Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menguak Drama Sejak 1927! Dari Didirikan Lawan Penjajah Hingga Lolos Dualisme, Ini Sejarah Persebaya Surabaya dan 5 Legenda Abadi Bajul Ijo yang Wajib

Satria Wira Yudha Pratama • Senin, 17 November 2025 | 02:40 WIB
Photo
Photo

BLITAR  - Persebaya Surabaya bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol perlawanan, identitas kota, dan spirit yang mengakar kuat di hati jutaan pendukung. Berdiri sejak 1927, klub berjuluk Bajul Ijo ini telah melewati serangkaian babak dramatis, dari kejayaan di era Perserikatan, terjerumus dalam pusaran konflik dualisme, hingga kembali tegak sebagai salah satu raksasa di panggung Liga Indonesia. Menilik kembali perjalanan ini adalah sebuah keharusan, terutama bagi para Bonek dan pemerhati bola nasional.

Kisah Sejarah Persebaya dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada 18 Juni 1927, klub ini didirikan dengan nama awal Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pendirian SIVB yang dipelopori oleh M. Pamuji dan Pak Ijo, seorang Residen Surabaya saat itu, memiliki tujuan politis sekaligus olahraga: menyediakan wadah bagi pemain pribumi untuk menandingi dominasi klub Belanda, Soerabajasche Voetbal Bond (SVB). Oleh karena itu, SIVB sejak awal bukan hanya tentang tendangan bola, tetapi juga simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Dari SIVB Menjadi Persebaya: Peran Sentral dalam PSSI
Semangat nasionalisme yang dibawa SIVB semakin menguat ketika pada 19 April 1930, klub ini menjadi salah satu klub pelopor pendirian Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Societeit Hadiprojo, Yogyakarta. Bersama klub-klub lain seperti VIJ Jakarta (Persija) dan BIVB Bandung (Persib), keikutsertaan SIVB menunjukkan komitmen kuat klub Surabaya ini dalam penyusunan dasar organisasi yang mempersatukan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa.

Perubahan nama klub terjadi pada 1938, di bawah kepemimpinan Dr. Soewandi, SIVB berganti menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaia (Persbaya), sebelum akhirnya menjadi Persatuan Sepak Bola Surabaya atau Persebaya pada 1959, nama yang bertahan hingga kini.

Di era Perserikatan, Persebaya mengukuhkan diri sebagai raksasa. Mereka berhasil memenangkan kompetisi pada musim 1951, 1952, 1978, dan 1987-1988, serta lima kali menjadi runner-up. Transisi ke Liga Indonesia pada 1994 juga membawa dinamika. Meskipun sempat mengalami degradasi pada musim 2002, Bajul Ijo langsung bangkit menjadi juara Divisi 1 pada 2003, dan puncaknya menjuarai Divisi Utama pada musim 2004.

Masa Kelam Dualisme dan Kebangkitan Bonek
Periode antara 2010 hingga 2017 adalah masa paling sulit dalam sejarah Persebaya. Klub ini terjerumus dalam konflik dualisme yang menyebabkan keanggotaannya di PSSI sempat dibekukan. Klub kemudian harus berkompetisi di luar Liga resmi dengan nama Persebaya 1927. Kondisi ini memecah basis suporter dan menyulitkan operasional klub secara normal.

Namun, di tengah badai, loyalitas pendukung Bonek menjadi penentu. Dengan semangat tanpa henti, Bonek menjadi penggerak utama kebangkitan klub. Momen bersejarah itu tiba pada 8 Januari 2017 melalui Kongres Tahunan PSSI di Bandung, ketika status keanggotaan Persebaya dipulihkan. Ini menandai kembalinya Bajul Ijo ke panggung utama.

Kembalinya Persebaya ditandai dengan kemenangan dramatis. Di Liga 2 musim 2017, mereka berhasil menjadi juara dan sukses promosi ke Liga 1. Sejak saat itu, Persebaya terus konsisten menjadi tim kompetitif di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Peran Bonek, dengan kreativitas koreografi, chants, dan aksi solidaritasnya, diakui sangat krusial, bahkan menjadi inspirasi bagi suporter klub lain.

Lima Legenda Abadi Persebaya
Perjalanan panjang ini melahirkan banyak pahlawan. Dalam Sejarah Persebaya, terdapat lima nama pemain yang dianggap sebagai legenda sejati:

Mustaqim: Striker tajam era 1980-an yang memimpin Persebaya meraih gelar Perserikatan 1987–1988 dan meraih medali perunggu bersama Timnas Indonesia di Sea Games 1989.

Yusuf Ekodono: Pemain dengan kemampuan individu luar biasa, kunci sukses gelar Perserikatan 1987–1988 dan Liga Indonesia 1996–1997, serta peraih medali emas Sea Games 1991.

Jackson F. Tiago: Striker asal Brasil, salah satu pemain asing terbaik yang membawa gelar Liga Indonesia 1996–1997, dan kemudian membawa Persebaya juara Liga Indonesia 2004 sebagai pelatih.

Carlos de Mello: Playmaker flamboyan asal Brasil yang menjadi otak permainan Bajul Ijo di era 1990-an, membantu meraih gelar Liga Indonesia 1996–1997.

Bejo Sugiantoro: Bek legendaris yang menjadi andalan bertahun-tahun, meraih gelar Liga Indonesia 1996–1997 dan 2004, dan memiliki kiprah gemilang di Timnas Indonesia.

Para legenda ini tidak hanya memberikan prestasi, tetapi juga menjadi tolok ukur abadi bagi generasi pemain muda. Warisan sejarah perjalanan penuh warna dan para pemain legendaris ini menjadikan Persebaya Surabaya sebagai ikon sepak bola Indonesia dan kebanggaan Kota Pahlawan.(*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#bonek #sejarah persebaya #Sejarah Klub #legenda persebaya #persebaya surabaya