Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

"Indonesia Butuh Revolusi Deregulasi": Resep Pakar untuk Bangkit dari Krisis Pertumbuhan

Rahma Nur Anisa • Kamis, 18 September 2025 | 02:00 WIB

Pakar ekonomi memperingatkan Indonesia agar tidak mengulang kesalahan negara-negara Amerika Latin
Pakar ekonomi memperingatkan Indonesia agar tidak mengulang kesalahan negara-negara Amerika Latin

BLITAR KAWENTAR - Menghadapi perlambatan ekonomi dan tekanan kompetisi global, Indonesia memerlukan reformasi struktural menyeluruh berupa deregulasi besar-besaran untuk meningkatkan daya saing sektor manufaktur dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Kondisi ekonomi Indonesia yang menghadapi perlambatan pertumbuhan memerlukan terobosan kebijakan berupa revolusi deregulasi untuk mengembalikan momentum pembangunan.

Diagnosis mendalam menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada kekurangan dana, melainkan pada struktur regulasi yang menghambat efisiensi dan daya saing.

Baca Juga: Presiden Prabowo Reshuffle Lima Menteri, Sri Mulyani Paling Mengejutkan

Urgensi reformasi struktural ini didasarkan pada kenyataan bahwa ekonomi Indonesia tengah menghadapi krisis kepercayaan di kalangan pelaku bisnis.

Ketidakpastian kebijakan dan regulasi yang berbelit-belit menciptakan lingkungan usaha yang tidak kondusif untuk investasi dan ekspansi bisnis.

Deregulasi besar-besaran dinilai sebagai solusi paling efektif untuk menghadapi guncangan China dan meningkatkan daya saing sektor manufaktur.

Baca Juga: Tuntutan 17+8 Sampai ke Presiden Prabowo: Masuk Akal dan Bisa Dilakukan

Penyederhanaan regulasi akan memungkinkan perusahaan lokal beroperasi lebih efisien dan bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasar domestik.

Momentum krisis pertumbuhan saat ini justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan reformasi mendasar. Sejarah menunjukkan bahwa reformasi ekonomi yang berarti hanya terjadi ketika ada rasa krisis dan urgensi untuk berubah. Tanpa pengakuan terhadap adanya masalah, tidak akan ada dorongan untuk melakukan perubahan struktural.

Prioritas utama reformasi harus difokuskan pada penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur dan peningkatan produktivitas ekonomi.

Baca Juga: Viral! Pemuda Raup Rp7,6 Juta dari Aplikasi Misterius, Netizen Heboh: Beneran Cuan atau Tipu-Tipu?

Hal ini memerlukan pergeseran orientasi kebijakan dari yang bersifat redistributif menuju kebijakan yang mendorong penciptaan nilai dan produktivitas.

Adopsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan digitalisasi, dapat menjadi akselerator dalam meningkatkan efisiensi ekonomi. Namun, implementasi teknologi ini harus disertai dengan deregulasi yang memungkinkan sektor swasta beroperasi dengan fleksibilitas maksimal.

Sektor pertanian juga memiliki potensi besar untuk ditransformasi melalui adopsi teknologi modern. Peningkatan produktivitas pertanian dapat menyerap tenaga kerja yang kembali dari sektor manufaktur sambil meningkatkan output dan efisiensi.

Baca Juga: “Mati Itu Mudah, Hidup Itu Sulit”: Refleksi Kehidupan dari Balik Kontroversi

Reformasi pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan, meski hasilnya baru dapat dirasakan dalam 5-10 tahun mendatang. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi berkelanjutan.

Pengalaman negara-negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan dan komitmen jangka panjang terhadap reformasi struktural. Korea Selatan dan Taiwan menjadi contoh bagaimana deregulasi dan fokus pada produktivitas dapat mengantarkan negara keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Tantangan terbesar dalam implementasi reformasi ini adalah resistensi politik dan kepentingan kelompok tertentu yang diuntungkan oleh sistem regulasi yang ada. Diperlukan kepemimpinan politik yang kuat dan visi jangka panjang untuk melawan tekanan jangka pendek.

Baca Juga: Hongkong-Taiwan Jadi Sasaran Favorit Merantau Warga Blitar, Dinas Tenaga Kerja Ungkap Sejumlah Alasannya

Waktu menjadi faktor krusial dalam implementasi reformasi ini. Semakin lama reformasi ditunda, semakin sulit Indonesia akan keluar dari spiral perlambatan ekonomi dan semakin tertinggal dari negara-negara kompetitor di kawasan. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Chairman Rockefeller #pertumbuhan ekonomi indonesia #rhenald kasali #analisis chairman rockfeller #Naik 5 Persen #pertumbuhan ekonomi