Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

"Saksi Hidup G30S PKI Bongkar Rahasia Gelap Lubang Buaya: Setiap Malam Ada Kesenian, Ternyata untuk Tutupi Latihan Militer"

Findika Pratama • Rabu, 1 Oktober 2025 | 02:30 WIB

  

Photo
Photo

BLITAR — Seorang saksi hidup peristiwa G30S PKI, Pak Yasin, mengungkap fakta mengejutkan tentang aktivitas mencurigakan yang terjadi di kawasan Lubang Buaya menjelang tragedi kelam 1965. Ia mengaku, di balik hiruk pikuk pagelaran kesenian rakyat yang digelar hampir tiap malam, tersimpan kegiatan rahasia berupa latihan militer yang tak disadari warga sekitar.

Menurut penuturannya, sebelum tragedi meletus, Lubang Buaya hanyalah kampung tenang di pinggiran Jakarta. Warga hidup rukun, dan setiap malam disuguhi hiburan seperti reog, layar tancap, hingga pagelaran rakyat. Tak ada yang menyangka, di balik suasana yang meriah itu, terselip agenda tersembunyi.

“Setiap malam ada tontonan, ada reog, ramai sekali. Tapi ternyata itu pengalihan. Di baliknya ada latihan militer. Kami dulu tidak tahu apa-apa,” ujar Pak Yasin, mengenang masa kecilnya.

Baca Juga: Hargai dan Lestarikan Seni Budaya Daerah Lewat Ekskul Seni Tari di SMPN 1 Selopuro Blitar

Tragedi 30 September 1965 menjadi salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah Indonesia. Tujuh perwira tinggi TNI AD diculik dari rumah mereka, disiksa, dan dibunuh. Jasad mereka kemudian ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya. Tempat yang semula hanya kampung kecil itu, berubah menjadi saksi bisu tragedi berdarah.

Pak Yasin mengaku, saat itu Lubang Buaya masih berupa perkampungan dengan rumah yang jarang. Di salah satu rumah milik seorang guru bernama Darsono, sempat terlihat aktivitas mencurigakan. “Itu bukan sekadar rumah. Di situ ada kumpulan orang, katanya mau bikin sekolah. Tapi lama-lama kok jadi ramai orang latihan,” tuturnya.

Warga sekitar sempat mendengar kabar akan ada perekrutan pemuda rakyat — organisasi sayap PKI. Setiap rumah diminta menyerahkan anak muda untuk dilatih. “Katanya mau bantu orang tua, dikasih beras, tapi orang tua di sini banyak yang takut. Enggak mau ikut-ikutan,” jelasnya.

Baca Juga: Menu MBG Bikin Heboh: Bolehkan Burger Masuk Piring Anak Sekolah?

Menurutnya, selain kesenian dan hiburan malam, mobil-mobil tentara juga sering lalu-lalang di sekitar lokasi. Namun, warga tak berani curiga karena kegiatan itu selalu dibungkus acara rakyat. “Mobil tentara keluar masuk. Kami pikir latihan biasa. Enggak tahu kalau itu latihan beneran,” ucapnya.

Malam 30 September 1965 menjadi titik puncak. Suasana berubah mencekam. Suara tembakan dan aktivitas tak biasa terdengar hingga dini hari. Setelah tragedi terbongkar, warga kaget mengetahui rumah-rumah di sekitar dijadikan markas sementara.

“Setelah ditemukan sumur itu, pasukan datang menggeledah. Ada rumah orang kaya, Pak Haji Bain, katanya dijadikan tempat simpan senjata. Padahal orangnya baik, mungkin cuma ketempatan,” kata Pak Yasin.

Baca Juga: ⁠Begini Tanggapan Dispendik Kota Blitar Terkait Menu MBG Berupa Mi Ayam hingga Burger

Setelah penggeledahan oleh pasukan RPKAD, kampung mendadak penuh ketakutan. Warga diminta tidak menyentuh barang apapun, terutama baju hijau yang ditemukan berserakan. “Kata RT, kalau ada baju hijau jangan diambil. Itu sudah dibuang orang-orangnya,” kenangnya.

Kini, lebih dari setengah abad berlalu, Pak Yasin menilai peristiwa itu harus jadi pelajaran bagi generasi muda. Ia berpesan agar anak muda berhati-hati terhadap ajakan yang tidak jelas arah dan tujuannya.

“Anak-anak sekarang berani, tapi harus pakai akal. Jangan asal ikut. Cari tahu dulu benar apa enggak. Kalau enggak, bisa kejebak kayak dulu,” pesannya.

Baca Juga: DPRD Kota Blitar Minta Pemkot Hentikan Sementaran Setoran Modal ke Dua BUMD Ini: Benahi Kinerja Dulu

Lubang Buaya kini menjadi monumen sejarah, tempat bangsa mengenang peristiwa yang mengguncang negara. Melalui kisah saksi hidup seperti Pak Yasin, masyarakat diingatkan bahwa tragedi G30S PKI bukan sekadar catatan, melainkan peringatan akan pentingnya kewaspadaan dan persatuan bangsa.

Editor : Anggi Septian A.P.
#g30s pki #saksi hidup #lubang buaya