BLITAR – Kasus dugaan keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Sebanyak 10 siswa di Garut, Jawa Barat, harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kecamatan Kadungora sejak Selasa (17/9) setelah mengalami gejala mual dan pusing usai menyantap menu MBG.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono memastikan pemerintah tengah melakukan observasi menyeluruh terhadap kasus tersebut. “Masalahnya itu biasanya alergi, tapi kemudian diidentifikasi sebagai keracunan. Tapi kalaupun ada keracunan, kita sudah tindak lanjuti,” tegas Dante saat meninjau program MBG di SMP Negeri 1 Teras, Jawa Tengah, Kamis (19/9).
Polisi telah mengambil sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti insiden ini. “Ada beberapa kasus di daerah yang diambil sampel makanannya oleh pihak kepolisian untuk mengidentifikasi apakah benar ini keracunan atau bukan,” lanjut Dante.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri digagas pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi pelajar. Menu yang disajikan bervariasi, mulai dari lauk berprotein hingga sayur dan buah segar. Namun, kasus seperti di Garut memunculkan pertanyaan publik terkait standar higienitas dan proses pengawasan makanan yang dibagikan.
Dante menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penerapan program MBG. “Penyajian makanan harus lebih teliti, higienis, dan segar demi memastikan gizi siswa benar-benar terpenuhi,” ujarnya.
Kasus serupa sebelumnya juga sempat terjadi di beberapa daerah lain. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan MBG. Meski sebagian besar hanya mengalami reaksi ringan, kejadian ini tetap menjadi sorotan karena menyangkut kesehatan anak-anak.
Pemerintah pusat pun tak tinggal diam. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno menyampaikan permintaan maaf atas terulangnya kasus ini. “Pertama-tama tentunya kami atas nama pemerintah memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah. Tentu saja itu bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan suatu kesengajaan,” kata Pratikno di Jakarta, Kamis (19/9).
Ia menegaskan, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan penanganan cepat terhadap para korban. “Yang pertama adalah memastikan bahwa seluruh yang terdampak harus mendapatkan penanganan secepat mungkin dan sebaik-baiknya,” tambahnya.
Selain penanganan korban, evaluasi menyeluruh juga menjadi fokus pemerintah. Pratikno menuturkan, mitigasi dan perbaikan akan dilakukan agar kasus serupa tidak terulang. “Harus dilakukan upaya evaluasi termasuk mitigasi perbaikan supaya masalah-masalah seperti ini tidak terulang kembali,” tegasnya.
Data sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menyebutkan, kondisi para siswa yang dirawat kini berangsur membaik. Mereka tetap diobservasi untuk memastikan tidak ada efek lanjutan. Pihak sekolah juga diminta meningkatkan pengawasan terhadap kualitas bahan pangan yang diterima dari pemasok.
Program MBG sendiri menjadi salah satu andalan pemerintah dalam menekan angka stunting dan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Tahun ini, program tersebut ditargetkan menyasar ribuan sekolah di berbagai daerah. Namun, insiden seperti di Garut menjadi peringatan penting agar kualitas pelaksanaan benar-benar diawasi.
Publik kini menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang diambil polisi. Hasil tersebut akan menentukan apakah insiden ini murni keracunan makanan atau reaksi alergi yang mirip gejala keracunan.
Pemerintah berjanji akan mengumumkan perkembangan penyelidikan secepatnya. “Kami akan terus memantau dan memastikan setiap langkah perbaikan dilakukan,” ujar Dante menutup.
Kasus di Garut menjadi catatan penting bahwa niat baik menghadirkan gizi gratis harus dibarengi kontrol ketat agar tidak berbalik menjadi ancaman kesehatan. Publik menunggu langkah konkret pemerintah dalam evaluasi besar-besaran program Makan Bergizi Gratis.
Editor : Anggi Septian A.P.