BLITAR-Di tengah riuhnya tagar Boikot Trans7 yang menggema di media sosial, suasana publik terasa panas. Tayangan Xpose Uncensored yang menyinggung kehidupan pesantren Lirboyo menuai gelombang protes dari santri, alumni, hingga tokoh agama.
Trans7 mungkin cerdas membuat tayangan yang viral, tapi para kiai jauh lebih bijak dalam mengajarkan adab. Ketika sebuah program televisi bisa menyinggung martabat pesantren, tujuh dawuh ulama Jawa Timur ini hadir bukan dengan amarah, melainkan dengan kesejukan yang menelanjangi kesombongan tanpa perlu berteriak.
Sejumlah dawuh dari para ulama besar Jawa Timur kembali ramai dibagikan. Mereka bukan hanya pesan moral untuk santri, tapi juga cermin bagi masyarakat luas, termasuk dunia media yang kini kerap terseret arus sensasi.
Berikut tujuh dawuh para kiai yang bisa jadi pengingat di tengah hiruk-pikuk zaman digital.
1. Gus Iqdam: Cinta Harus Membawa Kita Lebih Dekat kepada Allah
“Cinta itu bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang komitmen dan tanggung jawab. Cinta itu harus saling menghormati dan mendukung. Cinta itu harus bisa membawa kita lebih dekat dengan Allah.”
Kata-kata KH. Muhammad Iqdam, pengasuh Majelis Ta’lim Sabilu Taubah Blitar, ini belakangan sering dikutip warganet. Dalam konteks boikot Trans7, dawuh ini seolah menegaskan: cinta kepada kiai dan pesantren tidak boleh berubah jadi amarah membabi buta.
Cinta sejati, kata Gus Iqdam, menuntun pada akhlak, bukan hanya pembelaan emosional.
2. Gus Miek: Ciptakan Kedamaian Lahir dan Batin
“Harus kita ciptakan sesuatu yang indah. Dan sesuatu yang indah itu adalah ketenteraman, ketenangan dan kedamaian lahiriyah-bathiniyah, di sini yang fana dan di sana yang baka.”
Dawuh KH. Hamim Jazuli (Gus Miek) terasa relevan di era media sosial. Saat banyak orang berebut menjadi yang paling benar, Gus Miek justru mengajak untuk menciptakan yang indah—yakni ketenangan dan kedamaian.
Pesan ini menjadi obat penenang di tengah derasnya ujaran kebencian yang muncul pascainsiden Trans7.
3. KH. Mahrus Aly Lirboyo: Jangan Panjang Angan-Angan
“Aku mbiyen ora muluk-muluk pengen dadi wong terhormat... nek santri lumuh ngaji, lumuh sinau, lumuh kerja tapi pengene dadi wong sugih iku jenenge طول الأمل alias panjang angan-angan.”
Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo ini mengajarkan tentang kerendahan hati.
Dalam konteks sekarang, dawuh beliau bisa dimaknai sebagai peringatan agar jangan tergoda mencari kehormatan lewat cara instan—termasuk media yang kadang mengejar sensasi demi rating.
KH. Mahrus mengingatkan bahwa kemuliaan datang dari ketekunan, bukan dari sorotan.
4. KH. Nurul Huda Djazuli: Adab di Atas Kecerdasan
“Hati-hati dengan kecerdasan, banyak pemuda hancur karena kecerdasannya sebab tidak diimbangi dengan adab dan tata krama.”
Inilah dawuh yang paling menohok. KH. Nurul Huda, pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, menegaskan bahwa kecerdasan tanpa adab bisa berujung kehancuran.
Kalimat ini terasa menampar siapa pun—termasuk para pekerja media yang mungkin cerdas dalam mencari isu, tapi lupa menimbang etika.
Sebab, seperti kata para kiai, ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang dibungkus kepintaran.
5. KH. M. Anwar Manshur: Jangan Ikut Zaman yang Tidak Karuan
“Jangan mudah terbawa zaman, sekarang sudah tidak karuan. Jangan ikut-ikutan tidak karuan.”
Di era ketika viral lebih dihargai daripada kebenaran, dawuh KH. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Lirboyo saat ini, jadi pengingat penting.
Pesannya sederhana tapi tajam: jangan ikut arus jika arus itu membawa kita jauh dari nilai.
Di tengah gelombang boikot dan kemarahan publik, ucapan beliau terasa seperti rem bagi mereka yang mudah terprovokasi.
6. KH. Abdul Hamid: Sesuatu yang Terlanjur Harus Dibenahi
“Kembang jagung dipetik Cino, barang wis kadung ya dibenakno.”
Dawuh ini seperti pesan untuk Trans7. Kesalahan sudah terjadi, tapi bukan berarti tak bisa diperbaiki.
KH. Abdul Hamid menegaskan bahwa manusia tempatnya khilaf, dan yang penting adalah bagaimana ia memperbaikinya.
Mungkin, permintaan maaf Trans7 bisa dimaknai sebagai langkah awal untuk membenakno — memperbaiki yang sudah terlanjur.
7. Gus Dur: Agama Harus Melayani Kemanusiaan
“Fiqh politik itu harus melayani kemanusiaan, jangan sampai agama digunakan untuk menindas.”
Dawuh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menjadi penutup yang menenangkan.
Gus Dur mengingatkan bahwa agama—dan seluruh perangkat sosial di dalamnya—seharusnya mengangkat martabat manusia, bukan dijadikan alat saling serang.
Dalam situasi panas seperti sekarang, pesan ini terasa seperti embun di tengah gurun digital.
Menyejukkan di Tengah Panasnya Isu
Kemarahan publik terhadap Trans7 menunjukkan betapa kuatnya rasa cinta masyarakat kepada pesantren dan kiai. Namun para ulama sendiri justru mengajarkan kesejukan, bukan kebencian.
Tujuh dawuh ini menjadi bukti bahwa Islam Indonesia, khususnya dari pesantren Jawa Timur, memiliki akar yang kuat: cinta, adab, dan kemanusiaan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti berteriak dan mulai mendengar.
Karena seperti kata Gus Miek, yang indah itu bukan suara keras, tapi ketenangan hati yang membawa kita lebih dekat kepada yang Maha Damai.(*)