BLITAR-Menteri Keuangan kembali menegaskan optimisme pemerintah menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Dalam sebuah forum dialog yang juga disiarkan melalui media digital, ia menyampaikan pentingnya transformasi ekonomi agar Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap atau jebakan kelas menengah yang membuat negara berhenti berkembang.
Menteri mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar janji kampanye. Ia mengakui target itu sempat dianggap mustahil, bahkan dirinya pun dulu sempat ikut tertawa mendengarnya. Namun, setelah mempelajari pengalaman negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, hingga Taiwan, ia yakin percepatan pertumbuhan adalah keniscayaan jika strategi dilakukan dengan tepat.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 8 persen adalah syarat agar Indonesia naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju. Jika tetap berada pada kisaran 5 persen seperti dua dekade terakhir, Indonesia akan terus tertinggal dari negara-negara lain.
Era Baru Optimisme Ekonomi
Dalam acara tersebut, sang menteri menyampaikan suasana masyarakat kini mulai berubah. Aksi protes yang dulu marak dinilai menurun dan perhatian publik beralih ke ruang digital, termasuk TikTok yang disebutnya sebagai sumber masukan rakyat.
Dengan gaya bicara yang santai namun lugas, ia mengaku sering membaca komentar-komentar publik untuk menyerap aspirasi langsung dari masyarakat. "Kadang banyak masukan menarik," ujarnya sambil disambut tawa audiens.
Menteri pun menegaskan bahwa meski baru sebulan bekerja, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan arah perbaikan. Ia menyebut kinerja indeks saham yang kembali menguat sebagai sinyal kepercayaan investor yang meningkat.
Belajar dari Sejarah Negara Maju
Sang menteri mengungkapkan bahwa negara-negara yang kini berstatus maju selalu memiliki periode pertumbuhan ekonomi dua digit selama lebih dari satu dekade.
Pada kunjungannya ke Jepang tahun 2015, ia berdiskusi dengan para ahli ekonomi yang pernah mengawal kebangkitan Negeri Sakura. “Awalnya saya tidak percaya mereka pernah tumbuh dua digit. Tapi setelah melihat datanya langsung, saya menyadari semua negara maju melalui fase percepatan dramatis,” katanya.
Hal serupa terjadi pada Tiongkok dan Korea Selatan yang mempercepat transformasi ekonomi dari berbasis pertanian menuju industri manufaktur dan teknologi.
Indonesia sejatinya pernah berada di jalur yang sama pada masa Orde Baru, namun stagnasi pertumbuhan pasca krisis 1998 membuat transformasi itu terhenti.
Indonesia Perlu Strategi Pembangunan Tepat Sasaran
Menteri menyebut strategi pembangunan di era Prabowo memiliki kemiripan dengan konsep ekonomi Sumitro Djojohadikusumo yang dikenal dengan “trilogi pembangunan”: pertumbuhan tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis.
Ia menilai kebijakan populis yang dijalankan pemerintahan seperti program makan bergizi gratis (MBG) dan sekolah rakyat bukanlah pemborosan, melainkan bentuk pemerataan yang memperkuat stabilitas. “Trickle down effect dulu tidak selalu turun ke bawah, karena itu intervensi langsung diperlukan,” katanya.
Menurutnya, pertumbuhan hanya akan berarti bila manfaatnya dirasakan seluruh warga. Pemerataan akan memperkuat daya beli, sedangkan daya beli yang kuat menjadi bahan bakar ekonomi berkelanjutan.
Transformasi sebagai Kunci Lompatan
Lebih jauh ia memaparkan bahwa transformasi harus mencakup peningkatan kualitas inovasi, keterbukaan pasar global, serta penguatan sektor industri sebagai motor ekspor. Hal yang sama dilakukan Vietnam yang kini mulai mendekati Indonesia dalam persaingan ekonomi.
“Itulah pelajaran dari masa lalu. Jika kita ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, maka pertumbuhan harus lebih cepat dan lebih berkualitas,” tegasnya.
Di akhir pemaparannya, ia meminta dukungan publik dan mengingatkan pentingnya menjaga optimisme. “Kalau kita tetap tumbuh pelan, kita akan selalu membanggakan posisi tertinggi di G20 sebagai negara tertinggal. Kita harus berani mengejar yang maju.”
Harapan besar kini diberikan kepada pemerintah baru agar target pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak hanya menjadi retorika politik, melainkan kenyataan yang mengubah masa depan Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.