BLITAR-Air mata Siti (45), warga Kelurahan Tanjungsari, Blitar, pecah saat membuka aplikasi cek bansos. Status penerimaannya kini berubah menjadi exclude. Artinya, ia tidak lagi berhak menerima bantuan pangan non-tunai (BPNT) yang selama ini jadi tumpuan hidup keluarganya.
Yang membuatnya terpukul, alasan pencoretan disebut karena bansos diduga dipakai judi online.
“Saya ini jangankan main judi online, punya HP Android saja tidak. Kok bisa dibilang saya pakai buat judi?” keluhnya saat ditemui tim pendamping sosial.
Kehilangan Penopang Hidup
Selama ini, bantuan Rp200 ribu per bulan dari pemerintah menjadi penopang utama keluarga Siti. Uang itu dipakai membeli beras, minyak, dan kebutuhan pokok lain. Suaminya hanya buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu.
Ketika status bansos berubah, Siti merasa hidupnya makin berat. “Kalau tidak ada bantuan, kami mau makan apa? Kadang suami dapat kerja, kadang tidak,” ujarnya.
Dituduh Judi Online
Kisah Siti bukan satu-satunya. Beberapa KPM lain di Blitar juga mengalami hal serupa. Mereka tiba-tiba tercoret dengan keterangan bansos disalahgunakan untuk judi online.
Padahal, sebagian dari mereka tidak pernah tahu bagaimana cara bermain judi daring. Bahkan, ada yang tidak memiliki rekening atau akses internet memadai.
“Rasanya seperti difitnah. Kami ini miskin, hanya ingin makan cukup. Tidak pernah main judi online,” kata Sugeng (52), warga lain yang bansosnya ikut terhenti.
Jalur Klarifikasi
Meski dicoret, masih ada jalan keluar. Para KPM bisa mengajukan klarifikasi ke Dinas Sosial melalui pendamping PKH. Proses ini disebut reaktivasi bansos.
Mereka diminta menandatangani berita acara yang berisi pernyataan tidak pernah menyalahgunakan bantuan. Setelah itu, data akan diverifikasi dan dikirim ke Kementerian Sosial.
Namun, proses ini tidak cepat. “Belum tentu langsung aktif. Semua tergantung hasil pengecekan,” jelas seorang pendamping sosial di Kecamatan Sananwetan.
Dampak Sosial yang Berat
Akibat pencoretan ini, warga miskin makin terpuruk. Tidak sedikit yang harus berutang ke tetangga atau warung demi bisa makan.
“Bansos itu sangat berarti buat kami. Kalau hilang, bagaimana anak-anak bisa sekolah dan makan?” keluh Siti.
Pendamping sosial juga ikut kewalahan karena harus menjelaskan panjang lebar kepada warga yang menangis dan protes.
Harapan KPM
Meski kecewa, para KPM masih berharap bansos mereka bisa kembali aktif. Mereka meminta pemerintah lebih teliti agar tidak ada warga miskin yang jadi korban tuduhan salah.
“Kalau memang ada yang judi online, silakan dicoret. Tapi jangan semua digeneralisir. Kami ini benar-benar butuh bantuan,” ujar Sugeng.
Cerita Siti dan Sugeng menjadi potret getir di balik kontroversi bansos 2025. Di satu sisi, pemerintah ingin menertibkan penyaluran agar tepat sasaran. Di sisi lain, ada warga miskin yang benar-benar membutuhkan, tetapi terzalimi oleh sistem deteksi yang belum sempurna.
Editor : Anggi Septian A.P.