BLITAR-Di tengah citra birokrasi yang sering dinilai kaku, Badan Pertanahan Nasional (BPN) mencoba menunjukkan sisi lain. Tak hanya soal sertifikat atau urusan tanah, ada nilai filosofis yang dipegang oleh para ASN BPN: bekerja dengan hati dan penuh rasa syukur.
Kepala Bagian Pemberitaan Hubungan Antar Lembaga Kementerian ATR/BPN, Harrison Mokodompis, menegaskan bahwa keberhasilan seorang aparatur tidak semata diukur dari pangkat atau jabatan. “Ukuran keberhasilan bukan jabatan, tetapi hati dalam melayani. Kalau hati kita hadir, masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya dalam podcast resmi ATR/BPN.
Lebih dari Sekadar Pekerjaan
Menurut Harrison, pekerjaan ASN bukan hanya rutinitas administratif. Setiap berkas tanah, setiap sertifikat, bahkan setiap proses pengadaan lahan menyangkut kehidupan banyak orang.
“Bayangkan, satu bidang tanah bisa menyangkut masa depan keluarga. Kalau kita bekerja asal-asalan, dampaknya bisa sangat besar. Maka yang dibutuhkan bukan hanya profesionalisme, tapi juga hati yang tulus,” jelasnya.
Filosofi ini, menurutnya, membuat ASN BPN harus melihat pekerjaannya sebagai pengabdian, bukan sekadar rutinitas.
Dari Jalan Tol ke Kehidupan Masyarakat
Harrison mencontohkan pembangunan jalan tol. Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya berupa jalan megah yang mempercepat perjalanan. Namun, di balik itu ada kerja panjang ASN BPN yang memastikan pengadaan tanah berjalan adil.
“Kalau kita hanya mengejar target tanpa hati, masyarakat bisa merasa dipaksa. Tapi dengan hati, kita pastikan mereka mendapatkan ganti untung. Itulah bedanya,” katanya.
Bagi Harrison, inilah wujud rasa syukur ASN BPN: mampu melayani masyarakat sekaligus meninggalkan karya nyata yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Syukur dalam Setiap Proses
Filosofi hati dan syukur juga membuat ASN BPN lebih kuat menghadapi tantangan. Dari mafia tanah, sertifikat ganda, hingga sengketa yang rumit, semua bisa dihadapi dengan kesabaran.
“Kalau kita bekerja hanya demi jabatan, tekanan ini bisa membuat kita frustrasi. Tapi kalau kita bekerja dengan hati, kita bisa lebih tenang dan bersyukur karena tahu setiap langkah punya makna,” tutur Harrison.
Ia menambahkan, rasa syukur juga menjaga ASN dari perilaku menyimpang. Dengan kesadaran bahwa jabatan hanyalah titipan, ASN BPN bisa lebih fokus pada pelayanan.
Pesan untuk Generasi Baru
Harrison juga menitipkan pesan bagi generasi ASN muda yang kini masuk ke BPN. Menurutnya, mereka harus membawa semangat baru tanpa melupakan nilai-nilai dasar.
“Anak muda sekarang pintar, adaptif, dan cepat belajar. Tapi jangan lupa, ukuran keberhasilan tetaplah hati. Karena teknologi dan sistem bisa kita pelajari, tapi hati yang tulus tidak bisa digantikan,” pesannya.
Nilai ini penting, terutama di tengah gempuran transformasi digital. Bagi Harrison, modernisasi tetap harus dibarengi dengan etika pelayanan.
Menjaga Citra BPN
Filosofi hati dan syukur, kata Harrison, juga akan membantu membangun citra BPN di mata publik. Lembaga yang dulu sering dicap birokratis kini bisa tampil sebagai institusi yang humanis.
“Kalau masyarakat melihat ASN BPN bekerja dengan hati, mereka akan percaya. Kepercayaan itu jauh lebih mahal dari sekadar jabatan,” pungkasnya.
Dengan pesan filosofis ini, BPN ingin menunjukkan bahwa birokrasi bisa berubah. Dari sekadar mesin administrasi, menjadi lembaga yang benar-benar hadir bagi masyarakat. Dan semua itu bermula dari satu hal sederhana: bekerja dengan hati.
Editor : Anggi Septian A.P.