BLITAR KAWENTAR – Pencairan berbagai bantuan sosial (bansos) dari pemerintah terus menjadi sorotan masyarakat.
Pasalnya, meski sebagian keluarga penerima manfaat (KPM) sudah merasakan cairnya bansos PKH dan BPNT tahap 4, masih banyak yang mengeluhkan saldo Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) mereka belum juga terisi.
Fenomena ini diulas tuntas oleh Sukron Channel melalui video terbarunya yang menyoroti update pencairan bansos reguler dan tambahan di bulan November 2025.
Dalam videonya, Sukron menjelaskan bahwa bantuan sosial reguler seperti PKH dan BPNT memang sedang dalam proses pencairan bertahap. Namun, tak semua penerima langsung mendapat dana.
“Ada KPM yang sudah menerima di KKS baru, tapi banyak juga yang belum masuk karena proses cek rekening masih berjalan,” ujarnya.
Sukron menambahkan, BLT Kesra dan penyaluran bantuan tambahan juga masih berlangsung dan sebagian besar sudah mulai terdistribusi, termasuk bantuan beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter untuk penerima BPNT.
Banyak Bansos Cair di November, tapi Tidak Semua Dapat
Menurut Sukron, bulan November ini bisa disebut sebagai “musim hujan bansos.” Sebab, berbagai jenis bantuan mulai disalurkan bersamaan.
Tak hanya PKH dan BPNT, BLT Dana Desa, bantuan permakanan, dan Program Indonesia Pintar (PIP) juga sedang digulirkan.
Namun, tidak semua KPM bisa menikmati bansos tambahan seperti BLT Kesra senilai Rp900 ribu.
“Bantuan itu hanya untuk mereka yang berada di desil 1 sampai 4. Kalau sudah masuk desil 6 sampai 10, besar kemungkinan sudah tidak dapat lagi karena sistem menganggap ekonomi penerima membaik,” jelasnya.
Sukron juga menegaskan bahwa bansos bersifat sementara, bukan untuk diandalkan seumur hidup. Ia mengingatkan agar masyarakat penerima bantuan memanfaatkan dana tersebut secara produktif.
“Kalau bisa, sisihkan untuk modal usaha kecil. Karena mulai tahun 2026 nanti, banyak penerima PKH akan ‘graduasi’, terutama yang usia produktif. Pemerintah membatasi penerimaan maksimal 5 tahun,” katanya.
Lima Penyebab Saldo KKS Belum Terisi
Dalam ulasan lanjutannya, Sukron menyebutkan lima penyebab utama saldo bansos belum masuk ke rekening KPM, yaitu:
1. Proses pencairan bertahap. Dana belum masuk karena sistem masih dalam tahap cek rekening di bank penyalur.
2. Status SPM (Surat Perintah Membayar) belum final. Jika masih SPM atau proses bure, artinya belum bisa dipindahbukukan.
3. KKS baru peralihan dari PT Pos. Banyak penerima baru yang masih menunggu aktivasi kartu.
4. Data “exclude” di sistem SNG (Sistem Neraca Ganda). Artinya penerima sudah tidak memenuhi kriteria bantuan.
5. Kenaikan desil kesejahteraan. Jika desil meningkat ke 6–10, penerima otomatis dikeluarkan dari daftar.
Sukron menyarankan agar KPM rutin berkoordinasi dengan pendamping sosial di wilayah masing-masing untuk memantau status bansos.
“Kalau nama masih aktif di data SNG, berarti masih ada peluang bantuan cair. Tapi kalau sudah ‘exclude’, ya harus siap mandiri,” ucapnya.
Arah Kebijakan Baru: Dari Penerima Menuju Pemberdayaan
Pemerintah melalui Kementerian Sosial memang tengah menyiapkan kebijakan pemberdayaan ekonomi bagi penerima PKH aktif.
Program ini diarahkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan tunai.
“Sekarang sudah ada program PPSE (Pemberdayaan Pelaku Sosial Ekonomi) yang bisa diusulkan bagi penerima bansos yang punya usaha kecil,” terang Sukron.
Ia menutup videonya dengan pesan reflektif. “Gunakan bantuan itu dengan bijak. Jangan hanya untuk konsumsi, tapi jadikan sebagai batu loncatan menuju kemandirian. Karena pada akhirnya, bansos tidak akan selamanya ada.”
Dengan pencairan bansos yang masih berlangsung hingga akhir 2025, masyarakat diimbau untuk terus memantau status KKS mereka, tidak mudah panik, dan memanfaatkan bantuan untuk hal produktif.
Pemerintah berharap, melalui program graduasi dan pemberdayaan, masyarakat penerima bansos dapat bertransformasi menjadi mandiri secara ekonomi.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.