Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Heroik WR Supratman: Pencipta Indonesia Raya yang Dikejar Belanda Demi Lagu Kemerdekaan

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Selasa, 28 Oktober 2025 | 03:20 WIB
Hari Sumpah Pemuda 2025: Kemenpora Usung Tema “Pemuda-Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”
Hari Sumpah Pemuda 2025: Kemenpora Usung Tema “Pemuda-Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”

BLITAR — Nama WR Supratman selalu terukir di setiap lembar sejarah Indonesia. Sosoknya bukan hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga pejuang yang melahirkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, simbol persatuan yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa. Namun, di balik lantunan nada yang penuh heroisme itu, tersembunyi kisah perjuangan, pengorbanan, dan ancaman yang nyaris merenggut nyawanya.

Awal Kehidupan WR Supratman

Wage Rudolf Supratman lahir pada 19 Maret 1903. Nama “Wage” diberikan karena ia dilahirkan pada hari Jumat Wage menurut penanggalan Jawa. Pada usia enam tahun, ia mengikuti kakak perempuannya ke Makassar setelah menikah dengan Willem van Eldik, seorang pejabat administrasi kepolisian Hindia Belanda. Dari sinilah jalan hidup Supratman mulai berubah.

Van Eldik mengangkatnya sebagai anak dan menambahkan nama “Rudolf” agar terlihat seperti keturunan Belanda. Di Makassar pula, ia mulai mengenal dunia musik setelah mendapatkan hadiah biola saat ulang tahunnya yang ke-17. Hadiah itu menjadi titik balik bagi lahirnya seorang komponis besar Indonesia. Ia kemudian mendirikan grup musik Black and White, yang menandai awal kariernya di dunia seni.

Dari Wartawan ke Pencipta Lagu Kebangsaan

Tahun 1924, Supratman meninggalkan Makassar dan merantau ke Pulau Jawa. Ia bekerja sebagai wartawan di surat kabar kaum muda di Bandung, lalu pindah ke Batavia dan bergabung dengan harian Sin Po. Dunia jurnalistik membuatnya dekat dengan pergerakan nasional dan semangat kebangsaan yang sedang berkobar di kalangan pemuda saat itu.

Sebuah artikel dalam majalah Timbul yang menantang para seniman Hindia Belanda menciptakan lagu kebangsaan menjadi pemantik semangatnya. Dengan biola kesayangannya, Supratman mencurahkan seluruh jiwa dan tenaganya selama berhari-hari. Hingga akhirnya, pada pagi hari kedelapan pukul 05.00, lahirlah lagu Indonesia Raya — lagu yang kelak menggetarkan hati seluruh rakyat Nusantara.

Indonesia Raya Menggema di Kongres Pemuda

Lagu Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 — momentum yang juga melahirkan Sumpah Pemuda. Dengan tangan gemetar, WR Supratman memainkan biolanya di podium, sementara 50 pemuda menyanyikan lagu itu dengan penuh haru.

Nada-nada yang dilantunkan Supratman seolah menjadi pemantik bara semangat bagi para pemuda Indonesia. Dari gedung kongres hingga pelosok kampung, lagu Indonesia Raya pun terus berkumandang, menjadi simbol persatuan dan perlawanan terhadap penjajahan.

Namun, semangat kemerdekaan yang terkandung dalam lirik “merdeka, merdeka” justru membuat pemerintah kolonial Belanda marah. Lagu itu dianggap sebagai simbol pemberontakan.

Dikejar Belanda dan Akhir Hayat Sang Pahlawan

Sejak saat itu, WR Supratman masuk dalam daftar incaran intel Belanda. Lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan di depan umum. Ia terus diburu dan terpaksa berpindah-pindah tempat — dari Jakarta, Cimahi, Malang, hingga akhirnya menetap di Surabaya dalam keadaan sakit.

Pada 17 Agustus 1938, tepat di hari Rabu Wage, WR Supratman menghembuskan napas terakhir akibat penyakit jantung yang dideritanya. Ironisnya, tujuh tahun setelah wafatnya, lagu yang ia ciptakan menjadi lagu kebangsaan Indonesia yang dikumandangkan saat proklamasi kemerdekaan 1945.

Penghargaan atas Jasa WR Supratman

Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Anumerta Kelas III kepada WR Supratman pada 17 Agustus 1960. Kemudian, pada Mei 1971, ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Kini, kisah hidupnya diabadikan di Museum Rumah WR Supratman, Jalan Mangga No. 21, Tambaksari, Surabaya. Di depan museum, berdiri patung Supratman yang tengah memainkan biola di samping bendera Merah Putih — simbol abadi perjuangan dan semangat nasionalisme.

Warisan Abadi Sang Pencipta Indonesia Raya

Perjalanan hidup WR Supratman membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus di medan perang. Melalui musik, ia menggerakkan hati bangsa untuk bersatu. Semangatnya menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya bagi Indonesia.

“Segala sesuatu Tuhan ciptakan baik,” demikian pesan yang kerap dikaitkan dengan perjalanan hidupnya. Bahwa dalam setiap proses, tak ada yang sia-sia jika dilakukan dengan ketulusan dan keyakinan.

Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, sosok WR Supratman menjadi pengingat penting bahwa kebebasan dan kemerdekaan lahir dari keberanian satu individu untuk bermimpi besar — dan menjadikannya nyata melalui karya yang menggugah jiwa bangsa.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#lagu kebangsaan #indonesia raya #wr supratman #sumpah pemuda