BLITAR – Keputusan seorang mantan pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Keuangan untuk mengundurkan diri di akhir tahun 2022 mencuri perhatian publik. Melalui kanal YouTube pribadinya, ia mengungkap alasan di balik langkah besar yang diambilnya setelah hampir satu dekade mengabdi di instansi bergengsi tersebut. Dalam video berdurasi belasan menit itu, pria tersebut menjelaskan bahwa keputusan keluar dari status PNS bukan karena gaji, lingkungan kerja, atau jabatan, melainkan karena tiga hal penting: integritas, waktu, dan kebebasan.
Tinggalkan Jabatan dan Penghasilan Mapan
Menurut pengakuannya, pekerjaan di Kementerian Keuangan memberinya kenyamanan dan kestabilan finansial. Ia bahkan mengakui bahwa citra “Kemenkeu Sultan” bukan sekadar mitos—pendapatan di instansi itu tergolong tinggi dibandingkan lembaga pemerintah lainnya.
Namun, meski menikmati gaji dan karier yang menjanjikan, ia merasa sudah saatnya berhenti. “Manusia akan hidup aman selama tahu kapan harus memulai dan kapan harus berhenti,” ujarnya.
Ia menegaskan, keputusannya bukan karena lingkungan kerja yang toksik. Justru sebaliknya, ia bersyukur mendapat rekan dan atasan yang suportif selama hampir sepuluh tahun bekerja di bidang kehumasan dan media digital. “Saya belajar banyak hal dari orang-orang luar biasa di sana. Saya bisa jadi seperti sekarang karena pengalaman itu,” katanya.
Profesionalitas dan Potensi Konflik Kepentingan
Salah satu alasan utama pengunduran dirinya adalah profesionalitas dan integritas.
Sejak pandemi, ia mulai aktif di YouTube dengan membuat konten seputar videografi, sinematografi, dan dunia kreatif. Kanal itu berkembang pesat, hingga membuatnya berpikir dua kali tentang potensi konflik kepentingan antara karier sebagai PNS dan profesinya sebagai kreator digital.
“Saya sadar cepat atau lambat akan ada titik benturan antara pekerjaan di instansi pemerintah dan aktivitas di media sosial,” tuturnya. Ia menilai, sebagai abdi negara, ada etika dan aturan yang harus dijaga. Karena itu, ia memilih mundur sebelum hal tersebut menjadi masalah.
Tak Bisa Menukar Waktu dengan Uang
Alasan kedua yang tak kalah kuat adalah waktu. Ia mengaku sulit membagi waktu antara pekerjaan kantor, pembuatan konten, dan peran sebagai suami serta ayah.
“Uang sebanyak apa pun tidak bisa membeli waktu yang hilang,” ujarnya tegas. Ia menyesal ketika waktu bersama keluarga harus dikorbankan demi rutinitas kerja dan tanggung jawab ganda sebagai PNS sekaligus YouTuber.
Baginya, waktu bersama anak di masa tumbuh kembang merupakan hal yang tak ternilai. “Setiap manusia butuh jaminan, tapi yang paling dibutuhkan manusia sebenarnya adalah waktu,” katanya.
Kebebasan Jadi Harga yang Mahal
Selain integritas dan waktu, faktor kebebasan juga mendorongnya mengambil keputusan besar itu. Setelah tidak lagi terikat status PNS, ia merasa lebih leluasa dalam berkarya dan menyuarakan hal-hal yang penting bagi masyarakat.
“Setiap profesi punya aturan dan batasan etika. Saya tidak menentang itu, tapi ketika status saya bukan lagi PNS, saya bisa lebih bebas mengungkapkan opini dan isu publik tanpa khawatir melanggar aturan,” ungkapnya.
Ia menilai, kebebasan adalah “kemewahan” yang tidak bisa dibeli. Kini, ia merasa menjadi manusia merdeka. “Saya bisa bangun jam berapa pun, antar anak ke sekolah, bantu istri, dan tetap produktif. Itu kebahagiaan yang tak bisa digantikan gaji tetap,” tambahnya.
Risiko Kehilangan Jaminan Hidup
Meski menikmati kehidupan baru, ia mengakui keputusan ini penuh risiko. Dengan melepas status PNS, ia kehilangan jaminan dan kepastian hidup. Tidak ada lagi gaji tetap, tunjangan, maupun perlindungan saat kondisi ekonomi tidak stabil. “Kalau dulu saat pandemi, saya bisa tenang karena PNS jarang di-PHK. Sekarang, semua tergantung rezeki,” katanya.
Namun begitu, ia menegaskan tidak menyesal. Justru keputusan itu membuatnya semakin menghargai waktu, kebebasan, dan kesempatan untuk berkarya. “Menjadi PNS bukan hal buruk. Banyak hal yang saya pelajari dari birokrasi. Tapi hidup setiap orang berbeda, dan ini pilihan saya,” tutupnya.
Melalui pengakuan ini, ia mengingatkan publik bahwa pekerjaan sebagai aparatur sipil negara bukan satu-satunya jalan menuju stabilitas hidup. Yang terpenting, kata dia, adalah tahu kapan berhenti dan berani mengambil keputusan sesuai nilai yang diyakini.
Editor : Anggi Septian A.P.