BLITAR-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Tak hanya soal menu dan pendistribusian, wacana soal siapa yang mengelola program ini juga ikut ramai dibahas. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai, kunci sukses program ini justru bisa dimulai dari daerah dengan melibatkan ahli gizi lokal.
Ketua Umum IDI, dr. Moh. Adib Khumaidi, Sp.OT, menegaskan bahwa keberadaan tenaga gizi tidak harus selalu dipasok dari pusat. Menurutnya, di setiap daerah sudah banyak lulusan ahli gizi yang bisa dilibatkan. “Kita punya banyak sarjana gizi, bahkan sampai ke tingkat daerah. Tinggal bagaimana program ini bisa terhubung dengan mereka,” ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube IDI, Senin (30/9/2025).
Menghidupkan Potensi Lokal
Adib menilai, melibatkan tenaga gizi lokal bukan hanya mempermudah teknis pengawasan, tetapi juga bisa menekan biaya operasional. Sebab, program MBG tidak hanya soal memasak dan membagikan makanan, melainkan juga soal memastikan kandungan gizi sesuai kebutuhan anak sekolah dan ibu hamil.
Baca Juga: Geger Lagi! 10 Siswa Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Akhirnya Minta Maaf
“Kalau kita mengandalkan pusat saja, pasti akan banyak kendala. Mulai dari distribusi, kontrol kualitas makanan, sampai biaya tambahan. Padahal daerah punya potensi yang bisa diberdayakan,” tambahnya.
Dengan cara ini, MBG sekaligus bisa menjadi sarana membuka lapangan kerja baru bagi tenaga gizi yang selama ini belum terserap maksimal.
Pangan Lokal Jadi Kekuatan
Selain soal tenaga ahli, IDI juga menekankan pentingnya memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai menu utama. Hal ini bisa menjadi solusi untuk menjaga keberlanjutan program tanpa membebani anggaran negara terlalu besar.
Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
“Di setiap daerah punya pangan khas yang bisa diolah menjadi menu bergizi. Tidak harus semua seragam dari pusat. Justru keberagaman itu yang membuat anak-anak bisa mengenal makanan sehat dari lingkungannya sendiri,” kata Adib.
Dengan memanfaatkan pangan lokal, rantai pasok menjadi lebih singkat. Selain lebih segar, risiko makanan basi juga bisa ditekan. IDI menegaskan, makanan yang diberikan ke anak-anak sebaiknya tidak lebih dari 4 jam sejak dimasak agar kandungan gizinya tetap terjaga.
Menekan Angka Stunting
Program MBG sejatinya dirancang sebagai langkah strategis menurunkan angka stunting di Indonesia. Data terakhir menunjukkan, prevalensi stunting masih berada di kisaran 21 persen. Dengan MBG, pemerintah menargetkan generasi muda Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan bebas dari malnutrisi.
Baca Juga: Pemkab Blitar Siapkan 3 Titik Dapur untuk Makan Bergizi Gratis, Salah Satunya Ada Di Sini
Namun, tanpa pengelolaan yang baik, program ini dikhawatirkan hanya menjadi kegiatan seremonial. “MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan. Ada konsep besar yang harus dipahami: ini investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi emas 2045,” tegas Adib.
Dukungan dari Masyarakat
Sejumlah orang tua murid menyambut baik ide melibatkan ahli gizi dan pangan lokal. Siti Aminah, wali murid dari Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, berharap program ini benar-benar serius dijalankan.
“Kalau bisa makanan yang sehat itu sesuai dengan kebiasaan anak-anak di sini. Misalnya sayur lodeh, tempe, tahu, tapi dibuat dengan porsi yang tepat. Kalau selalu makanan dari luar daerah, anak-anak kadang malah tidak mau makan,” ujarnya.