BLITAR - Arkeolog Kebakaran DPRD Kediri memberikan kesaksian langsung terkait insiden yang membuat Gedung DPRD Kota Kediri ludes terbakar. Peristiwa mencekam itu terjadi pada malam hari, dan meninggalkan dampak serius pada Museum Bagawan Tabari yang berada tepat di belakang gedung.
Dalam keterangannya, arkeolog menceritakan bagaimana detik-detik api membesar dan mengancam koleksi bersejarah di museum. Ia bersama rekan-rekan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan peninggalan klasik, meski situasi chaos dan massa aksi terus menekan.
Kebakaran DPRD Kediri ini bukan hanya soal gedung pemerintahan yang terbakar, melainkan juga ancaman nyata bagi warisan budaya. Arkeolog menyebut, kehilangan artefak sama saja dengan hilangnya identitas sejarah bangsa.
Baca Juga: Fasilitas Operasional Koperasi Merah Putih di Kota Blitar Masih Jadi Kendala, Ini Kata Dinas Koperasi
Kronologi Malam Kebakaran
Menurut arkeolog, insiden bermula sekitar pukul 20.00 WIB. Api tiba-tiba membesar di gedung DPRD Kota Kediri. Kepulan asap tebal membuat suasana panik. Ledakan dari kendaraan yang terbakar memperparah kondisi.
Ia mengatakan, sejak melihat berita di media sosial tentang kebakaran, dirinya sudah merasa tidak tenang. Pasalnya, museum berada sangat dekat dengan lokasi api. Jika tidak cepat dievakuasi, koleksi di dalamnya bisa ikut musnah.
“Begitu tahu DPRD terbakar, pikiran kami langsung tertuju ke museum. Di sana ada banyak arca dan koleksi berharga. Kami harus segera bergerak,” ungkap arkeolog tersebut.
Baca Juga: Inilah Identitas Pengemudi BMW yang Tabrak Pembatas Jalan di Perempatan Kanigoro Blitar
Museum Bagawan Tabari Jadi Target
Malam itu, arkeolog bersama timnya menuju Museum Bagawan Tabari. Saat sampai di lokasi, suasana semakin mencekam. Pecahan kaca berhamburan di lantai, api menyala di seberang, dan massa aksi mulai merangsek ke sekitar gedung.
Museum yang berisi arca klasik, fragmen, dan benda etnografika itu terancam. Beberapa orang mencoba masuk, tanpa peduli bahwa di dalamnya tersimpan peninggalan leluhur.
“Mereka bilang, ini hanya batu. Bahkan ada yang marah ketika kami minta jangan menyentuh museum. Padahal setiap batu punya cerita sejarah,” tutur arkeolog.
Baca Juga: Kondisi Gedung DPRD Kabupaten Blitar Usai Dirusak Massa Anarkis, Polisi Usut Tuntas
Koleksi Sejarah Hilang
Dalam pendataan awal, beberapa koleksi dipastikan hilang. Salah satunya adalah fragmen kepala arca Ganesa yang diperkirakan berasal dari abad awal. Benda bersejarah itu hilang dan diduga dijarah saat situasi tidak terkendali.
Selain itu, sejumlah koleksi etnografika berupa kain tradisional juga raib. Arkeolog menyebut kerugian ini bukan sekadar material, melainkan sejarah yang sulit digantikan.
“Kami syok. Rasanya tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat koleksi itu hilang. Itu bukan benda biasa, tapi bagian dari warisan leluhur kita,” tambahnya.
Baca Juga: Ratusan Perusuh Diamankan, Kapolres Blitar Kota Sebut Mayoritas dalam Pengaruh Alkohol dan Warga Luar Blitar
Perlawanan dan Evakuasi
Di tengah kepanikan, arkeolog bersama tim museum mencoba melindungi koleksi yang tersisa. Meski kaki mereka terluka karena pecahan kaca, mereka tetap membawa keluar beberapa benda yang bisa diselamatkan.
Situasi semakin sulit ketika sekelompok orang dengan masker dan peralatan perusakan mencoba masuk. Arkeolog sempat menghadang mereka, meski makian kasar dilontarkan.
“Kami bilang, ini museum, bukan kantor pemerintah. Tapi mereka tetap ngotot. Kami hanya bisa berharap mereka sadar,” jelasnya.
Baca Juga: Perda RTRW Kota Blitar Anyar, Wali Kota Mas Ibin: Lebih Luwes dan Buka Banyak Peluang Baru
Trauma dan Harapan
Arkeolog mengaku trauma dengan kejadian malam itu. Bukan hanya karena ancaman kebakaran, tetapi juga karena melihat langsung bagaimana warisan budaya diperlakukan dengan sembrono.
Ia berharap pemerintah lebih serius memberikan perlindungan terhadap situs dan museum yang menyimpan peninggalan sejarah. Menurutnya, koleksi museum harus dijaga seperti aset negara yang tidak ternilai.
“Kami sudah berusaha maksimal, tapi tidak semua bisa diselamatkan. Harapan kami, masyarakat dan pemerintah lebih peduli agar kejadian ini tidak terulang,” ujarnya.
Baca Juga: Buku Kendali Siswa Berlaku September, Dispendik Kota Blitar Jelaskan Fungsi dan Manfaatnya
Panggilan untuk Kesadaran Kolektif
Insiden kebakaran DPRD Kediri menjadi pelajaran pahit. Arkeolog menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga peninggalan budaya. Tanpa kesadaran itu, setiap konflik bisa berujung pada hilangnya sejarah.
Ia mengajak masyarakat agar marah dan kecewa tidak dilampiaskan pada benda bersejarah. Karena koleksi museum bukan bagian dari konflik politik, melainkan jejak panjang peradaban bangsa.
“Sejarah adalah identitas. Kalau hilang, kita akan kehilangan pijakan sebagai bangsa,” pungkas arkeolog.
Editor : Anggi Septian A.P.