BLITAR — “Malam itu sunyi, tapi tiba-tiba terdengar suara truk masuk gang. Lalu ada teriakan, ada suara tembakan. Kami semua ketakutan.” Begitu kenangan Pak Yasin, saksi hidup tragedi G30S PKI, menggambarkan malam mencekam yang masih membekas di ingatannya hingga kini.
Peristiwa berdarah itu terjadi pada malam 30 September 1965. Saat kebanyakan warga sedang terlelap, sekelompok pasukan bersenjata dari Gerakan 30 September (G30S) mulai bergerak ke rumah-rumah para jenderal TNI AD di Jakarta. Mereka menculik dan membawa para korban ke sebuah lokasi di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Bagi warga sekitar, malam itu seperti mimpi buruk. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa kawasan yang biasanya sepi itu akan menjadi saksi bisu salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Baca Juga: Viral! Anak Sekolah Dapat Menu Burger dari Program MBG, Sehat atau Bikin Cemas?
“Sekitar jam dua belas malam lewat sedikit, kami dengar suara mesin besar. Enggak cuma satu, tapi beberapa. Lalu dari kejauhan kayak ada orang jerit, ada yang diseret,” tutur Pak Yasin yang saat itu masih anak-anak.
Ia mengingat, suasana mendadak berubah tegang. Lampu-lampu rumah dipadamkan, warga mengintip dari balik jendela. Beberapa orang bahkan memilih bersembunyi di dalam rumah dan menahan napas. Tak ada yang berani keluar.
“Semua gelap, cuma dengar suara langkah kaki, orang lari, lalu kayak suara besi dibanting. Kami enggak tahu apa-apa, cuma takut,” ujarnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Terbebani Gaya Hidup Tidak Sehat: 95% Klaim dari Penyakit yang Dapat Dicegah
Belakangan baru diketahui, suara-suara itu berasal dari aktivitas pasukan G30S yang tengah menahan para perwira tinggi. Para jenderal dibawa ke Lubang Buaya dengan tangan terikat, lalu mengalami penyiksaan sebelum akhirnya dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur tua.
Bagi warga kecil seperti Pak Yasin, yang kala itu tak paham politik, semua terasa seperti mimpi buruk yang tak masuk akal. “Paginya, suasana kampung berubah. Banyak tentara datang, ada garis larangan. Kami disuruh diam. Baru beberapa hari kemudian dengar kabar katanya di sini ada pembunuhan besar,” katanya.
Warga Lubang Buaya kala itu juga masih merasakan ketegangan selama berminggu-minggu setelah kejadian. Ada razia besar-besaran, pemeriksaan identitas, dan desas-desus yang membuat penduduk hidup dalam ketakutan. “Kalau malam, enggak ada yang berani keluar rumah. Orang baru tenang setelah tentara masuk dan jaga di sini,” tutur Pak Yasin.
Baca Juga: DPRD Kota Blitar Minta Pemkot Hentikan Sementaran Setoran Modal ke Dua BUMD Ini: Benahi Kinerja Dulu
Tragedi malam 30 September bukan sekadar kisah sejarah, tapi menjadi pengingat betapa cepatnya situasi bisa berubah ketika kekuasaan dan ideologi saling bertabrakan. Banyak saksi hidup menggambarkan perasaan mereka bukan sekadar takut, tapi juga bingung dan tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Kini, Lubang Buaya telah berubah menjadi kawasan museum dan monumen sejarah. Di sana berdiri patung tujuh pahlawan revolusi dan sumur tua yang menjadi simbol tragedi. Setiap tahun, terutama menjelang peringatan 30 September, masyarakat datang untuk mengenang para korban dan belajar dari sejarah kelam itu.
Bagi Pak Yasin, mengenang malam itu bukan sekadar menakuti generasi muda, tapi menjadi pelajaran penting agar bangsa ini tak mudah diadu domba. “Kalau sekarang anak muda dengar cerita ini, jangan cuma seramnya yang diingat. Tapi ambil hikmahnya — kalau kita lengah, kalau kita gampang percaya kabar, bisa kejadian lagi hal-hal begini,” pesannya.
Baca Juga: DPRD Kota Blitar Minta Pemkot Hentikan Sementaran Setoran Modal ke Dua BUMD Ini: Benahi Kinerja Dulu
Ia menutup kisahnya dengan nada berat, “Malam itu saya masih kecil, tapi suara truk, jeritan, dan ketakutan itu masih saya ingat sampai sekarang. Enggak bisa hilang. Semoga enggak ada lagi malam seperti itu di Indonesia.”
Editor : Anggi Septian A.P.