BLITAR – Atlet muaythai Kabupaten Blitar berhasil menyumbangkan 4 medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Muaythai 2025 yang berlangsung di Nusa Tenggara Barat (NTB) pertengahan September lalu.
Mereka berhasil bersaing dengan anak muda dari daerah lain. Dari 250 atlet yang berlaga, tim Jawa Timur berhasil membawa pulang 21 medali.
Pelatih muaythai Kabupaten Blitar, Sugeng Wahyu Widodo mengatakan, capaian ini merupakan prestasi membanggakan yang ditorehkan atlet muaythai Kabupaten Blitar dalam kejurnas yang berlangsung di NTB pada 16–20 September lalu.
Bahkan, dengan hasil tersebut, tim Jawa Timur sukses meraih juara umum.
“Kabupaten Blitar turut memberi kontribusi besar. Empat medali emas disumbangkan oleh atlet puslatda asal Kabupaten Blitar, yakni Agung Wahyudi, Faris, Bangkit Jaya, dan Eka Fardan Maulana. Sebetulnya masih banyak atlet potensial asal Kabupaten Blitar. Namun, sebagian tengah fokus persiapan menuju SEA Games, seperti Galih Bangkit,” ujarnya.
Widodo, sapaan akrabnya, melanjutkan, capaian ini mengingatkankan pada perkembangan muaythai di Kabupaten Blitar sangat pesat.
Banyak atlet daerah yang kini masuk dalam program puslatda bahkan puslatnas. Hal ini membuat Kabupaten Blitar semakin dikenal sebagai barometer bela diri prestasi di Jawa Timur.
Dengan prestasi yang terus berlanjut, Kabupaten Blitar semakin mengukuhkan diri sebagai lumbung atlet bela diri berprestasi, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga nasional dan internasional.
“Kabupaten Blitar selalu menyumbangkan banyak medali baik di PON maupun kejurnas. Itu bukti bahwa pembinaan di daerah berjalan baik,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Kabupaten Blitar juga dipercaya menjadi tuan rumah Kejurprov Muaythai Piala Bupati Blitar yang akan digelar pada 9–11 Oktober mendatang di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok.
Event ini menjadi ajang penting untuk mengasah kemampuan atlet sekaligus menjaring bibit-bibit baru.
“Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga wadah talent scouting untuk regenerasi atlet muaythai Kabupaten Blitar dan Jawa Timur,” pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah