BLITAR-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik diskusi publik, kali ini soal menu yang disajikan. Bukan sekadar nasi, sayur, atau lauk tradisional, isu menu bergaya modern seperti burger mulai jadi perdebatan: apakah boleh masuk ke piring anak-anak sekolah?
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Moh. Adib Khumaidi, Sp.OT, mengingatkan bahwa menu MBG harus tetap berpatokan pada kaidah gizi seimbang. “Kita boleh sesekali variasi, tapi jangan sampai menu MBG malah melenceng dari tujuan utama: memenuhi gizi anak-anak dan ibu hamil,” ujarnya dalam konferensi pers IDI yang ditayangkan di YouTube, Senin (30/9/2025).
Antara Tradisional dan Modern
Di lapangan, tidak sedikit sekolah yang mencoba menyesuaikan selera anak-anak dengan makanan kekinian. Burger, sandwich, hingga nugget sering jadi pilihan. Namun, pakar gizi mengingatkan agar tren ini tidak menggeser menu utama berbasis pangan lokal.
Baca Juga: Geger Lagi! 10 Siswa Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Akhirnya Minta Maaf
“Kalau burger dibuat dengan bahan yang sehat, seperti roti gandum, daging segar, sayuran, dan dimasak dengan benar, sebenarnya tidak masalah. Tapi kalau sekadar fast food instan, tentu tidak sesuai dengan spirit MBG,” jelas Adib.
Risiko Kebiasaan Baru
IDI juga mengingatkan soal efek jangka panjang. Anak-anak yang terlalu sering diperkenalkan dengan makanan cepat saji bisa mengalami perubahan pola makan. Akibatnya, risiko obesitas maupun kekurangan zat gizi tertentu bisa meningkat.
“Program MBG jangan sampai hanya ikut-ikutan tren. Kita harus hati-hati, karena ini investasi kesehatan jangka panjang,” tegasnya.
Pangan Lokal Lebih Ramah
Sebaliknya, IDI mendorong agar pangan lokal tetap jadi prioritas. Menu seperti nasi jagung, sayur bening, tempe, tahu, atau ikan laut lokal bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dan ramah kantong.
Selain lebih mudah didistribusikan, pangan lokal juga mendukung ekonomi daerah. “Ini saatnya kita angkat kearifan pangan lokal. Anak-anak tetap bisa makan enak, bergizi, dan terjangkau,” tambahnya.
Suara Orang Tua
Di Blitar, sejumlah orang tua juga menanggapi isu ini dengan beragam pendapat. Rina, wali murid asal Kecamatan Wlingi, menilai variasi menu modern sah-sah saja, asal tidak berlebihan.
Baca Juga: Pemkab Blitar Siapkan 3 Titik Dapur untuk Makan Bergizi Gratis, Salah Satunya Ada Di Sini
“Sesekali burger sehat boleh, biar anak-anak semangat makan. Tapi jangan tiap hari. Kalau tiap hari, malah anak jadi terbiasa fast food,” katanya.
Sementara itu, sebagian orang tua lain lebih memilih makanan tradisional. “Anak-anak di rumah sudah terbiasa makan tempe, sayur, sama nasi. Kalau tiba-tiba dikasih burger, takutnya mereka malah pilih-pilih makanan,” ujar Supriyadi, warga Kanigoro.
Editor : Anggi Septian A.P.