BLITAR KAWENTAR - Bawakaraeng, Latimojong, Bulusaraung. Nama-nama itu sudah akrab di telinga para pendaki. Namun di balik ramainya jalur populer, Sulawesi Selatan masih menyimpan jalur sunyi: Gunung Talo Banua di Pinrang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sulawesi Selatan semakin populer di kalangan pendaki nasional. Puncak-puncak gunungnya menjadi tujuan favorit karena keindahan alam sekaligus akses yang relatif mudah. Namun popularitas itu memunculkan masalah klasik: jalur yang padat, sampah, hingga tekanan terhadap ekosistem.
Talo Banua hadir sebagai kontras. Gunung ini jarang dikunjungi karena aksesnya sulit dan minim informasi. Bahkan, banyak pendaki lokal pun belum mengenalnya. Ekspedisi Jalur Sunyi membuktikan bahwa Talo Banua menyimpan potensi wisata besar. Perjalanan penuh tantangan melalui hujan deras, motor jatuh, hingga jalur licin justru menegaskan betapa masih “liar”-nya gunung ini.
Baca Juga: Edukasi Gizi Populer: Ade Rai Patahkan Mitos Makanan Tradisional Indonesia
Fenomena ini menunjukkan dua wajah pariwisata alam: di satu sisi, gunung populer memberi akses lebih luas; di sisi lain, jalur tersembunyi menawarkan eksklusivitas dan kelestarian.
Sulawesi Selatan tidak hanya soal gunung-gunung terkenal. Talo Banua menjadi pengingat bahwa masih ada destinasi alami yang menunggu untuk ditemukan, tentu dengan tanggung jawab menjaga keaslian dan kelestariannya.