BLITAR – Peristiwa G30S PKI meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Namun di balik tragedi penculikan para jenderal itu, tersimpan kisah mengejutkan dari warga sekitar Lubang Buaya yang kala itu menjadi saksi langsung perubahan suasana kampungnya.
Salah satu saksi hidup, Pak Yasin, mengungkap fakta mengejutkan bahwa aktivitas kesenian rakyat seperti reog dan pagelaran malam ternyata bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut digunakan sebagai pengalih perhatian warga dari aktivitas militer yang tengah dilakukan kelompok tertentu.
“Setiap malam di situ ramai, ada reog, layar tancap, banyak dagangan. Kami pikir itu hiburan biasa, ternyata di baliknya ada latihan-latihan,” kenang Pak Yasin dalam kesaksiannya.
Baca Juga: Ahli Gizi Lokal Bisa Jadi Kunci Sukses MBG, Tak Harus Selalu dari Pusat
Menurutnya, sebelum tragedi pecah, Lubang Buaya hanyalah kampung sederhana dengan rumah-rumah berjauhan. Warga hidup damai dan tak pernah menyangka wilayahnya menjadi pusat aktivitas rahasia. Ia mengaku sering melihat sekelompok orang berseragam berlatih di area sawah dekat monumen yang kini dikenal sebagai Monumen Pancasila Sakti.
“Awalnya saya kira tentara biasa. Tapi katanya, mereka bukan tentara asli. Ada simbol-simbol aneh di seragamnya,” ujar Yasin.
Seiring waktu, suasana kampung mulai terasa janggal. Mobil-mobil besar berlalu lalang di tengah malam. Warga hanya bisa menebak-nebak karena tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kegiatan kesenian menjadi selubung sempurna untuk menutupi latihan militer dan perekrutan pemuda rakyat oleh kelompok tersebut.
Baca Juga: Begini Tanggapan Dispendik Kota Blitar Terkait Menu MBG Berupa Mi Ayam hingga Burger
Warga Lubang Buaya tak menyadari bahwa malam-malam penuh hiburan itu justru menjadi prolog tragedi berdarah 30 September 1965. Pada malam itu, tujuh perwira tinggi TNI AD diculik dan dibawa ke kawasan tersebut, lalu disiksa dan dibunuh sebelum jasadnya dibuang ke sebuah sumur tua.
Pak Yasin yang masih kecil kala itu, hanya bisa menyaksikan perubahan drastis di kampungnya.“Tiba-tiba rame, banyak tentara, ada suara tembakan, orang-orang panik. Kami disuruh diam di rumah,” tuturnya.
Usai tragedi, pasukan RPKAD melakukan penggeledahan besar-besaran. Banyak rumah warga digeledah, termasuk milik tetangga Pak Yasin. Di salah satu rumah ditemukan senjata api yang diduga milik kelompok pemberontak.
“Rumahnya besar, orangnya kaya, tapi katanya cuma ketempatan. Bukan dia yang terlibat, mungkin cuma dipinjam tempatnya,” ungkap Yasin.
Kampung yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Warga dicekam rasa takut dan curiga. Bahkan lurah setempat berpesan agar warga tidak menyentuh pakaian hijau yang berserakan karena bisa jadi milik orang-orang yang terlibat.
Di tengah kekacauan itu, satu hal yang juga melekat di ingatan warga adalah lagu Genjer-Genjer. Lagu rakyat itu sering diputar di pagelaran sebelum tragedi. Setelah peristiwa G30S PKI, lagu itu berubah makna menjadi simbol kelam sejarah bangsa.
Baca Juga: Sekda Kota Blitar Daftar Calon Sekda di Daerah Lain, Wali Kota: Tak Masalah, Silahkan
Lebih dari setengah abad berlalu, kenangan pahit itu masih tertanam kuat dalam ingatan Pak Yasin. Ia menilai penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah, agar tidak mudah terprovokasi dan mengulangi kesalahan masa lalu.
“Anak muda sekarang berani-berani, tapi harus pakai akal. Jangan asal ikut. Lihat dulu tujuannya apa, benar apa enggak. Jangan sampai kejebur sejarah kelam,” pesan Yasin tegas.
Bagi Pak Yasin, tragedi di Lubang Buaya bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peringatan agar rakyat tak mudah terpengaruh gerakan tanpa memahami latar belakangnya. Sejarah pahit itu menjadi pelajaran agar bangsa Indonesia senantiasa menjaga persatuan dan kewaspadaan.
Baca Juga: Menu MBG Bikin Heboh: Bolehkan Burger Masuk Piring Anak Sekolah?
Kini, Lubang Buaya telah berubah menjadi kawasan padat penduduk dan destinasi sejarah. Namun di balik monumen megah dan diorama, kisah saksi hidup seperti Pak Yasin mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap kesenian, pernah tersimpan rahasia kelam bangsa.
Editor : Anggi Septian A.P.