Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Wush vs Shinkansen: Begini Perbandingan Kereta Cepat Indonesia dan Jepang

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:40 WIB
Wush vs Shinkansen: Begini Perbandingan Kereta Cepat Indonesia dan Jepang
Wush vs Shinkansen: Begini Perbandingan Kereta Cepat Indonesia dan Jepang

BLITAR-Sejak diresmikan pada 2023, kereta cepat Indonesia “Whoosh” (Wush) menjadi tonggak baru dalam sejarah transportasi nasional. Proyek yang menghubungkan Jakarta–Bandung ini sering dibandingkan dengan Shinkansen Jepang, pelopor sistem kereta cepat dunia yang sudah beroperasi lebih dari enam dekade.

Perbandingan Wush vs Shinkansen menarik karena keduanya sama-sama menjadi simbol kemajuan teknologi dan efisiensi perjalanan. Namun, di balik kesamaannya, ada perbedaan besar dari sisi kecepatan, biaya, teknologi rel, hingga sistem keselamatan.

Awal Mula Wush dan Shinkansen

Gagasan pembangunan kereta cepat di Indonesia sudah muncul sejak 2008, tetapi baru terealisasi setelah pemerintah memilih proposal dari China Railway pada 2015. Proyek ini kemudian dikembangkan oleh konsorsium BUMN PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia–China) dan rampung pada 2023 dengan nama resmi Whoosh, singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal.

Sementara itu, Shinkansen Jepang sudah beroperasi sejak 1964, saat Jepang tengah bangkit dari kehancuran pasca Perang Dunia II. Jalur pertama, Tokaido Shinkansen yang menghubungkan Tokyo–Osaka sepanjang 515 kilometer, menjadi tonggak sejarah transportasi cepat dunia dan menjadi model yang diikuti banyak negara, termasuk Indonesia.

Perbandingan Biaya dan Pendanaan

Untuk membangun Wush, Indonesia menghabiskan dana sekitar 7,3 miliar dolar AS atau Rp120 triliun, sebagian besar berasal dari pinjaman China Development Bank dan penyertaan modal konsorsium BUMN.

Sebaliknya, pembangunan Shinkansen di Jepang dilakukan bertahap sejak era 1960-an. Biayanya bervariasi tergantung rute dan teknologi. Jalur Tohoku Shinkansen misalnya, dibangun dengan biaya sekitar 80 juta dolar per kilometer di masa awal, dan kini mencapai 100–150 juta dolar (sekitar Rp1,6–2,4 triliun per km).

Dengan total lintasan 142,3 km, Wush jauh lebih pendek dibanding jaringan Shinkansen yang telah mencapai ribuan kilometer, dari Tokyo hingga Hokkaido di utara dan Fukuoka di selatan Jepang.

Kecepatan dan Teknologi Kereta

Dari sisi kecepatan, Whoosh menggunakan model CR400AF Fuxing, yang mampu melaju hingga 350 km/jam, namun dalam operasionalnya dibatasi di angka 320 km/jam demi alasan keamanan.

Sedangkan Shinkansen memiliki beragam seri. Varian Nozomi di rute Tokyo–Osaka berkecepatan 285 km/jam, sementara model Alpha-X yang sedang diuji di Jepang bisa menembus 400 km/jam.

Meski begitu, perbedaan utama bukan hanya pada kecepatan, tetapi juga pada sistem teknologinya. Wush menggunakan rel baja standar gauge 1.435 mm dengan bantalan beton, sementara Shinkansen telah menerapkan continuous welded rail (CWR) tanpa sambungan, sehingga perjalanan terasa lebih halus dan minim guncangan.

Keamanan dan Kenyamanan Penumpang

Shinkansen dikenal sebagai kereta cepat paling aman di dunia. Selama lebih dari 60 tahun operasionalnya, nyaris tidak pernah terjadi kecelakaan fatal. Salah satu kuncinya adalah sistem anti-gempa otomatis yang memungkinkan kereta berhenti total begitu sensor mendeteksi getaran seismik di jalur rel.

Sementara Wush, sebagai proyek baru, telah menerapkan sejumlah standar keselamatan internasional, namun belum memiliki sistem deteksi gempa sekomprehensif Shinkansen. Dari segi interior, Wush menawarkan desain futuristik dan modern, kursi ergonomis, serta konektivitas digital yang kuat, menyesuaikan kebutuhan masyarakat urban.

Namun secara kapasitas dan efisiensi energi, Shinkansen lebih unggul. Seri terbaru N700S misalnya, dirancang lebih ringan, hemat listrik, dan mampu tetap berjalan meskipun terjadi pemadaman daya di sebagian jalur.

Simbol Kemajuan Transportasi Modern

Kehadiran Wush menjadi langkah besar bagi Indonesia di sektor transportasi publik berteknologi tinggi. Dengan waktu tempuh hanya 36–44 menit dari Jakarta ke Bandung, kereta ini memangkas perjalanan yang biasanya memakan waktu tiga jam lebih lewat tol.

Namun, dibanding Shinkansen, Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan sistem transportasi cepat. Jepang telah memiliki jaringan lebih dari 3.000 km rel berkecepatan tinggi yang saling terintegrasi, sedangkan Indonesia baru memiliki satu lintasan.

Para pengamat menilai, proyek Wush bisa menjadi fondasi awal bagi pengembangan jaringan kereta cepat nasional, termasuk rencana perluasan ke Surabaya atau Yogyakarta. Tantangan berikutnya adalah bagaimana Indonesia menjaga efisiensi, okupansi, dan keberlanjutan keuangan proyek ini.

Kesimpulan: Siapa yang Lebih Unggul?

Jika bicara kecepatan dan teknologi, Shinkansen jelas masih memimpin. Namun dari sisi pencapaian, Wush patut diapresiasi karena menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Sebagaimana Shinkansen menjadi simbol kebangkitan Jepang, Wush diharapkan menjadi lambang modernisasi transportasi Indonesia. Tantangannya kini adalah bagaimana membuat teknologi itu tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan, aman, dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Wush #transportasi modern #KCIC #Shinkansen #Kereta Cepat Indonesia