Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengapa Ayah di Indonesia Jarang Hadir dalam Pendidikan Anak?

Rizqina Lailal Akhtari • Minggu, 5 Oktober 2025 | 21:00 WIB

Banyak ayah di Indonesia hadir fisik tapi absen emosional, anak tumbuh tanpa fondasi kasih sayang, iman, dan pendidikan yang kokoh.
Banyak ayah di Indonesia hadir fisik tapi absen emosional, anak tumbuh tanpa fondasi kasih sayang, iman, dan pendidikan yang kokoh.

BLITAR KAWENTAR - Meski tinggal serumah, banyak ayah di Indonesia justru tidak benar-benar hadir dalam pendidikan anaknya. Mengapa fenomena ini terjadi dan apa dampaknya bagi masa depan generasi muda?

Data KPAI tahun 2015 mengungkap fakta mencemaskan: hanya 25 persen orang tua di Indonesia yang benar-benar mengurus anaknya tanpa bantuan pembantu rumah tangga. Waktu interaksi yang diberikan pun rata-rata hanya satu jam sehari. Itu pun sering dihabiskan untuk menemani anak bermain gawai, bukan mendidik atau berkomunikasi secara mendalam.

Fenomena ini menimbulkan dampak jangka panjang. Anak-anak tumbuh dengan minim komunikasi emosional dengan ayahnya. Hubungan keluarga menjadi fungsional semata, bukan edukatif dan penuh kasih sayang.

Baca Juga: Ade Rai Bongkar Rahasia Makan Bakso dan Nasi Padang Tetap Sehat

Sosiolog keluarga menilai, minimnya peran ayah di Indonesia dipengaruhi faktor budaya dan ekonomi. Secara budaya, tanggung jawab pendidikan sering dianggap domain ibu. Secara ekonomi, banyak ayah yang fokus pada pekerjaan sehingga mengabaikan kehadiran emosional.

Padahal, Islam menekankan peran ayah sebagai qawwam (pelindung) keluarga. Kisah Luqman al-Hakim dalam Al-Qur’an mencontohkan bagaimana ayah menasihati anaknya dengan penuh cinta. Nabi Ibrahim bahkan menjadi teladan dalam mendidik anak tentang iman dan ketaatan.

Sayangnya, wacana publik lebih sering menekankan soal anak durhaka ketimbang orang tua yang abai. Padahal, menurut Umar bin Khattab, orang tua yang gagal mendidik anak dapat disebut durhaka.

Baca Juga: Mutilasi di Mojokerto: Emosi Sepele Berujung Tragedi Sadis

Fenomena minimnya kehadiran ayah bukan sekadar masalah individu, melainkan isu sosial dan budaya. Untuk mengatasinya, dibutuhkan kesadaran kolektif bahwa ayah punya peran penting dalam pendidikan anak, bukan hanya penyedia nafkah.

Editor : M. Subchan Abdullah
#fatherless #fatherless country #kasih sayang #RUMAH TA NGGA