BLITAR — Lebih dari setengah abad setelah tragedi G30S PKI mengguncang Indonesia, seorang saksi hidup, Pak Yasin, kembali mengingat peristiwa kelam di Lubang Buaya. Ia bukan hanya menyaksikan bagaimana tragedi itu berlangsung, tetapi juga menegaskan pesan penting bagi generasi muda masa kini agar tak mengulangi kesalahan serupa.
Menurutnya, banyak warga saat itu tak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Mereka hanya melihat aktivitas rutin seperti pagelaran kesenian, latihan baris-berbaris, atau perekrutan pemuda rakyat tanpa curiga. “Kami waktu itu masih anak-anak. Enggak tahu apa-apa. Tahunya ada hiburan tiap malam, ternyata itu buat nutupi latihan militer,” kenangnya.
Tragedi 30 September 1965 menjadi salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Indonesia. Tujuh perwira tinggi TNI AD diculik, disiksa, dan dibunuh oleh kelompok yang disebut Gerakan 30 September (G30S PKI). Jasad mereka ditemukan di sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Baca Juga: Viral! Anak Sekolah Dapat Menu Burger dari Program MBG, Sehat atau Bikin Cemas?
Pak Yasin, yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar, tak pernah menyangka kampungnya akan menjadi lokasi peristiwa nasional yang mengubah arah sejarah bangsa. Setelah kejadian, suasana kampung berubah drastis: penggeledahan dilakukan besar-besaran, banyak warga ketakutan, dan kehidupan sosial tak lagi sama.
Namun, dari pengalaman pahit itulah, Pak Yasin menyampaikan pesan moral yang sangat relevan untuk generasi sekarang. Ia menilai, anak muda masa kini memang lebih berani dan terbuka, tetapi sering kali kurang waspada terhadap ajakan yang menyesatkan.
“Anak-anak sekarang berani, pintar. Tapi jangan asal ikut. Harus tahu dulu itu tujuannya apa. Jangan karena ajakan ramai, langsung ikut. Bisa kejebak kayak dulu,” ujar Pak Yasin dengan nada tegas.
Baca Juga: Sekda Kota Blitar Daftar Calon Sekda di Daerah Lain, Wali Kota: Tak Masalah, Silahkan
Ia menegaskan, keberanian tanpa pengetahuan bisa menjadi bumerang. Sejarah G30S PKI menunjukkan bahwa banyak orang ikut terlibat tanpa sadar dalam pusaran konflik besar. “Dulu ada yang direkrut katanya buat bantu orang tua, dikasih beras. Tapi ternyata dibawa ke latihan militer. Akhirnya ikut-ikutan tanpa tahu arah,” tuturnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah keberagaman. Menurutnya, dulu masyarakat Lubang Buaya hidup dalam komunitas homogen, sehingga mudah kompak dan saling mengingatkan. Kini, dengan masyarakat yang semakin majemuk, ia mengajak generasi muda untuk menjaga sikap saling menghormati dan tidak mudah terpecah.
“Sekarang orang di sini campur, ada Betawi, Jawa, Sunda. Jadi harus saling jaga, jangan gampang diadu domba. Kalau ada masalah, selidikin dulu, jangan langsung percaya,” pesan Pak Yasin.
Baca Juga: Dapur MBG di Kabupaten Blitar Terapkan SOP Ketat Penyajian Menu Antisipasi Keracunan
Baginya, tragedi masa lalu adalah pengingat bahwa bangsa yang besar harus belajar dari sejarahnya sendiri. Mengabaikan sejarah sama saja membuka peluang bagi kesalahan serupa terulang kembali.
“Sejarah itu pahit, tapi penting. Kalau enggak mau kejadian lagi, ya harus diingat, dipelajari. Anak muda jangan cuek sama sejarah,” katanya.
Kini, Lubang Buaya telah berubah menjadi kawasan monumen dan museum sejarah. Di tempat inilah generasi muda bisa belajar langsung tentang tragedi 1965, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.
Baca Juga: Antisipasi Keracunan, Pemkot Blitar Terus Monitoring Dapur Penyedia MBG
Pesan Pak Yasin pun menjadi refleksi: di era keterbukaan informasi, keberanian dan semangat juang anak muda tetap harus diimbangi dengan pengetahuan, kewaspadaan, dan kecintaan terhadap tanah air. Karena sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tapi cermin untuk masa depan.
Editor : Anggi Septian A.P.