Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Terbongkar! Kisah Gila Persebaya, Klub Pendiri PSSI yang Nyaris Hilang Ditelan Dualisme: Siapa Paijo dan Pamuji? Mengapa Bajul Ijo Dibuang ke Liga 2?

Satria Wira Yudha Pratama • Senin, 17 November 2025 | 02:15 WIB
Bongkar lengkap Sejarah Persebaya Surabaya! Klub pendiri PSSI ini 6x Juara Perserikatan, lalu nyaris hancur oleh dualisme.
Bongkar lengkap Sejarah Persebaya Surabaya! Klub pendiri PSSI ini 6x Juara Perserikatan, lalu nyaris hancur oleh dualisme.

BLITAR  - Klub Persebaya Surabaya bukan sekadar entitas sepak bola; ia adalah kapsul waktu yang menyimpan narasi panjang perjuangan, kejayaan, dan kebangkitan di kancah nasional. Didirikan pada 18 Juni 1927, kisah Bajul Ijo dimulai sebagai simbol perlawanan dan wadah bagi masyarakat pribumi Surabaya yang ingin bermain bola, menantang dominasi klub-klub kolonial.

Pendirian klub yang saat itu bernama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diprakarsai oleh dua tokoh kunci, Paijo dan M. Pamuji. Kehadiran SIVB pada dasarnya adalah tandingan dari Soerabajasche Voetbal Bond (SVB), klub yang lebih dulu berdiri pada 1910, namun didominasi oleh komunitas Belanda. SIVB dengan cepat menjadi simbol identitas masyarakat Surabaya dan cikal bakal Sejarah Persebaya Surabaya yang kita kenal kini.

SIVB: Pelopor dan Pendiri PSSI
Hanya selang tiga tahun setelah berdiri, SIVB mengukir tinta emas dalam sejarah persepakbolaan nasional. Klub ini merupakan satu dari tujuh klub pelopor yang bersepakat mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930. Peran Persebaya (saat itu SIVB) dalam pembentukan organisasi induk sepak bola Indonesia menunjukkan betapa sentralnya posisi klub ini sejak awal.

Perjalanan identitas klub pun berganti seiring perkembangan zaman. SIVB bertransformasi menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Surabaya) pada 1943. Tujuh belas tahun kemudian, nama itu kembali berubah dan mengukuh menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya), nama yang melegenda hingga saat ini.

Raksasa Era Perserikatan dan Liga Indonesia
Setelah PSSI berdiri, kompetisi Perserikatan pun dimulai. Persebaya mencatatkan rekor manis di era ini dengan meraih gelar juara sebanyak enam kali. Kemenangan ini didapatkan pada tahun-tahun: 1941, 1950, 1951, 1952, 1978, dan 1987-1988. Rangkaian gelar ini menegaskan status Persebaya sebagai salah satu kekuatan utama dan raksasa sepak bola nasional.

Ketika era Liga Indonesia dimulai, semangat juang Bajul Ijo tak pudar. Mereka berhasil merengkuh dua gelar juara bergengsi pada musim 1996-1997 dan 2004. Bahkan, Persebaya nyaris menambah koleksi trofi pada musim 1998, sayang kompetisi harus dihentikan mendadak akibat gejolak politik yang melanda Indonesia. Keperkasaan Persebaya di berbagai era menjadi bukti konsistensi dan kualitas klub kebanggaan Arek Suroboyo ini.

Masa Kelam dan Tragedi Dualisme
Setelah mencapai puncak kejayaan pada 2004, Persebaya sempat tenggelam dalam masa sulit di tengah era Liga Indonesia. Puncaknya, klub mundur di pertengahan kompetisi musim 2005. Keputusan tersebut berbuah hukuman berat, memaksa Persebaya harus terdegradasi ke Divisi 1. Meskipun sempat kembali ke kasta tertinggi pada 2008, masa-masa kelam itu belum berakhir.

Pada musim 2009-2010, Sejarah Persebaya Surabaya kembali diuji oleh tragedi dualisme yang melanda persepakbolaan nasional. Dalam pusaran konflik ini, muncul dua entitas, di mana salah satunya adalah Persebaya 1927 yang mendapat dukungan penuh dari seluruh suporter setia, Bonek. Persebaya 1927 saat itu memilih bermain di Liga Primer Indonesia (LPI) yang statusnya tidak diakui oleh PSSI. Persebaya 1927 bahkan berhasil menjuarai LPI pada 2011. Sementara itu, klub lain yang juga sempat memakai nama Persebaya akhirnya bermetamorfosis menjadi Bhayangkara FC.

Kebangkitan Sang Legenda di Gelora Bung Tomo
Puncak perjuangan dan penantian panjang para suporter terjadi pada 2017. Melalui kongres di Bandung, PSSI akhirnya mengakui status sah Persebaya 1927. Pengakuan ini memungkinkan klub asal Jawa Timur ini kembali menggunakan nama Persebaya. Namun, untuk kembali ke kasta tertinggi, Bajul Ijo harus memulai dari Liga 2.

Perjuangan di Liga 2 terbayar tuntas. Hanya dalam satu musim, Persebaya berhasil naik kasta ke Liga 1 pada 2018 dan konsisten bertahan hingga sekarang. Kebangkitan ini menjadi salah satu kisah comeback terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia, yang tidak lepas dari semangat militansi Bonek.

Saat ini, Persebaya bermarkas di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Stadion serbaguna yang dibuka pada 6 Agustus 2010 ini merupakan bagian dari Kompleks Olahraga Surabaya Sport Center. Dengan kapasitas mencapai 46.806 penonton, stadion ini dinamai untuk menghormati pahlawan nasional dari Surabaya, Sutomo atau Bung Tomo. GBT kini menjadi saksi bisu, sekaligus rumah, bagi perjuangan lanjutan klub pendiri PSSI tersebut.(*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#PSSI #persebaya #sejarah persebaya #legenda persebaya #persebaya surabaya