BLITAR KAWENTAR - Di balik semangat anak muda mengejar karier dan bisnis, ada realitas pahit yang sering diabaikan. Dokter Tirta menyebut sebagian besar mahasiswa Indonesia terjebak dalam kemiskinan struktural dan tekanan sosial yang tidak realistis.
Dalam pemaparannya, Dr. Tirta menjelaskan bahwa tidak semua orang punya titik awal yang sama. “Ada yang lahir dengan privilege finansial, ada yang tidak punya apa-apa,” katanya. Ia menilai bahwa struktur sosial Indonesia masih menciptakan kesenjangan yang membuat sebagian anak muda sulit naik kelas.
Menurutnya, banyak mahasiswa merasa tertekan oleh standar sosial: usia 25 harus punya tabungan besar, usia 30 harus punya rumah, atau harus menikah sebelum mapan. Padahal kenyataannya, tidak semua punya kesempatan yang sama. “Kalian termakan standar society yang fiktif,” ujarnya.
Dr. Tirta mengakui bahwa banyak anak muda yang bekerja keras tetap sulit mencapai stabilitas karena sistem ekonomi belum berpihak. “Kalau kamu finansialnya hancur, privilege nggak ada, IPK pas-pasan, ya bertahanlah dulu. Cari kerja, kumpulkan pengalaman, jangan langsung bisnis,” katanya.
Ia juga menyoroti generasi sandwich yang harus menanggung beban ekonomi keluarga sekaligus masa depan sendiri. “Kalau kamu dalam posisi ini, jangan malu. Tapi sadari bahwa perjalananmu memang lebih berat,” ujarnya.
Pesan Dr. Tirta menggambarkan kenyataan bahwa kesuksesan bukan hanya soal kerja keras, tapi juga sistem sosial dan kesempatan. Ia mendorong anak muda untuk tetap realistis, bertahan, dan membangun kapasitas diri secara bertahap.
Editor : M. Subchan Abdullah