Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Indonesia Terjebak "Guncangan China" di Tengah Pergeseran Ekonomi Global

Rahma Nur Anisa • Kamis, 18 September 2025 | 04:00 WIB

Menganalisis kebijakan fiskal dan peringatan terhadap program kesejahteraan prematur
Menganalisis kebijakan fiskal dan peringatan terhadap program kesejahteraan prematur

BLITAR KAWENTAR - Fenomena "China shock" atau guncangan China telah menempatkan Indonesia dalam posisi sulit, di mana harapan menjadi destinasi alternatif investasi malah tergantikan oleh serbuan produk murah China yang mengancam industri lokal.

Dinamika geoekonomi global telah menciptakan tantangan baru bagi perekonomian Indonesia dalam bentuk yang disebut sebagai "guncangan China".

Fenomena ini bermula dari meningkatnya ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat dan China yang mendorong strategi "China plus one" di kalangan pelaku bisnis internasional.

Baca Juga: Hongkong-Taiwan Jadi Sasaran Favorit Merantau Warga Blitar, Dinas Tenaga Kerja Ungkap Sejumlah Alasannya

Strategi China plus one seharusnya menguntungkan Indonesia sebagai negara dengan skala pasar besar dan lokasi strategis. Perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa diharapkan memindahkan sebagian basis produksi mereka dari China ke negara-negara Asia Tenggara untuk mengurangi risiko geopolitik.

Namun, realitas yang terjadi justru berlawanan dengan ekspektasi tersebut. Investasi asing langsung ke Indonesia tidak mengalami peningkatan signifikan dalam tiga hingga empat tahun terakhir.

Sebaliknya, kelebihan kapasitas produksi China justru membanjiri pasar Indonesia dengan produk-produk murah.

Baca Juga: Mengenal Ekologi Buah Naga: Kaktus Epifit dengan Sistem Reproduksi Unik

Dampak guncangan China ini sangat terasa di sektor manufaktur Indonesia. Produsen skala kecil dan menengah mengalami tekanan hebat karena tidak mampu bersaing dengan harga produk China yang sangat kompetitif.

Kondisi ini mengakibatkan banyak tenaga kerja di sektor manufaktur kehilangan pekerjaan dan kembali ke sektor pertanian.

Thailand mengalami nasib serupa dengan Indonesia dalam menghadapi guncangan China ini. Kedua negara yang semula diharapkan menjadi penerima manfaat dari ketegangan AS-China malah menjadi korban dari strategi dumping produk China di pasar regional.

Baca Juga: Jangan Pernah Lakukan Ini di Gunung Bromo, Bisa Bikin Tersesat!

Pergeseran aliran modal global juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Dalam dekade terakhir, 70-80% dari seluruh aliran modal tambahan global mengalir ke Amerika Serikat, terutama didorong oleh fenomena teknologi tinggi dan kecerdasan buatan. Kondisi ini menyebabkan negara-negara lain, termasuk Indonesia, mengalami arus keluar modal.

Dominasi ekonomi Amerika Serikat yang mencapai 26-27% dari PDB global, namun menyerap mayoritas aliran modal dunia, menciptakan ketidakseimbangan dalam distribusi investasi global.

Fenomena ini diperparah oleh status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia yang memungkinkan negara tersebut menjalankan defisit anggaran hingga 6,5% dari PDB tanpa konsekuensi serius.

Baca Juga: Viral! Pemuda Raup Rp7,6 Juta dari Aplikasi Misterius, Netizen Heboh: Beneran Cuan atau Tipu-Tipu?

Sementara itu, ekonomi China yang mengalami perlambatan akibat faktor demografis dan populasi yang menyusut, justru semakin agresif dalam mengekspor produk-produknya ke negara-negara lain sebagai strategi mempertahankan sektor manufakturnya.

Kawasan ASEAN yang semula diharapkan menjadi lokus keajaiban ekonomi berikutnya, kini berubah menjadi kawasan dengan kinerja yang mengecewakan akibat dinamika geoekonomi global yang tidak menguntungkan ini. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#china shock #Chairman Rockefeller #pertumbuhan ekonomi indonesia #analisis chairman rockfeller #Naik 5 Persen #rhenald khasali #pertumbuhan ekonomi