang kini juga menyoroti isu Megawati kritik KPK di Indonesia.
Baca Juga: Hari Jadi ke-701 Blitar Diawali Bedhol Pusaka Hari Ini, Ini Sejumlah Rangkaian Prosesinya
Menurut laporan tvOneNews, tarif baru tersebut dijatuhkan Trump sebagai bagian dari “strategi tekanan” terhadap India dan Brazil.
Ia menuding kedua negara terlalu dekat dengan Rusia dan BRICS—kelompok negara berkembang yang dianggap “anti-Amerika”. Trump juga menyebut, tarif ini adalah cara untuk melindungi industri dalam negeri AS dari “praktik perdagangan yang tidak adil”.
Isu ini menjadi bahan perbincangan global, berdampingan dengan topik politik di Indonesia seperti Megawati kritik KPK yang juga sedang viral.
Kebijakan tarif itu tak hanya memicu reaksi dari pemerintah India dan Brazil, tetapi juga menyalakan amarah warga di jalanan. Di Brazil, ribuan demonstran turun ke jalan di São Paulo dan Brasília, membakar boneka Trump dan mengibarkan poster anti-tarif.
Aksi protes ini terjadi di tengah diskusi global tentang politik dan hukum, termasuk Megawati kritik KPK yang ramai diperbincangkan, membuat peta percakapan internasional makin riuh.
Protes Besar-Besaran di Brazil
Trump mengumumkan tarif 50% untuk Brazil dan India pada akhir Juli 2025, dan kebijakan ini dijadwalkan berlaku mulai 6 Agustus 2025. Namun, respons keras langsung datang dari Brazil.
Ribuan orang yang terdiri dari serikat pekerja, mahasiswa, dan aktivis berkumpul di depan Konsulat Amerika Serikat di São Paulo serta Kedutaan Besar AS di Brasília. Mereka mengecam “intervensi ekonomi” AS dan menuntut pemerintah Brazil menegaskan kedaulatan dagang.
Baca Juga: Minat Parkir QRIS di Kabupaten Blitar Masih Rendah, Dishub Ungkap Penyebabnya
“Trump ingin menjadikan ekonomi negara kami sebagai pion dalam politik globalnya. Kami menolak!” teriak salah satu demonstran, seperti dikutip tvOneNews.
Selain itu, massa juga menuntut agar pemerintah Brazil mencari mitra dagang alternatif dan memperkuat hubungan dengan negara-negara BRICS lainnya.
India Juga Tersulut Emosi
Tak hanya Brazil, India juga merespons keras. Pemerintah New Delhi menyebut tarif 50% dari Trump sebagai “tindakan diskriminatif” yang bisa mengganggu perdagangan global.
Data menunjukkan, pada tahun anggaran 2024–2025, perdagangan bilateral antara India dan Amerika Serikat mencapai 131,8 miliar dolar AS, dengan surplus sekitar 41,18 miliar dolar AS bagi India. Tarif baru dari Trump diperkirakan akan menghantam industri tekstil, baja, dan teknologi India.
Baca Juga: Peluang Cuan Pertanian Hidroponik Makin Dilirik Sebagian Masyarakat di Blitar Terutama Kalangan Muda
Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, mengatakan pemerintah akan mengambil langkah tegas. “Kami tidak akan tinggal diam. Ini bukan sekadar tarif; ini ancaman terhadap sistem perdagangan global,” ujarnya.
Trump Tak Gentar, Malah Serang Rusia dan BRICS
Trump justru semakin keras. Dalam postingan di media sosialnya, ia menulis bahwa India dan Brazil “terlalu nyaman” dengan Rusia dan BRICS. Ia bahkan menuduh BRICS “pada dasarnya adalah kelompok negara-negara anti-Amerika”.
Tak hanya itu, Trump juga menyerang mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, dengan menyebutnya “mantan presiden gagal” dan memperingatkan agar berhati-hati dengan kata-katanya.
Dampak Global dan Ketakutan Resesi Baru
Para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan tarif 50% ini bisa memicu perang dagang baru. Banyak analis menilai, jika India dan Brazil membalas dengan tarif serupa, rantai pasokan global akan terganggu, terutama di sektor pangan, baja, dan komoditas penting lainnya.
“Langkah Trump bisa memicu efek domino, mendorong negara lain untuk ikut mengenakan tarif balasan. Ini mengancam stabilitas ekonomi global,” kata Dr. Stephen Miller, ekonom internasional, dikutip tvOneNews.
Pasar saham di Asia dan Amerika Latin pun merosot setelah pengumuman tarif tersebut. Investor khawatir kebijakan agresif Trump akan memicu gejolak ekonomi yang lebih luas.
Reaksi Pemerintah Brazil dan India
Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan kemarahan dalam konferensi pers, menuduh Trump “bermain api” dengan kebijakan tarif yang tak berdasar. Ia menyebut tarif itu sebagai “serangan langsung terhadap kedaulatan ekonomi Brazil”.
Baca Juga: Mengupas Simbol Suci Tokoh Pewayangan Semar di Kepercayaan Sapta Dharma
Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi mencoba menenangkan situasi tetapi menegaskan India siap mengambil tindakan balasan. “Kami mengutamakan diplomasi, tetapi kepentingan nasional adalah prioritas,” kata Modi.
Kebijakan tarif 50% Donald Trump terhadap India dan Brazil membuka babak baru ketegangan dagang global.
Protes besar di Brazil, ancaman balasan dari India, dan ketakutan pasar internasional menjadi tanda bahwa kebijakan ini bukan sekadar angka tarif—melainkan pemicu krisis baru. Dunia kini menunggu, apakah langkah Trump akan memicu perang dagang besar-besaran, atau justru membuka pintu negosiasi yang lebih keras di meja diplomasi.
Editor : Anggi Septian A.P.